Nayara

Nayara
•43•



Keesokan harinya, Naya dan Gavin pergi ke rumah keluarga Abyasa. Tante Dita adalah satu-satunya orang yang menyambut kedatangan mereka.


Dan seperti dugaan Naya, hampir semua keluarga Abyasa menatap dingin karena kehadirannya. Gavin paham kalau Naya takut dengan tatapan keluarganya sendiri, tak sedektipun dia melepas tautannya dari Naya.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di sofa utama, mereka menunggu Kakek Wira yang sebentar lagi pasti akan datang. Naya terlihat menunduk lesuh, berada di rumah ini sangat membuatnya tertekan.


"Kalian sudah datang ternyata" sahut Kakek Wira dan langsung duduk di depan Gavin dan Naya.


"Iyah kek" jawan Gavin dan Naya bersama-sama.


"Apa kabarmu Nak?!" tanya Kakek Wira seraya menatap Naya dengan tersenyum.


Naya membalas senyuman Kakeknya, "Seperti yang terakhir Kakek dengar, Naya sehat dan baik-baik saja" Kakek Wira beralih menatap Gavin dan menunggu jawabannya.


"Saya juga baik-baik saja Kek!" jawab Gavin cepat.


Cukup lama mereka berbincang masalah sekolah dan lain-lain, hingga akhirnya kehadiran seseorang yang paling Naya takuti datang, itu Om Razak suami Tante Dita. Dia adalah orang yang selama ini menjadi Wali Naya setelah kedua orang tuanya sudah tidak ada.


Melihat kehadiran Razak, Kakek Wira langsung menatap lekat pada Naya.


"Nayara apakah Kakek boleh mengajak suamimu bicara sebentar?!"


Naya membulatkan matanya, dia menoleh ke Gavin dan menatap khawatir padanya. Gapapa- insyarat Gavin. Naya menghela nafasnya kemudian mengangguk setuju.


Kakek Wira meminta Naya untuk menunggu, dan langsung mengajak Gavin ke ruangannya, di ikuti oleh Om Razak.


°°


Saat ini Naya tengah berada di kamar nya, dia sibuk mengabsen foto-foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Masih lengkap, dan tak ada yang berubah. Naya kangen banget sama kalian..


Ceklek...


Pintu kamar Naya terbuka dan langsung menampakkan Ciara, sepupu perempuan yang seumuran dengannya.


"Kamu ngapain sih balik kesini?!" Setidaknya itulah pertanyaan yang keluar pertama kali dari mulut Ciara. Dari pertanyaannya saja, Ciara sudah kelihatan sekali, kalau membenci Naya.


"Aku di panggil sama Kakek" Jawab Naya berusaha terlihat berani.


"Kamu itu ga berguna!"


"Ciara aku mohon jaga omongan kamu, bagaimana kalau suamiku dengar?!" tegur Naya.


"Biarin aja, biar dia juga sadar kalau kamu itu ga berguna. Kamu itu pembawa sial!! Untung saja suami kamu bisa di andelin di keluarga Abyasa, nggak kayak kamu yang taunya cuma bikin susah!" seru Ciara tak ingin berhenti mengeluarkan kalimat kebenciannya.


"Aku salah apa sama kamu Ciara? Aku ga pernah ngusik kamu selama ini?!"


"Bagus yah, kamu udah bisa ngebantah sekarang!! Aku bakal laporin kamu ke Om Razak!"


Naya diam, mendengar nama Om Razak saja sudah membuatnya ingin lari dari rumah ini.


"Kenapa diem? Takut kan?! Makanya jangan sok punya kemampuan untuk ngelawan!!" ujar Ciara dan beranjak ke pintu kamar.


"Sebaiknya kamu suruh suami kamu setuju dengan kemauan keluarga Abyasa!!" ujar Ciara lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar Naya.


Naya langsung ambruk ke lantai, dia mengusap wajahnya frustasi. Kenapa sekarang semuanya jadi makin rumit, kenapa Gavin harus dapat tekanan dari keluarga Abyasa. Kenapa ga aku aja yang kalian siksa hikss...


Tok.. Tok.. Tok..


"Nay..." panggil seseorang dari balik pintu, itu Gavin.


Naya segera menghapus air matanya dan langsung membuka pintu kamar nya. Dia sudah memasang senyum terbaiknya untuk Gavin.


"Urusan sama Kakek udah?!"


