
"Jadi, sekarang Vivi udah di rumah?" tanyaku.
Kak Rian hanya bergumam sembari membuka seragam sekolahnya dan menyisakan kaos putih polos. Tanpa aba-aba lagi, ia masuk bilik toilet sebelah.
"Gila, Nay, bau banget! Emang gini, ya, kalau toilet cowok?" gerutunya dari sebelah.
Bibir ini membentuk bulan sabit mendengar ucapan kesal itu. Sembari menyiram beberapa sudut toilet yang kotor, lagi-lagi terdengar keluhan dari sebelah.
"Ah, gak tahan gue!" sahutnya.
"Lebih parah toilet cewek kali, Kak. Mungkin banyak yang ngira cewek itu bersih dalam hal buang air, tapi liat deh," seruku. Kak Rian menghampiri walau sebatas di depan pintu.
Mengedarkan pandangan ke sekitar lalu melirikku dengan satu alis yang sengaja ia naikkan.
"Heheh, udah bersih," ucapku, "tapi tadi tuh jorok banget. Banyak sampah pembalut tau, gak!"
"Doyan amat sih lu bahas pembalut, Nay. Pengin jadi duta pembalutkah?"
Tanganku menyilang membentuk X. "Ya enggaklah! Lagian, emang bener tadi tuh banyak sampah. Mulai dari bungkus pembalutnya, sampe bekas pembalutnya. Emang sih udah gak ber-blood, tapi tetep aja jorok!"
"Iya, iya. Udah bersih, 'kan? Ke kantin, yuk! Gue haus nih," ajaknya.
Tanpa menjawab ajakannya, aku berjalan melewati laki-laki itu menuju bilik tempat hukuman yang ia dapatkan. Kupikir toilet itu belum bersih, pasalnya, ia baru masuk ke sana dalam hitungan beberapa detik.
Kini, laki-laki itu berdiri tepat di belakangku.
"Gimana? Udah bersih, 'kan? ucapnya, dengan jarak sedekat ini, bisa kurasakan embusan napas itu di sekitar telinga.
Berbalik dan mendorong dada bidang itu agar memperlebar jarak.
"Kenapa?" tanyanya.
Dadaku bergerumuh, rasanya jantung ini terpompa dengan kencang hingga darahku terasa mengalir dengan cepat. Untuk menutupi rasa gugup, kudahului ia berjalan menuju kantin.
Saat merasa sudah lebih jauh darinya, barulah aku berseru, "Katanya mau ke kantin? Ayo!"
****
Kantin tidak sepadat biasanya, ini karena jam istirahat sudah lewat kurang lebih 10 menit lamanya. Saat fokus ke meja tempat biasa aku, Patricia, dan Dita duduk pun sudah terisi dengan anak-anak kelas lain.
"Nyari siapa?" tanya Kak Rian yang ternyata baru saja tiba di sebelahku.
Menggeleng. "Aku cuma ... lagi mikir, mau makan apa. Abis dihukum gara-gara dikira pacaran di perpustakaan itu ternyata bikin lapar banget."
"Sorry, ya."
"Santai aja, kali. Oh iya, makan di sana, yuk!" tunjukku pada meja kosong berada di ujung.
Aku dan Kak Rian duduk di sana sembari menunggu pesanan bakso datang. Entah kenapa, keadaan menjadi canggung, tidak seperti biasa. Rasanya ingin mengumpat, tetapi tidak enak juga. Mengumpat dalam hati pun rasanya tak lega.
Di meja yang tak jauh dariku, ada Syakira juga Martia. Mereka memang dekat sejak MOS hari pertama. Sayangnya, walaupun aku duduk sebangku dengan Syakira, aku tidak dapat begitu akrab dengan Martia. Tatapan sinis dan benci dari Martia selalu melayang ke arahku, membuat enggan juga tuk mengajaknya berbicara walau hanya sepatah kata.
"Melamun aja, lo! Tuh, bakso udah datang dari tadi malah dianggurin," ujar Kak Rian.
Cengengesan, karena tak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba, teringat lagi.
"Terus dari guru BK, Vivi gak apa-apa?"
Kak Rian mengangguk. "Lemot juga lu, ya. Kan guru BK yang nyuruh dia pulang, biar istirahat dulu."
"Masa, sih? Bukan diskors?"
"Dih, lu mah kebanyakan makan gosip," sahut Kak Rian sembari memasukkan bakso ke dalam mulutnya. "Mau gue suap, gak?" Begitulah katanya, walau terdengar tidak begitu jelas karena mulut penuh itu.
