Nayara

Nayara
•S2•(9)•



Setelah menangis lebih dari satu jam, akhirnya tangisan Naya mulai mereda juga. Entah kekuatan dari mana, ia bisa menangis seperti ini. Air matanya seakan tak mau berhenti keluar ketika memikirkan perlakuan Gavin padanya.


"Aku ga nyangka kamu bakalan nangis sampai kayak gini, padahal kamu kan cewek kuat!" ucap Riana seraya mengusap lembut punggung Naya.


"Sekuat-kuatnya aku, aku gabisa kalau diginiin Na! Gavin terlalu berharga buat aku!" Riana menghela napasnya lalu membantu Naya menghapus air matanya.


"Jadi kapan kamu akan bilang semuanya ke dia?!"


Naya mengangkat pandangannya, ia membalas tatapan Riana yang melihatnya dengan tatapan Kasihan.


"A-aku ga tau Na, Gavin aja ga mau bicara lama-lama sama aku," jawab Naya dengan suara lemahnya.


"Sebaiknya kamu bertemu dulu dengan Om Razak," saran Riana lagi.


"Kamu bener, harusnya orang pertama yang aku urusin itu dia." Naya menarik napas panjangnya berulang kali, saat ini ia harus mengikuti kata Riana. Om Razak lah yang memulai semua ini, jadi seharusnya dia pula yang mengakhirinya.


°°


"Aku minta surat perceraian aku sama Gavin!"


"Apa maksud kamu?! Kamu sendiri bahkan tak menandatangi surat itu sebelum pergi ke Singapura!" Naya menghela napas beratnya.


"Aku mohon Om, berhenti mencampuri urusan aku, bahkan Kakek Wira tidak pernah mengungkit masalah perceraian ini lagi!" Naya makin mempertajam ucapannya, ia hanya tak ingin di anggap lemah lagi oleh Om Razak.


"Berhenti bicara sesukamu! Apa kamu ingin melawan saya?! Ingat, yang merawat kamu selama in--"


"Yang ngerawat aku selama ini Tante Dita, bukan Om! Berhenti mengungkit hal -hal yang bahkan tidak Om berikan ke aku," potong Naya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia tidak tahu apakah hal ini benar atau tidak, yang jelas ia sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Bertahun-tahun Naya di perlakukan tak adil seperti ini, di tuduh yang tidak-tidak, di ancam oleh Om nya sendiri. Hal ini sangat tidak masuk akal jika mendapat perlakuan seperti itu dari keluarganya sendiri.


Om Razak masih diam, ia terlihat berpikir beberapa saat.


"Aku gatau kenapa Om dari dulu ingin aku berpisah dari Gavin. Aku bahkan ga pernah nyusahin Om dari kecil, tapi kena--"


Plakkk...


"Berhenti bicara seperti kamu sudah memiliki segalanya. Dari kecil kamu hanya beban di keluarga Absaya, jangan pernah membantah itu! Kamu bahkan menyusahkan semuanya!" ujar Om Razak setelah memberikan tamparan kasar di pipi Naya.


Naya masih diam menunduk dengan tangisan yang mulai mereda. Tak berapa lama Naya kembali mengangkat pandangannya, dan menatap tajam ke arah Om Razak.


"Kenapa Om ga bisa biarin aku bahagia?!!!" pekik Naya, kali ini ia benar-benar telah dikuasai oleh emosinya sendiri. Naya masih menatap mata Om Razak dengan rasa kesalnya.


Ini benar-benar bukan Naya, ia tak pernah semarah ini ke orang lain. Naya menepuk dadanya berulang kali, sesak. Hanya sesak yang ia rasakan.


"Lebih baik kamu kembali ke Singapura!" ujar Om Razak dengan nada rendahnya, jelas sekali ia terlihat kurang nyaman karena membuat Naya sampai menangis dan se-emosional ini.


"Aku bakal kembali kesana! tapi aku pastiin, setelah aku kembali lagi kesini. Aku ga bakal segan lagi sama Om! Aku harap Om Razak kembali memikirkan permintaan aku hari ini, aku bukan Naya yang lemah lagi Om!" Ujar Naya lalu beranjak dari duduknya.


Ia hendak membuka pintu ruangan kantor Om Razak, tapi beberapa saat pergerakannya terhenti, ia menoleh kembali ke Om Razak yang diam menunduk sambil memijit kepalanya.


"Tante Dita tau alamat aku, sebaiknya Om kirim surat perceraian aku sama Gavin segera" ujar Naya lagi lalu benar-benar keluar dari ruangan kantor Om Razak.


Anak kecil itu bahkan sudah bisa mengancamku...


•••


Ini kenapa jadi berasa drama keluarga wkwkwkw, maap yah guys :')


Maklumin Naya yang nangis mulu yah guiisss :)


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