
Andre duduk di sofa ruang tengah apartemen. Pria itu menatap heran wanita yang sudah sah menjadi istri nya.
Akhir akhir ini Andre merasa ada yang beda dari Nara. Wanita itu berubah drastis, sejak 1 Minggu yang lalu.
Awal nya , Nara sangat takut padanya. Lalu, Nara mulai berani melawan dirinya. Dan sekarang, Nara cuek seakan tak perduli lagi padanya.
Andre merasa Nara sungguh luar biasa, memiliki kejutan dan mengundang rasa penasaran di dalam dirinya.
Ceklek.
Pandangan mata Andre langsung tertuju ke arah pintu. Dimana Nara muncul setelah pintu terbuka, lalu tertutup kembali.
"Dari mana saja kamu?"
Nara berjalan lurus, melewati Andre dan mengacuhkan pertanyaan dari pria itu.
"Nara! apa kamu tuli? saya bertanya pada mu!" teriak Andre, Nara menghentikan langkahnya. Lalu, berbalik menatap Andre.
"Keman apun aku pergi, itu bukan urusan mu!"
"Wah, apa kau ingin menjadi istri durhaka?"balas Andre dengan mata melotot.
"Cih" Nara tertawa renya.
"Istri? Sekarang kau sudah menganggap ku sebagai istri mu?" Nara semakin tertawa, tapi tawanya seakan meledek ucapan Andre.
"Sorry yah, aku bukan wanita lemah lagi.Aku memang jelek, buruk rupa, selalu mengejar dan berharap kamu cintai. Tap maaf... maaf banget! Aku tak lagi sama" sambung Nara panjang lebar.
"Kau tidak menyukai ku lagi?"
"Pikir saja sendiri " Nara berbalik pergi masuk ke dalam kamar nya. Meninggalkan Andre yang menatap nya dengan tatapan sulit di artikan.
"Kau berhenti mencintai ku?" gumam nya seakan tidak terima kalau Nara tidak mencintai nya lagi.
Blam.
Nara menutup pintu kamarnya dengan keras. Setelah mengunci pintu, barulah wanita itu ambruk di lantai. Air matanya langsung menyusul Isak tangis yang seketika muncul.
Malam itu, lagi lagi Nara habis kan dengan menangis sepanjang malam, seperti malam malam 7 hari yang telah lewat.
...----------------...
Di kamar nya, Andre merasa heran. Mengapa Nara terlihat begitu membencinya. Padahal sebelum nya, mereka masih saling bicara, meskipun dalam sebuah perdebatan.
"Kenapa aku yang uring uringan?" pikir Andre, ia merasa gelisah dengan perubahan sikap Nara.
Andre melihat jam dinding ruang tamu nya, terlihat di sana pukul 10 malam.
"Huh, Dika sudah berpihak pada Nara. Papa apalagi, siapa yang akan berpihak padaku??"
Andre keluar dari apartemen, tanpa berpikir keman arah tujuannya, ia melajukan mobil.
"Huh! masa malam begini macet!" ucap Andre sambil memukul stir mobil nya.
25 menit berlalu,Andre tiba di sebuah club' malam. Semenjak berpacaran dengan Reni, Andre sudah tidak lagi pergi ke klub.
Andre duduk sendirian, memesan minuman yang biasa ia minum.
"Hallo honey, apa kabar. Kok kamu baru muncul?" sapa Dita, pemilik bar.
"Arrgg..Aku banyak urusan, sampai tidak sempat kesini" jawab Andre setelah meneguk wine.
"Apa yang kamu butuhkan sayang? apa kamu mau kita bermain malam ini?" tawar Dita.
Andre hendak menjawab, tapi tiba-tiba mata nya menyipit melihat kearah meja sudut ruangan bar.
Tak kunjung di jawab oleh Andre, Dita menatapnya heran. Lalu wanita malam itu mengikuti arah pandangan mata Andre.
"Kau kenal wanita itu? dia adalah pelanggan yang sering bergonta ganti pria. Tapi, pria yang ia kencani kaya kaya semua" ucap Dita setengah berbisik.
"Sejak kapan kau melihatnya di sini?" tanya Andre, matanya masih belum beralih dari pemandangan sudut ruangan itu.
