
"Aws...."
Andre tersadar dari pingsan, merasakan nyeri di kepala dan juga tangan nya yang terluka.
Darah yang sempat mencuat dari robekan kaca vas, terlihat sudah mengering.
Beberapa saat Andre terdiam, mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi.
"Nara?"
Andre segera bangkit, berlari keluar kamar tanpa memperdulikan bagaimana penampilan nya saat ini.
"Nara, aku ingat semuanya. aku ingat" gumam nya dalam hati, seulas senyum terukir di bibirnya.
Andre berlari sekencang mungkin, menekan tombol lift dengan tidak sabaran.
Orang orang yang juga satu gedung apartemen dengannya, menatap aneh.
Ting.
Andre segera berlari keluar dari dalam lift, mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku.
Saking tergesa gesah nya, Andre sempat menjatuhkan kunci mobilnya.
"Astaga!" geramnya kesal.
Mobil pun melaju, bak kesetanan Andre mengemudi dengan sangat laju. Ia ingin segera tiba di rumah nya.
Sesampainya di rumah, Andre langsung berteriak dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Nara!!!! Nara!!!!!"
"Nara!!!"
Nani dan Cika keluar, menghampiri Andre.
"Ada apa tuan? kenapa anda berteriak???"
"Nani, dimana Nara? aku ingin bertemu dengan nya"
Nani dan Cika saling berpandangan, melihat penampilan Andre yang sangat kacau. Bahkan pria itu tidak memakai alas kaki.
"Maaf tuan, tapi...."
"Nani cepat lah, beritahu aku di mana istri ku??"
"Tuan, nona sudah pergi." jawab Cika.
Deg.
"Kemana dia?"
"Nona akan melakukan operasi di kulit wajah nya tuan, dan setelah itu dia akan menuntut mu agar melakukan perceraian" jelas Cika.
Seketika jantung Andre terasa berhenti berdetak. Bukan soal operasi nya, tapi soal perceraian. Ia baru ingat bahwa kemarin Nara sudah memberikan nya surat perceraian.
"Aku sudah mengingat nya Nani, aku tidak mau bercerai dengan nya" lirih Andre panik.
"Tapi tuan, semuanya sudah terlambat" lirih Nani
Andre terhenyak di lantai, ia merasa tidak berdaya lagi. Menyalahkan dirinya yang sudah membuat Nara pergi.
"Nani....Aku sudah mengingat nya, aku sudah mengingatnya. Aku sangat mencintai nya Nani"
Wanita beda usia itu terkejut, melihat tuan muda yang angkuh dan keras kepala mengeluarkan air mata.
"Taun....Kenapa anda?"
"Nani, tolong bantu aku Nani. Aku mau bertemu dengan nya. Kau bisa antar aku kan" Mohon Andre sembari memegangi tangan Nani.
"Ba-baiklah tuan"
Cika melalakkan matanya, ia memegang lengan Nani.
"Kau sudah gila Nani? kita kan di lara-" ucapan Cika terheny, Nani menggeleng pelan.
"aku tidak tega melihat nya Cika, aku tidak bisa" lirih Nani. Kemudian membawa Andre ke rumah sakit.
"Ayo tuan, kita pergi"
...----------------...
Sedangkan di rumah sakit, Dika dan Bagas menunggu di ruang tunggu, dan Nara berada di dalam ruangan operasi bersama dokter Praider .
"Semoga semuanya lancar yah om"
"Iya Dika, om selalu berdoa yang terbaik untuk Nara"
Kedua pria beda usia itu sama sama menghela nafas. Beribu doa di ucapkan di dalam hati.
Tap tap tap...
Deru langkah kaki Andre dan Nani terdengar di lorong rumah sakit.
"Di sebelah mana ruangan nya Nani?" tanya Andre. Ia masih belum memakai alas kaki. Tadi sempat Nani ingatkan, tapi Andre malah tidak mau mendengarkan nya, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nara.
"Nah itu ruangan nya tuan" tunjuk Nani.
Mereka segera membuka pintu ruangan tunggu nomor 17 anggrek.
Ceklek.
Dika dan Bagas tercengang, mereka berdiri dan menatap Andre heran.
"Ngapain kamu di sini?" tanya bagas tegas.
Andre tidak peduli, ia mencari cari keberadaan Nara. Tapi, ia tidak melihat Nara di mana pun.
"Mana Nara?" tanya Andre
"Buat apa lagi Lo cari dia?" tanya Dika angkat bicara.
Ia menoleh, Andre baru sadar jika sahabat nya juga ada di sini.
"Kenapa Lo di sini?" tanya Andre sinis.
"Lo akan tahu mengapa gue di sini, jika Lo udah ingat semuanya!"
Andre terdiam, ia mencoba mengingat apa saja yang sudah di lupakan nya.
"Ohh aku lupa, kau sudah menganggap Nara seperti adik mu sendiri"
Deg.
Bagas dan Dika langsung kaget, Andre sudah mengingat semua nya.
"Kau ingat semuanya?" tanya Bagas kaget.
"Iya tuan, tuan muda sudah mengingat segalanya" jawab Nani.
Bagas tersentak, ia memperhatikan penampilan putranya. Kacau, sangat kacau.
"Kenapa kau tidak memakai sendal, atau apapun itu untuk menjadi alas kaki mu?"
"Aku tidak sempat memikirkan nya " jawab Andre seadanya.
"Di mana Nara?"
"Dia sedang dalam ruangan operasi " ketus Dika.
Fyuu ...
Andre terduduk di sofa, ia menatap papa nya.
"Maaf, sudah membuat papa kecewa"
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa" jawab Bagas.
"Lo udah sadar? tangan Lo terluka kenapa?" tanya Dika.
Andre melirik tangan nya, bahkan ia lupa akan perih luka di tangan nya.
"Aku juga tidak tau, kapan luka ini ada. Tapi yang aku ingat, aku terkejut karena luka, sehingga kepala ku terbentur. Ketika aku terbangun, aku hanya ingat Nara" jelas Andre menceritakan apa yang telah ia alami.
Bagas dan yang lain terlihat syok, mereka cukup terharu dengan apa yang Andre alami. setelah beberapa tahun, akhirnya Andre kembali mengingat semuanya.
Lalu Bagas mulai berpikir, apa Nara akan senang mengetahui semua ini????