Nayara

Nayara
Bab 33



"Nara, bagaimana kalo kita makan di sana?"


Merasa ucapan nya tidak di sahut oleh Nara, Praider menoleh, melihat Nara yang terdiam menatap kosong ke depan.


"Nara?"


"Eh iya dok?" kaget Nara ketika Praider memegang tangan nya secara tiba-tiba.


"Kamu melamun? apa memikirkan suami mu?"


"Tidak, aku tidak memikirkan nya" bantah Nara dengan gelagat grogi.


Praider bisa menebaknya, dari sorot mata Nara ketika melihat Andre. Wanita ini masih mencintai pria itu.


Hufff....


"Mungkin kau bisa membohongi diri mu sendiri Nara, tapi kau tidak bisa membohongi aku.". Nara menatap wajah Praider.


"Aku tahu, kau memikirkan Andre. Kau masih sangat mencintai nya kan?"


Nara tersenyum, ia kembali menatap kearah depan. Praider benar, ia memang memikirkan Andre. Jauh di lubuk hati nya, ia merasa sangat senang mendengar kabar Andre sudah mengingat semuanya.


"Meskipun aku memikirkan nya, keadaan tidak akan berubah dok. " lirih nya.


"Kenapa kamu melakukan ini Nara? kamu bisa memiliki Andre" Nara menggeleng, ia tidak akan melakukan hal itu.


"Aku tidak mau, anak yang di kandung wanita itu tidak memiliki ayah nantinya. "


"Tapi kau akan menderita Nara"


"Tidak dokter, anak itu akan jauh lebih menderita, aku sudah merasakan nya dokter. Bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua."


Deg.


Praider terdiam, ia baru tahu tentang hal ini.


"Aku sejak lahir sudah di panti asuhan dok, mendiang ayah dan ibu lah yang mengadopsi ku. Lalu di kenalkan pada keluarga Pangestu. Aku hanya melihat Andre, menyukainya, menyayanginya. Meskipun cuek, Andre selalu menjagaku. Dia membela ku ketik aku di ganggu oleh orang lain.Tapi-"


"Tapi apa?" sela Praider penasaran.


"Tapi, dia malah lupa tentang rasa itu. Rasa di mana dia menyadari hatinya juga untuk ku" sambung Nara.


Praider terdiam, melihat betapa menderitanya Nara. Membuat Ia tahu sakit yang wanita ini rasakan.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa Nara, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mu" kata Praider.


Nara tersenyum, " makasih" lirihnya.


Hari itu, mereka hanya berkeliling dan makan di restoran bintang 5. Setelah merasa lelah berjalan jalan, Praider mengantar Nara pulang ke rumah.


Sedangkan di kantor nya, Andre termenung di meja kerja. Ia tidak tahu harus bagaimana agar Nara percaya dan mau kembali ke sisinya.


Surat surat pengajuan perceraian tergeletak di atas meja.


"Huhhh!!! Nara!!! apa yang harus aku lakukan!!!" erangnya frustasi.


Tuk!!! Tuk!!!!


"Masuk!" seru Andre dari dalam. Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan nya terbuka dan menampakkan sosok Dika.


Andre melirik sekilas, ia malas pada Dika yang hanya mengomel dan mengomel saja.


"Apa belum cukup ceramah nya?" dengus Andre.


"Cih! kau ini, aku mengomel juga untuk kepentingan mu juga!"


"Aku sedang tidak mood!" balas Andre.


Dika duduk di depan meja kerja Andre, ia melihat ada berkas di atas meja Andre.


"Apa kau sudah menandatangani nya?"


Andre melirik berkas itu, ia tau apa yang di maksud oleh sahabat nya.


Hufffff haaaa....


"Aku tidak tahu dik, harus melakukan apa. Aku tidak mau melepasnya, aku juga tidak tahu bagaimana cara agar Nara mau kembali padaku"


Dika berpikir sejenak, lalu bersuara.


"Apa kau yakin tidak menghamilinya?"


"Tentu saja aku yakin, aku selalu memakai pengaman yang bagus. " jawab Andre cepat.


