Nayara

Nayara
•S2•(4)•



Disisi lain Gavin yang baru selesai meeting memilih meninggalkan kantor dan langsung pergi ke perusahaan Dean, sahabatnya.


Itu kebiasaan rutin yang ia lakukan ketika merasa lelah dengan aktivitas di kantornya sendiri. Bagi Gavin ketika berbagi cerita dengan Dean, semuanya terasa lebih ringan. Ingat bukan hanya wanita saja yang hobi curhat, tapi laki-laki apalagi Gavin juga sering melakukan itu.


"Habis meeting lagi?" tanya Dean yang baru masuk ke ruangannya dan mendapati Gavin duduk santai di sofa. Gavin mengangguk tanpa bersuara, lalu Dean beralih ke kulkas kecil yang berada di ruangannya untuk mengambil dua kaleng minuman, tentu saja satunya untuk sahabatnya, Gavin.


"Terus hasilnya gimana?!" tanya Dean penasaran.


"Ngga ada yang spesial, minggu depan gue di minta ke Singapura tapi gue tolak" jawab Gavin setelah satu kali meneguk minumanya.


"Kebiasaan lo, lagian Singapura luas kalii. Lo ga bakal ketemu sama Naya kalau cuma sehari dua hari doang!"


"Ngga usah bahas dia" ujar Gavin acuh tak acuh.


"Ya emang mau bahas apa lagi?! Selama ini lo nggak mau ke Singapura gara-gara disana ada Naya kan?!" Dean menyenderkan bahunya ke senderan sofa lalu menatap aneh lagi ke arah Gavin.


Gavin masih diam, ia terlihat sibuk sendiri dengan pikirannya. Benar kata Dean, selama ini ia tak pernah menanggapi client dari Singapura, karena itu merupakan negara tempat Naya kuliah.


"Udah lah Vin, lupain dia" ujar Dean lagi menepuk bahu Gavin beberapa kali.


Menghela napas panjangnya, Gavin meletakkan kaleng minumnya lalu mengusap wajahnya.


"Ini juga lagi proses ngelupain kali, makanya gue gamau ketemu dia lagi" balasnya terdengar lelah.


Gavin menggeleng lalu tersenyum tipis, "Gue ga mau nyakitin dan ngedeketin cewe lain selama masih ada nama Naya di hati gue" ujar Gavin seraya menoleh ke Dean, ia tersenyum menatap Dean, menandakan kalau Rasya bukanlah jalan keluar untuk melupakan Naya.


"Lo yakin ga bakal mau sama Rasya? Dia cewek mapan, dan udah lama kerja di kantor gue. Gue udah tau seluk beluk dia, gua bahkan tau riwayat keluarganya. Dia ga ada cela Vin" jelas Dean masih kekeuh menyatukan Gavin dan Rasya.


Gavin diam sambil menatap lurus ke depan, membuat Dean mendengus kesal. Tak lama Dean mengeluarkan posnselnya dan langsung membukan media sosialnya.


"Nih!" Gavin kembali menoleh, dan langsung menerima ponsel Dean yang di sodorkan padanya.


Ia menatap lekat foto dua gadis yang tengah berselfie bersama dengan senyum manis. Alis Gavin hampir menyatu ketika beberapa detik kemudian ia menyadari foto itu adalah, foto Naya dan Riana.


Tanpa rasa bersalah Gavin langsung melempar ponsel Dean ke atas meja dengan santainya. Melihat itu Dean hanya memutar bola matanya jengah, ia paham dengan sikap Gavin yang seperti itu, ingin melupakan tapi melihat foto saja dia sudah ambyar.


"Masih ga mau cari cewe lain?! Dia udah balik Indo. Kemungkinan lo ketemu dia pasti besar banget selain di Singapura. Jangan salahin gue kalau lo ngerasain hal yang sama lagi, inget cewe yang udah ninggalin lo itu ga bakal bisa buat lo bahagia!" ujar Dean mengambil ponselnya kembali.


"Gue juga ga bakal balik sama dia lagi!" balas Gavin lalu merebahkan kepalanya di sandaran sofa, ia menutup wajahnya dengan punggung tangannya, lalu memilih istirahat.


•••


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