
Gavin terus memandangi wajah Naya tanpa henti, hingga akhirnya Riana berdehem pelan membuat Gavin sadar kalau dia harus pergi.
"Gue titip Naya yah" pinta Gavin ketika akan keluar dari kamar Riana.
"Iyah, untuk sekarang jangan ganggu Naya dulu. Biarin dia disini dulu" pesan Riana dan Gavin pun mengangguk paham.
°°
Setelah pergi dari rumah Riana, Gavin memutuskan untuk pergi ke sekolah. Dia ingin bertemu dengan Luna, banyak pertanyaan yang sudah bersarang di kepalanya.
Sekitar dua puluh menit Gavin sudah sampai di sekolah, dia masuk tanpa memperdulikan satpam yang melongo melihatnya masuk begitu saja. Bahkan satpam pun tak bisa menghalangi seorang Gavin.
Gavin pergi ke kelas Naya yang juga merupakan kelas Luna, untung saja jam pelajaran kedua belum dimulai, jadi di kelas tersebut belum ada guru yang akan mengajar.
Gavin masuk dengan langkah cepat dan langsung menarik Luna dengan sedikit memaksa, Luna tahu ini akan terjadi. Dia sudah mempersiapkan dirinya, bahkan untuk kemungkinan terburuk.
Gavin membawa Luna ke sisi kelas yang tidak akan di lewati siapapun ketika jam pelajaran, sekarang mereka berdua tengah berhadapan. Gavin menatap Luna dengan tatapan intimidasi sedangkan Luna malah menatapnya dengan tatapan sendu.
"Ngapain lo pake nomer Laras?!"
"Vin gue ga maksud" elak Luna.
"Gue tanya ngapain lo pake nomer Laras?!!!" sentak Gavin membuat Luna tersentak dan langsung gemetar.
"Kenapa lo ga jawab pertanyaan gue?! Lo sengaja mau buat gue hancur hah?!"
"Gak Vin!! Gue udah bilang kalau gue bukan Laras tapi lo maksa gue buat dateng!!"
"Terus kenapa lo malah dateng? Lo tau gue ga butuh sama lo!! Tapi kenapa lo dateng satt!" sarkas Gavin membuat Luna meluruhkan tangisannya.
"Gue khawatir!! Gue khawatir sama lo Vin!! Terserah lo nganggep gue ada atau nggak, tapi gue ga mau lo kenapa-napa hikss!" lirih Luna dan langsung memeluk Gavin.
Gavin mendongak menatap ke atas, dia tidak tahu harus melakukan apa kalau Luna sudah menangis seperti ini. Melihat Luna menangis membuat nya teringat akan sosok Laras lagi, gadis cengeng yang selalu bergelayut padanya ketika merasa takut dan sedih.
"Lepasin, lepasin Lun. Lo tau gue ga bisa nyakitin lo karna Laras" pinta Gavin dengan nada pelan.
"Ga mau Vin! Gue sayang sama lo, bahkan untuk meluk lo kayak gini aja gue harus nunggu lo dateng ke gue"
Gavin mengusap wajahnya kasar, dia merasa frustasi. Dia menarik tangan Luna yang melingkar di perutnya tapi Luna malah menepisnya. Gavin memang tidak ingin berlaku kasar pada Luna, karena dia masih mengingat pesan Laras untuk tidak menyakiti Luna adiknya.
"Lepasin Lun!"
"Lo itu penghianat Vin! Ka Laras nyuruh Lo jagain gue tapi lo malah nikah sama cewek lain!" ujar Luna seraya mendongak menatap Gavin.
Gavin membuang pandangannya, dia bahkan tidak ingin melihat wajah Luna lama-lama lagi.
"Lo jangan gila Lun, gue ga cinta sama lo, sampai kapanpun ga akan! Gue tau Laras bakal marah sama gue saat ini karna udah nyakitin lo, tapi cinta ga bisa di paksaain Lun! Jadi gue mohon lepasin" pinta Gavin menekan setiap kata-katanya.
Setelah ucapan terus terang Gavin, akhirnya Luna melemahkan tautannya, benar kata Gavin cinta tak bisa di paksakan, karena hal itu hanya akan mendatangkan rasa sakit.