"Kali aja butuh perhatian," ujarnya.
Kalimat itu mampu membuatku bungkam, walau semuanya dapat kututupi dengan sempurna dengan raut wajah kesal di hadapan Kak Rian. Benar, kalimat itu memang benar. Aku haus akan perhatian dari mereka yang memaksa pergi karena tak ada rasa sayang sedikit pun. Mencoba ikhlas, walau kesal, marah, maupun sedih. Namun, untuk apa? Tidak ada yang peduli.
"Itu temen lu bukan, sih?" tanya Kak Rian, mata laki-laki itu fokus pada Syakira. "Yang biasanya bareng sama lu ke mana-mana."
"Bukan, itu mah kembarannya," jawabku.
"Masa? Gue pikir dia, soalnya temennya yang di depan dia itu ngelirik ke sini mulu. Lu ada utang kali sama dia," ucap Kak Rian.
Refleks, mataku terarah pada Martia. Yang benar saja, perempuan itu tidak melirik ke arahku, tetapi ke arah Kak Rian.
Kesal, kujitak kepala itu dengan kencang hingga ia mengaduh kesakitan.
"Lo kok jahat? Lebih jahat dari ibu tiri, lebih serem dari ibu kota," gerutunya.
"Bodo amat! Lu gak peka banget, sih! Dia tuh bukan liatin gue, tapi liatin lu!" sahutku.
"Lu sadar, gak? Tadi gue bilang dia ngelirik ke sini, bukan ngeliatin lu! Jangan kegeeran napa, sih!"
"Ih, tapi tadi ngomongnya seakan-akan ngeliatin gue! Kirain Kak Rian yang gak peka," ujarku kesal.
Laki-laki itu malah tersenyum sembari mencubit kedua pipi ini dengan gemas. Saking gemasnya, rasanya daging pipiku ingin keluar.
"Sakit, ****!"
"Lo tau, gak? Sejatinya, gak ada cowok yang gak peka. Kalau lo nemu cowok yang gak peka, itu bukan gak peka namanya, tapi menolak secara halus."
"Sok tau!" sahutku sembari bangkit dari duduk.
Niat berjalan menuju stan bakso untuk membayar, tetapi terhenti karena lutut ini mendarat ke lantai. Mendapat memar yang lumayan besar. Berusaha bangkit dan menatap orang di sebelahku.
"Lo sengaja?" bentakku.
"Apa?" jawab Martia dengan suara yang meninggi, lalu berdiri di hadapanku dengan tegap.
Dia masih juga bertanya, padahal jelas aku terjatuh tepat di depan mejanya karena kaki yang sengaja majukan untuk membuatku tersungkur.
"Lo kalau gak suka sama gue, gak gini caranya!"
Kupikir ia akan menjawab omonganku, sayangnya tidak. Rambutku sudah tertarik dengan kencang dan tubuh ini tertubruk pada tembok dengan keras. Kesal dan juga emosi, kubalas perempuan itu. Akhirnya adu tarik-tarik rambut juga dorong-dorongan terjadi. Rasanya mulai panas, di sekitar juga terlihat lumayan ramai.
Ah, aku tidak pernah punya masalah seperti ini.
Bu Silvia datang. Lagi-lagi aku harus berurusan dengannya.
"Kalian ini! Berhenti!" teriaknya sembari memisahkanku dan Martia. "Martia, udah berhenti!" lanjutnya lagi ketika Martia masih saja menarik rambutku.
Martia melepas tarikan itu sembari menata rambutnya yang acak-acakan. Menatap sinis ke arahku lalu beralih pada Bu Silvia.
"Aku doang yang dibentak? Mentang-mentang Nay anak orang kaya?" ucapnya dengan nada berteriak.
Mendengar itu, sekeliling menjadi sedikit ribut dengan bisik-bisik sembari menatap ke arahku. Ya, semua menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.
"Gak ada hubungannya, Martia!" seru Bu Silvia, "kalian berdua ikut Ibu ke ruang BK!"
"Anak haram," umpat Martia.
Walau tak mendengar dengan jelas, tetapi aku yakin ia berkata seperti itu padaku. Lalu, sembari berjalan mengikuti Bu Silvia, kucari keberadaan Kak Rian. Oh, laki-laki itu masih anteng duduk dengan semangkuk bakso di hadapannya.
Saat mata kita bertabrakan, ia hanya tersenyum sembari menaikkan dua alisnya beberapa kali. Mengejek. Sialan dia.