Nayara

Nayara
•S2•(5)•



Esok harinya, Naya bangun sangat pagi. Hari ini ia tak menjadwalkan apapun kecuali pergi jalan-jelan ke kampus Riana. Naya memang hanya berkunjung disini, oleh karena itu ia tak memiliki hal apapun untuk dilakukan.


"Apa aku ketemu dia aja yah..."


"Hitung-hitung sebagai latihan, agar nanti tidak terlalu canggung seperti kata Riana"


Naya mulai berkutat lagi dengan pikirannya, orang yang sebenarnya ingin ia temui tidak lain adalah Gavin. Kalau saja Naya boleh jujur, ia betul-betul masih belum siap untuk bertemu Gavin apalagi mengungkapkan yang sebenarnya pada Gavin, tapi setelah menerima saran-saran dari Riana, hati Naya jadi lebih kuat dan sangat ingin mencoba bertemu Gavin terlebih dahulu.


Aku tahu semuanya ga bakal sama kayak dulu... Tapi.. Apakah kita masih bisa menjadi kita?!


Dan pada akhirnya, Naya memutuskan untuk pergi ke cafe yang lokasinya tepat berada di depan perusahaan Gavin. Ini adalah cafe yang sama dengan cafe yang ia kunjungi dengan Riana kemarin. Dan entah apa tujuan Naya kemari, yang jelas ia hanya mengikuti kata hatinya.


Naya melirik jam tangannya, hampir jam dua belas. Itu tandanya sebentar lagi adalah waktu jam makan siang.


"Dia makan siang dimana yah? Apa aku bisa lihat dia lebih dekat lagi?" Naya bergumam dan tanpa sadar pesanannya baru saja datang.


"Eh makasih Mbak" ucap Naya sedikit gelagapan.


"Sama-sama, Mbak lagi nungguin orang dari perusahaan Wijaya yah?"


"Hah? Ng-nggak"


"Oh kirain, soalnya daritadi ngeliat kesana terus hehe" Naya hanya membalas ucapan pelayan itu dengan senyuman kikuk. Perkataan pelayan itu memang tidak sepenuhnya salah, ia memang berharap ada seseorang dari perusahaan Wijaya datang kesini. Tapi sepertinya keinginannya itu terlalu berlebihan.


Cukup setengah jam, Naya sudah selesai dengan makan siangnya. Rencana ia ingin menjemput Riana, agar ia memiliki teman jalan hari ini. Dengan raut kecewa Naya membereskan barang-barangnya, mulai dari ponsel dan dua buku yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Makasih Mbak!" pamit Naya saat melewati pelayan yang sempat berbicara dengannya tadi.


Tepat saat Naya ingin memberhentikan taksi yang akan lewat, badannya tiba-tiba terasa kaku, waktu serasa berhenti. Bahkan suara detak jantungnya seakan bisa ia dengarkan.


Naya masih mencoba mencerna apa yang saat ini terjadi di hadapannya. Gavin keluar dari perusahaan sambil menggendong anak kecil, yang di tebak Naya masih berumur dua atau tiga tahun.


Taksi sudah melewatinya dan Naya sama sekali tak peduli akan hal itu. Kakinya justru melangkah tanpa sadar dan mendekat ke arah Gavin dan anak kecil yang sedang dia gendong.


Deg.. Deg... Deg....


Tenanglah... Aku hanya perlu menyapanya dan pergi...


Deg...


Langkah Naya berhenti di tengah jalan, tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya ketika melihat seorang wanita keluar dari mobil mewah hitam dan sudah lebih dulu menghampiri Gavin. Wanita itu jelas tersenyum pada Gavin, ia beralih menggendong anak kecil yang ada di gendongan Gavin.


Dengan gerakan cepat Naya berbalik arah bermaksud ingin pergi, tapi sayangnya ia lebih di kagetkan lagi ketika ada mobil yang melaju dengan sangat cepat dari sisi kanannya.


Srreettt...


"Apa kamu bodoh!!!" sentak seseorang bersuara berat itu.


Aku kenal suara ini...


Perlahan Naya membuka matanya dan mencoba menelisik wajah orang yang baru saja menariknya, lebih tepatnya orang yang baru saja menolongnya agar tidak tertabrak.


•••


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