"Lun gue minta maaf karna udah nyakitin lo. Lo boleh nganggep gue apapun tapi lo ga boleh suka lagi sama gue. Gue sayang sama lo, tapi gue sayangnya ga lebih dari seorang kakak ke adeknya. Gue yakin lo bisa dapet orang yang lebih baik dari gue, gue yakin itu" ucap Gavin panjang lebar.
"Gue pergi" pamit Gavin seraya menepuk pelan pucuk kepala Luna.
Setelah kepergian Gavin, Luna langsung terkulai lemah di lantai. Bahkan tenaganya yang tersisa tak mampu menopang tubuhnya. Luna menangis sekencang-kencangnya, dia sudah tidak peduli jika ada yang mendengar tangisannya.
°°
Sudah dua hari Naya dan Gavin tidak bertemu, tentu saja mereka berdua sudah saling merindukan. Terlebih Gavin yang sama sekali tidak di izinkan Riana untuk bertemu dengan Naya lagi.
Kesehatan Naya saat ini sudah membaik dia sudah kembali seperti biasa hanya saja masih ada yang kurang, yaitu senyumnya. Akhir-akhir ini dia lebih sering melamun dan menghabiskan waktunya sendri. Naya juga tidak bisa bohong kalau dia sangat merindukan Gavin, dia ingin bertemu Gavin tapi dia masih enggan untuk kembali ke apartement.
Selama dua hari Naya izin sakit dan akhirnya hari ini dia kembali bersekolah, satu harapannya hari ini. Yaitu tidak bertemu Gavin, karena hatinya benar-benar belum siap.
°°
Seperti biasa saat jam istirahat Naya dan Riana pergi ke kantin, mereka berdua sempat melewati meja Bima dan Dean. Naya menghela nafasnya, bersyukur disitu tidak ada Gavin.
Naya dan Riana memilih duduk di pojok kantin dan tiba-tiba Bima dan Dean datang dan ikut duduk di meja mereka, tentu saja Naya kaget dan langsung menatap sinis pada Bima dan Dean.
"Hallo Nay" sapa Bima tapi Naya tak membalasnya.
"Lo masih marah banget yah sama Gavin?! Ga bisa apa di maapin dulu?!" bujuk Bima.
"Gavin sakit Nay" sela Dean, Naya yang tadinya fokus dengan mangkuk baksonya langsung menoleh sesaat pada Dean.
"Kayaknya bentar lagi dia mati dah, dia ga mau makan kalau bukan lo yang masakin, kemarin aja tuh anak gue sogok pake nasi padang Bu Tati masih ga mau, padahal itu makanan kesukaan dia" jelas Bima.
"Diem *****! Bu Tati nya ga perlu di sebut juga" timpal Dean.
"Tapi serius Nay, dia lagi sakit. Kalau lo ga percaya lo ikut aja bentar ke apart Dean. Tuh anak ga mau keluar kamar juga, kayaknya dia lagi latihan jadi batu dah" jelas Bima lagi.
"Lo daritadi ngasih penjelasan ga ada yang bener dah!!" ujar Dean mulai kesal dengan penjelasan unfaedah Bima, dan Bima malah membalasnya dengan cengiran tanpa dosa.
"Kalau lo mau jengukin Gavin, pulang sekolah ke kelas gue aja" titah Dean kemudian beranjak pergi dan Bima langsung mengekorinya.
Sedaritadi Naya diam, dia memang tidak menggubris setiap kalimat yang keluar dari mulut Bima dan Dean. Dia lebih sibuk dengan pikirannya yang mulai mengkhawatirkan Gavin.
"Udah Nay, jengukin aja. Siapa tau kalian baikan. Kan ga baik juga kalau marahannya terlalu lama" bujuk Riana seraya mengusap-ngusap lembut punggung Naya.
Naya terlihat berpikir sebentar kemudian mengangguk setuju dengan perkataan Riana, sepertinya saat ini dia harus menepis rasa egonya. Gavin lebih penting, dan dia tahu Gavin membutuhkannya saat ini.
•••
Like dan komen juseyo :)