"Kau juga tahu kan, wanita itu sangat licik" sambung Andre.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya Dika"


"Dasar bodoh, di mana otak cerdas yang selalu kau banggakan dulu huh?"


"Cih, kau ini. Otak ku sudah sering tergoyang. Tentu saja otak ku sudah agak sedikit oleng."


"Alasan saja!" sela Dika.


Andre hanya bisa nyengir, ia merasa sedikit lega. Sahabat nya Dika sudah kembali seperti dulu.


Sejak hari itu, Andre dan Dika sibuk mencari bukti bukti tentang kebohongan Reni.


...----------------...


"Pa" Nara duduk di sebelah Bagas.


Bagas yang tengah membaca koran, langsung meletakkan koran nya, tersenyum hangat pada Nara.


"Eh Nara"


"Papa lagi sibuk kah?"


"Tidak sayang, ada apa?. Apa ada yang ingin kamu bicarakan?"


Nara diam, ia menundukkan kepalanya. Seolah sedang menyusun kata kata yang akan ia sampaikan.


"Katakan saja sayang, apa yang ingin kamu katakan?"


"Humm....Pa, besok sudah bisa kan persidangan di lakukan?"


Deg.


Bagas terdiam, sebenarnya ia sengaja mengulur ulur waktu, agar persidangan itu di tunda terus.


"Su-dah Nak, besok sudah bisa"


"Bagus lah" Nara bernafas lega.


"Nak, apa kamu yakin ingin bercerai dengan Andre? apa kamu tidak menyukainya lagi?"


Nara terdiam sejenak, ia meyakinkan dirinya.


"Yah pa, aku sudah yakin. Wanita itu jauh lebih membutuhkan Andre"


"Lalu bagaimana dengan mu? Andre sudah mengingat mu, Andre tidak mau melakukan perceraian ini Nara!"


"Tapi aku tidak mau anak itu menjalani hidupnya tanpa orang tua yang lengkap pa"


"Nara, belum tentu kan anak itu hasil dari perbuatan Andre" sela Bagas lagi.


"Tapi, dia mengatakan Andre ayah dari anak itu pa"


Bagas menggeleng, ia sudah menyelidiki siapa wanita itu.


"Wanita itu memang wanita yang tidak baik Nara, sudah banyak laki laki yang menggunakan nya. Bahkan ketika ia bersama Andre, ia juga melakukan dengan laki laki lain"


Jleb.


Jantung Nara berdetak cepat, pikiran dan dugaan dugaan lain nya mulai muncul.


"Nara, kamu harus ingat. Andre tidak akan melakukan hal itu dengan gegabah. Papa tahu pasti siapa putra papa Nara."


Nara masih terdiam, otak nya berkecamuk memikirkan semua ini.


"Aku tidak tahu pa, semuanya membuat ku bingung " lirih Nara.


"Nak, coba kmu pikirkan lagi. Soal perceraian ini, apa kamu tidak mau mencari tahu terlebih dulu?"


"Huffff.... " Nara hanya bisa menghela nafas, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Nara istirahat dulu pa"


"Baiklah nak" Bagas tidak bisa menekan Nara, semua ada di tangan nya. Jika Nara ingin bercerai, Bagas juga tidak bisa melarang nya. Sudah cukup penderitaan yang Nara lewati selama ini.


Nara kembali ke kamar nya, pikiran nya campur aduk. Perasaan gundah kembali merasuki hati nya.


"Apa ini? kenapa aku malah ragu??? Tuhan, apa sebenarnya rencana mu??"


Nara duduk di tepi ranjang, menatap ke langit terang yang ia lihat dari jendela yang terbuka lebar.


"Aku mulai ragu, ka Re bersalah atau tidak. Aku hanya bisa bersyukur dia bisa mengingat ku lagi" lirih nya.


Setelah lelah menatap langit yang tampak cerah, Nara memutuskan untuk berbaring di atas ranjang nya. Lalu, tanpa di sadari Nara sudah tertidur lelap.