Nayara

Nayara
•41•



Minggu-minggu ujian semester telah berlalu, dan hari ini adalah hari penerimaan lapor untuk semua murid di SMA Abdi Bangsa.


Naya tentu saja terlihat antusias karena berharap semester pertamanya di sekolah barunya ini dia mendapat hasil yang terbaik, seperti di sekolah sebelumnya.


Pagi ini dengan senyum sumringan, Naya memoles wajahnya dengan make-up tipis seperti biasa. Dia benar-benar sudah menunggu hari ini, dia juga tidak sabar menanti libur panjang agar bisa kembali ke Jogja dan bertemu dengan tante Dita, adik ibunya.


"Gavin sana mandi!!" suruh Naya yang sudah beralih menyiapkan seragam Gavin.


"Dikit lagi yang, kan cuma terima raport. Lambat dikit gapapalah"


"Ihh aku gamau lambat Vin! aku juga udah kangen sama Riana, udah seminggu ga ketemu dia" curhat Naya memasang raut cemberutnya.


"Yaudah-yaudah, tapi cium dulu sini!" titah Gavin yang langsung duduk dari pembaringannya, yaa daritadi dia memang masih rebahan manja di atas kasur.


Bukannya mencium Gavin, Naya malah melemparkan handuk mandi di wajah suami tampannya itu. Gavin berdecih pelan dan hendak menghampiri Naya, tapi gadis itu sudah keburu berlari keluar kamar.


"Aku masak duluuu!!" seru Naya sebelum menutup pintu kamar.


Gavin yang melihat tingkah lucu Naya yang seperti itu, langsung menggeleng tak habis pikir, gemesin banget sih..


°°


Sampai di sekolah Naya tanpa sadar sudah meninggalkan Gavin yang masih sibuk memarkir mobil. Dia sudah tidak sabar sepertinya.


Tapi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Gavin, Naya sempat berbalik dan melambaikan tangannya pada Gavin, membuat Gavin langsung terkekeh geli.


Sampai di koridor sekolah Naya tak sengaja melihat geng Sarah yang berada di ujung koridor, dia masih ingat jelas saat geng Sarah melabrak dirinya beberapa minggu yang lalu.


Demi hari yang indah ini Naya memilih berbelok arah untuk menghindar dari mereka, dia memilih memutari koridor daripada harus berpapasan dengan mereka. Lagi pula kalau Yuna sendirian itu bisa saja berbahaya.


--


Sampai di kelas Naya sudah di sambut kehebohan yang di picu oleh Riana. Riana berlari memeluknya, hingga menyita semua perhatian penghuni kelas dan Riana sama sekali tidak merasa malu akan hal itu. Maklum..


°°


Tiba saat waktu penerimaan raport, Naya terlihat bersemangat dengan wajah tegangnnya. Dia harap-harap cemas dengan hasil kerja kerasnya selama bersekolah disini. Dann..


"Yeeeeeeeyyyy" itu teriakan Riana yang melengking di dalam kelas.


Riana berteriak karena nama sahabatnya di sebutkan sebagai peringkat pertama, yaa Naya mendapat peringkat pertama di kelasnya.


"Alhamdulillah" ucap Naya merasa senang.


Di balik rasa bahagia Naya ternyata ada satu senyum yang sudah luntur saat pengumuman peringkat pertama. Dia Lira, gadis yang selalu mempertahankan peringkatnya sejak kelas satu kini menjadi peringkat kedua di kelasnya.


Lira menatap Naya dengan tatapan nanar, ada rasa kecewa yang terkumpul di dalam dadanya. Ingin rasanya dia berteriak sekencang mungkin. Bagi Lira peringkat pertama adalah segalanya, ia bahkan sudah susah payah mempertahankan semuanya. Bahkan Lira pun menjadi peringkat pertama di antara seluruh murid SMA Abdi Bangsa, tapi posisi itu sudah di gantikan oleh Naya.


"Gue benci sama lo!!" gumam Lira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Selamat yah Ra, gue salut sama lo bisa bisa jadi peringkat kedua" ujar Luna yang duduk di samping Lira.


"Gue ga maks--"


"Udah, gue ngerti kok" potong Lira, dia tahu Luna tak bermaksud menyinggung perasaannya.


Kembali ke Naya, sampai sekarang dia masih belum berhenti bersyukur atas peringkat yang dia dapatkan, lebih-lebih saat Ibu Devi memberitahu kalau dia juga menjadi juara umum.


"Selamat ya Nay, kamu berhak dapet itu" seru Riana ikut senang.


"Makasih yah Na"


°°


Sesi terima raport telah selesai, Ibu Devi juga sudah keluar kelas. Naya dan Riana beranjak menghampiri Lira dan Luna, bermaksud mengajak mereka pergi ke kantin bersama.


Tapi belum sempat Naya mengajak mereka, Lira sudah lebih dulu menarik Luna pergi. Naya merasa heran kenapa Lira malah bersikap seperti itu.


"Udah aku duga" sahut Riana seraya menatap kepergian Lira dan Luna.


"Apa?" tanya Naya yang beralih menatap Riana.


"Dia pasti ga suka sama kamu Nay, karna kamu jadi peringkat pertama" jawab Riana.


"Emang kenapa kalau aku peringkat pertama?!"


"Mm jelasinnya gimana yah.."


"Sebenarnya dari kelas satu Lira itu bertahan ada di peringkat pertama, dan ini pertama kalinya dia turun peringkat. Belum lagi denger-denger nih yah, orang tua Lira itu emang selalu nuntut dia untuk menjadi yang paling unggul di sekolah" jelas Riana lagi.


"Jadi aku.."


"Udah ga usah di pikirin, nanti juga Lira bakal baik-baik aja kok. Positif thinking ajalah" sela Riana memotong ucapan Naya.


"Semoga aja deh. Yaudah yuk ke kantin" ajak Naya.


Keluar dari kelas Naya langsung menoleh ke kelas Gavin yang tetanggan dengan kelasnya, dan kebetulan saat itu Gavin juga baru keluar dari kelasnya. Pandangan mereka bertemu dan Naya langsung tersenyum, Naya hendak memanggil Gavin tapi dia keburu berputar arah dan masuk kembali ke kelasnya.


"Kok kabur?!" gumam Naya jadi bingung.


•••


Haloha teman-teman, sebelumnya maap-maap nih baru update lagi hehe. Kemarin mood anjlok banget karena kontrak cerita ini di tolak wkwkwkw..


Dan karena udah banyak yang nanya-nanya 'kapan up' sampe-sampe Nge'Dm di ig, itu buat aku terharu sekaligus jadi semangat lagi. Maap banget yah udah buat kalian nunggu, mungkin dari kalian udah ada yang muak karna aku sering ngilang-ngilang, sekali lagi maap nih :)


Dan sesuai janji aku, aku bakalan tetap lanjutin novel ini meskipun gak tau updatenya bakal rutin atau nggak, yang pasti aku bakal up kalau naskahnya udah selesai di tulis dan gak ada yang bikin kesel hehe :D


Semoga kalian masih mau baca cerita aku huhu :) dan yang terakhir seperti biasa jangan lupa Like dan komen yah, kalau perlu nyepam aja :) saya suka yang bar-bar hahah, Candaa!!


Buubye😁Happy reading♡♡