Gavin mengangguk seraya tersenyum, dia menggenggam tangan Naya dan langsung membawa istrinya itu keluar dari rumah keluarga Abyasa. Meskipun Naya merasa ada yang janggal, dia tetap tidak menghentikan tindakan Gavin yang membawanya pergi tiba-tiba.


Dan yang lebih mencengangkan lagi, Gavin membawanya kembali ke hotel dengan taksi. Tak ada pengawal dari keluarga Abyasa yang mengantar mereka. Ada apa ini?!...


--


Sampai di hotel Gavin langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Naya yang melihat itu hanya bisa berdiri kaku. Kenapa Gavin terlihat begitu frustasi?!..


Gavin menarik tangan Naya ketika istrinya itu sudah berdiri di hadapannya. Dia membawa Naya duduk di pangkuannya.


"Maaf..." lirih Gavin seraya memeluk Naya.


Naya tak bergeming, yang dia lakukan hanya membalas pelukan Gavin. Ini bukan Gavin yang biasa, entah apa yang sudah di buat oleh keluarganya pada suaminya ini.


"Vin... Kalau ada masalah bilang ke aku" Gavin tak menjawab dia hanya menatap Naya dengan senyumannya.


"Kamu jangan senyum kayak gitu, aku makin takut tau nggak!" protes Naya menutup wajah Gavin dengan kedua tangannya.


"Istirahat, bentar malem kita jalan. Dan besok pagi kita pulang! Okey?!" ujar Gavin membuat Naya langsung tertegun.


"Ada masalah sama kakek yah?! Kita kan liburnya seminggu, kok pulang nya besok?!"


"Nggak, aku kangen aja sama kamar kita! Di hotel ga enak"


"Cih.. Alesan! Aku ga bakal maksa kamu buat cerita masalahnya saat ini. Selama aku selalu sama kamu, aku ga bakal protes apapun" ujar Naya.


"Ciee, manis banget dah. Istri siapa sih?!" goda Gavin mencairkan suasana.


"Istri Ga-vin Ni-co-la Wi-ja-ya!!" jawab Naya dengan pedenya membuat keduanya langsung tertawa lepas.


°°


Malam harinya, seperti perkataan Gavin sebelumnya, dia ingin mengajak Naya jalan-jalan. Saat ini mereka tengah berada di pantai yang berada tak jauh dari hotel mereka.


Wajah putih Naya yang di terpa angin pantai menjadi sedikit memerah. Tapi hal itu sama sekali tak mengurangi rasa bahagianya. Dia benar-benar bahagia karena berada di samping Gavin saat ini.


"Vin..."


"Mm?"


"Kamu inget ga waktu aku pertama kali minta sama kamu untuk bawa aku pergi dari keluarga Abyasa?!" tanya Naya seraya mendongak menatap Gavin yang berjalan di sampingnya.


"Inget" jawab Gavin singkat.


"Aku peringatin jangan sampai lupain hal itu!" seru Naya.


"Emang kenapa?"


"Karna itu permintaan terbaik yang aku minta sama Allah, dan kamu menyanggupinya" balas Naya di ikuti senyuman manisnya.


"Kenapa saat itu kamu percaya sama aku? Padahal kita kan belum deket!"


"Mm kenapa yah?! Karna kamu ganteng mungkin?! Atau karna kamu tinggi?!" balas Naya malah menerka-nerka jawabannya sendiri. 


"Jawabanmu ga berkualitas banget sayangggg" seru Gavin seraya mencubit pipi Naya gemas.


"Hehe aku ga tau kenapa bisa yakin sama kamu! Yang aku tau kamu itu orang baik"


"Semua orang juga baik tuh" balas Gavin santai.


"Tapi kamu baiknya beda!"


"Bedanya dimana?"


"Mmmm..."


"Apa hayoo?!"


"Tauu ahh!! Pokoknya kamu beda! Titik ga pake koma" finish Naya membuat Gavin langsung tertawa geli.


•••


Heyyo aku up lagi nih, jangan lupa like dan komen yah💕


Sebenarnya ini episode udah lama di tulis, cuma baru mood up karena ada yang minta hehe :) beberapa hari kemarin lagi jenuh sama nulis, tapi setelah curhat di grup pembaca sedikit legaan. Makasih buat kalian yang mendengarkan curhatanku hehe


💕💕💕💕💕💕💋💕💕💕💕💕💕💕