
Andre menatap kosong ke langit langit kamar rawat nya. Beberapa jam yang lalu, ia tersadar dari koma nya.
Dokter mengatakan, Andre tidak apa apa. Tapi, entah mengapa pria itu koma selama 2 hari.
Kini, Andre telah bangun. Tapi, tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Dok, bagaimana kondisi putra saya?" tanya Bagas mulai khawatir.
Dokter menghela nafas. "Tidak ada masalah dengan pasien, otak nya juga tidak terganggu, fisik nya baik baik saja."
"Lalu, mengapa Andre seperti ini dok? tidak merespon setiap saya panggil?"
Huffff...
"Kami juga bingung, kenapa pasien seperti ini. Kemungkinan besar, keinginan pasien untuk sadar tidak sepenuhnya ada. Dirinya sadar, jiwanya mungkin belum"
Bagas melongo, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.
"Dok, bagaimana mungkin hal itu terjadi pada anak saya"
"Bisa saja tuan, karena di dunia ini, apa saja bisa terjadi"
Bagas terdiam, ia hanya mengangguk pelan saat sang dokter pamit undur diri.
"Bagaimana ini bisa terjadi sama kamu nak? meskipun kamu bandel, tapi papa tetap sayang sama kamu!" gumam Bagas menatap nanar putranya.
Dika keluar dari kamar mandi, ia mendengar semua pembicaraan Bagas dan dokter tadi.
"Om maaf, mungkin jika Dika tidak nekat memberitahu Andre yang sebenarnya, Andre tidak akan seperti ini" Dika merasa bersalah.
"Tidak nak, apa yang kamu lakukan sudah sangat benar, kamu tidak salah"
"Tapi om-"
"Sudah lah nak, kita fokus untuk menyembuhkan Andre yah. Tidak perlu memikirkan siapa yang salah, ok?"
Dika mengangguk pasrah, meskipun di dalam hatinya tersimpan rasa bersalah yang sangat besar.
Ceklek.
Nani membuka pintu ruang rawat Andre, lalu mempersilahkan Nara masuk lebih dulu, baru dirinya masuk.
"Nara" lirih Bagas.
Wanita itu menegakkan kepalanya, lalu menatap mertuanya dengan senyum di paksakan.
"Papa" balas Nara. Ia memeluk papa nya. Mereka sama sama meneteskan air mata, tapi dengan alasan yang berbeda.
Nara menangis karena mengingat suaminya yang sangat membenci nya, sedang kan Bagas menangis karena kasian dengan menantunya, yang mendapat suami sakit seperti ini.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Nara.
"Dia sudah sadar Nara, hanya saja jiwa nya belum kembali" jawab Dika.
"Ohh.." sahut Nara biasa saja.
Dika menoleh, ada yang aneh dengan Nara, bara kemarin ia melihat Nara menangis terseduh seduh dengan kondisi Andre. Kini wanita itu malah terlihat biasa saja.
"Apa yang terjadi dengan Nara?" batin Dika.
Seperti biasa, Nara membersihkan tubuh Andre, mengelap kulit Andre dengan kain basa.
"Sembuh lah cepat, aku lelah hidup seperti ini di samping mu" bisik Nara ketika mengusap wajah Andre.
Tampa di duga, mata Andre berkedip. Jarinya bergerak sendiri.
"Nara..." lirih Andre terdengar lemah.
"Tuan sadar???" pekik Nani, Dika dan Bagas langsung menoleh.
Sedangkan Nara hanya terdiam di tempat yang sama dengan posisi yang sama juga, setelah berbisik tadi.
Mata mereka bertemu, Andre menatapnya penuh dengan kerinduan.
"Syukurlah, jiwa mu sudah kembali" ujar Nara dengan nada suara datar.
"Nara, apa kau benar-benar wanita di masa lalu ku?"
deg.
Mendengar pertanyaan Andre, sontak saja membuat Nara kembali kecewa. Andre masih meragukan hal itu, berarti ingatan nya belum kembali.
"Aku tidak tahu, kamu tanyakan saja pada hati mu" Nara segera bangkit, lalu pergi ke toilet untuk membereskan kain dan juga baskom.
Sedangkan Bagas dan Dika mendekati Andre.