"Sejak kamu gak ke sini, aku jadi sering melihat nya datang ke sini" jawab Dita mengira ngira.
Tangan Andre mengepal, ia meraih sebotol wine yang masih terisi setengah. Andre meneguk habis wine itu,lalu berdiri dari duduk nya.
Prank!!
Semua orang terkejut, begitu pun dengan dua orang yang sedang bercumbu di sudut ruangan bar itu.
"Andre?" pekik Reni dalam hati.
"Ohh, jadi ini yang Lo lakuin di belakang gue huh?" Andre melangkah ke depan meja mereka berdua.
"Heh bro, Lo mabuk yah?" ucap pria itu menatap tidak suka pada Andre. Kegiatan panas nya jadi terganggu karena pria ini.
"Andre" gumam Reni.
"Honey, kamu kenal dia?" heran pria itu.
Reni jadi panik, kedua orang ini adalah sumber uang bagi dirinya.
"Cih! gue gak nyangka selama ini gue percaya sama wanita sebusuk Lo!" tekan Andre, di dalam kata katanya tersirat nada kecewa.
"Andre, aku bisa jelasin. Aku-"
Andre menepis tangan Reni, ia merasa jijik di sentuh oleh wanita seperti nya.
"Tidak perlu penjelasan! Pergi saja kau jauh jauh! aku tidak butuh wanita seperti Lo!"
"Heh, maksud Lo apa huh?" pria yang bersama Reni tadi tidak terima Reni di Katai seperti itu.
Andre menatap pria itu, lalu tersenyum miring.
"Lo jangan mau terpedaya sama wanita kotor ini, dia hanya mau uang Lo aja. Jika Lo gak ada uang, maka dia akan meninggalkan Lo!"
"Cukup Andre!!" teriak Reni.Ia tidak akan membiarkan Andre merusak namanya.
"Kenapa? Lo takut gak ada pemasukan lagi???" Andre tertawa renyah, lalu pergi dari hadapan Reni dan juga semua orang yang ada di sana. Mereka menatap heran pada mereka bertiga.
Dita yang mengerti apa yang terjadi, langsung menyuruh pegawainya membersihkan pecahan kaca, lalu ia mengejar Andre.
"Andre, tunggu " panggil Dita. Tapi Andre tidak mendengar nya.
Andre mengambil kunci mobilnya, lalu pergi dari sana.
Di depan pintu masuk bar, Andre berhadapan dengan Dika. Ternyata pria itu melihat semua kekacauan ini.
"Lo di sini" sapa Andre dengan nada datar.
Sejak Dika marah karena Andre mensia siakan Nara, sejak saat itulah hubungan persahabatan mereka menjadi canggung.
"Gue lihat semuanya " sahut Dika.
"Baguslah" lirih Andre, ia hendak pergi melewati Dika. Tapi, pria itu malah menghentikan nya.
"Ikut gue, gue akan memberitahu Lo yang sebenarnya "
Dika menarik tangan Andre, lalu membawanya pergi dari bar.
"Yah, dia pergi!" gumam Dita. ia hendak bertanya pada Andre, apa hubungannya dengan wanita itu.
"Usir wanita itu, dan jangan biarkan dia masuk lagi ke sini!" tegas Dita pada anak buahnya yang bertugas sebagai pengaman di sini.
4 orang pengawal langsung menghampiri Reni yang sibuk membujuk pria nya.
"Maaf nona,anda di mintai segera keluar dari sini!"
"Apa? kenapa saya di usir? tidak sopan sekali kalian!" bentak Reni, saking kuatnya, suaranya menarik perhatian orang lain.
"Tapi, kami di perintahkan untuk membawa anda keluar nona" ucap pengawal itu lagi.
"Enak saja! aku tidak mau." Reni menatap pada pria yang masih tidak mau bicara dengan nya. "Beb, lihat lah, mereka mau mengusirku!"
Reni terus merengek, tapi pria itu malah diam saja. Reni menggeleng ketika keempat pengawal itu menyeretnya keluar. Reni tidak mau di blokir dari klub ini.
Menurut Reni, klub ini merupakan tempat orang orang kaya minum.Ia tidak akan mensia siakan tempat ini.
"Anda harus keluar, dan tidak boleh datang ke sini lagi nona!" peringat pengawal yang sejak tadi berbicara!.