"Apa kau sudah bisa mengenali aku? "
Pertanyaan dari Dika dan Bagas silih berganti, namun tidak bisa mengalihkan perhatian Andre yang menatap kepergian Nara.
"Hei! apa kau tidak dengar?" maki Dika.
Barulah Andre menoleh pada Dika, ia tersenyum. Ternyata sahabat nya masih mau dekat dengan nya.
"Gue sudah sepenuhnya sadar?" jawab Andre, masih dengan suara lemah nya.
"Syukurlah, papa senang mendengar nya nak" ujar Bagas bernafas lega.
Hari itu, Andre di periksa oleh dokter. Lalu, ia juga dinyatakan sudah sembuh dan sudah di perbolehkan pulang.
...----------------...
Di apartemen, sikap Nara kembali seperti biasanya. Cuek dan acuh tak acuh terhadap Andre.
Seperti hari ini, Nara terlihat santai duduk di sofa. Sedangkan Andre duduk di meja makan.
"Ra, apa kamu tidak mau melayani aku sebagai suami mu?"
"Aku capek, sebentar lagi juga aku akan gugat cerai"jawab Nara santai.
Mata Andre membola besar, ia tidak mau jika Nara menceraikan dirinya. Bukan karena harta, akan tetap hati Andre memang tidak menerima hal itu terjadi.
Andre memang belum mengingat memori nya yang hilang, tapi hati nya tidak akan lupa.
Andre beranjak dari meja makan, berjalan mendekati Nara.
"Kamu gila apa? lupa sama pesan mama?"
"Cih..." Nara meletakkan ponsel nya, lalu menatap balik Andre.
"Seharusnya, kamu katakan hal itu pada diri mu sendiri!" Nara meninggalkan Andre, masuk ke dalam kamar nya.
"Nara! Nara!!!!" panggil Andre berusaha mengejar gadis itu, tapi Nara sudah masuk dan menutup pintu nya dengan keras.
"Nara!!!"
Brak!! Brak!!!
"Aku belum selesai bicara!!! Nara!!!!"
"Ah sial!" Andre menggebrak kesal pintu kamar Nara, lalu berlalu dari sana.
sedangkan Nara hanya berdiam diri di balik pintu kamar nya.
"Maaf kak, aku sudah tidak mau mengeluarkan air mata lagi untuk mu. Cukup selama aku hidup ini kau menyakiti aku. Sekarang, aku ingin membahagiakan diriku. Itulah pesan Nyonya" batin Nara.
Tidak ada setetes pun air mata keluar dari bola mata Nara, Ia benar benar sudah membulatkan hatinya.
...----------------...
Di dalam kamar nya, Andre melihat jam. Sudah pukul 11 malam, Nara masih belum terdengar keluar dari kamar nya.
"Dia belum makan siang, belum makan malam!" gumam Andre gusar. Entah mengapa sekarang malah dirinya yang uring uringan di buat Nara.
"Huh! dasar wanita aneh!"
Meskipun kesal, Andre teta keluar dari kamar nya dan kembali mengetuk pintu kamar Nara.
Tuk!! Tuk!!?
"Nara!!! Apa kau tidak akan makan? perut mu bisa sakit lagi nanti!!" Teriak Andre dari luar.
Nara mendengarnya, ia tidak ambil pusing. Karena Nara saat ini sedang memakan cemilan yang selalu ia stok di dalam kamar nya.
"Nara!!!!" teriak Andre terdengar semakin kesal.
"Makan saja kau, aku tidak mau!" tolak Nara.
"Kenapa tidak mau? sejak siang kau belum makan" balas Andre.
"Tidak usah pedulikan aku, lakukan seperti biasa nya!" jawab Nara. Lalu setelah itu , Nara tidak menjawab lagi. Apapun yang Andre teriaki, dia tidak akan menyahutinya.
"Wanita jelek!!! dasar tidak tahu diri!!!!" ejek Andre kesal.
"Cih, siapa suruh dia memperdulikan aku. Sudah jelas mau cerai" dumel Nara bodo amat.
"Huh!! mati saja kau di dalam sana!" teriak Andre untuk terakhir kalinya. Setelah itu, tidak adalah suara Andre terdengar.
"Capek berhenti kan dia" cibir Nara.
...----------------...