
Seperti biasa di rooftop sekolah Gavin Bima dan Dean bolos berjamaah. Sibuk menyesap rokoknya, Gavin tiba-tiba berdecak kesal ketika handphone di saku celananya bergetar. Gangguu...
Raut kesal tak bisa Gavin sembunyikan setelah membaca nama kontak yang saat ini menelfonnya.
Om Razak..
Bukannya menjawab Gavin malah mematikan telfonnya. Tentu saja dia sudah tahu maksud Razak menelfon nya, apalagi kalau bukan meminta dirinya bekerja di perusahaan Abyasa.
Tling..
Bunyi notifikasi chat berhasil mengalihkan atensi Gavin, dia langsung membuka chat yang baru masuk.
Om Razak :
Saya di Jakarta, mari bertemu.
Tling..
Om Razak :
Di perusahaan Wijaya, jam 4 sore.
--
"Shitt!!!" Gavin mengumpat kasar, kenapa Om Razak harus memintanya bertemu di perusahaan papanya.
Jika seperti ini dia mau tidak mau harus bertemu lagi dengan Om Razak. Gavin paling benci ketika sudah berurusan dengan pria itu, selalu mengancam dan memaksanya.
°°
Terlihat Gavin yang bersender di mobilnya menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan Naya. Bel pulang sudah berbunyi dari lima belas menit yang lalu, dan seperti biasa Naya menjadi yang paling terakhir karena harus ke perpustakaan dulu.
"Maaf lama" sahut Naya seraya tersenyum manis ke Gavin.
"Gapapa, masuk sayang" titah Gavin dan Naya langsung mengangguk.
Butuh waktu dua puluh menit Gavin dan Naya sampai di parkiran apartement. Hingga ketika Naya ingin turun dari mobil, tiba-tiba Gavin menahan tangannya, membuat pergerakan Naya terhenti.
"Aku ga masuk, mau ke kantor papa dulu"
"Kok tiba-tiba, ada masalah yah?! Tanya Naya khawatir.
"Nggak, sana masuk" Naya mengangguk pelan, dia masih belum puas dengan jawaban Gavin, tapi menurutnya percuma saja jika bertanya lagi, suaminya itu tidak akan menjawabnya.
"Bentar!" tahan Gavin lagi, dia menangkup pipi Naya dan menarik wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan pipi Naya.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku pulang" titah Gavin dan Naya mengangguk paham.
°°
Sraakk..
Dua berkas yang tadi berjejer rapi di atas meja kini sudah berserakan di lantai. Gavin menghempaskan berkas-berkas itu bak sampah yang tak berharga.
"Saya bisa membuat berkas yang baru"
Gavin kembali menatap Om Razak yang kini duduk di hadapannya, ingin sekali tangannya ini melayangkan pukulan tepat di wajah pria itu.
"Kamu harus tanda tangani salah satunya! Tidak bisa menolak"
"Kenapa and--"
Omongan Gavin terhenti ketika Om Razak berdiri dari duduknya, pria itu memberikan tatapan merendahkan pada Gavin.
"Saya rasa sekarang kamu telah berbangga diri. Kamu pikir saya tidak tahu sifat kamu yang sebenarnya?! Saya tau beberapa kali Naya berada dalam bahaya karna kamu.."
"Oleh karena itu, kalau kamu masih ingin di anggap berguna di keluarga Abyasa, setidaknya kamu mau bekerja di perusahan keluarga kami. Jika masih menolak silahkan tanda tangani surat perceraiannya!"
Cih...
Gavin membuang pandangannya asal, emosinya benar-benar tersulut kali ini. Dia mengambil dua berkas yang tadi kemudian menyatukannya, lalu merobeknya dalam satu kali sobekan.
"Anda tidak akan mendapatkan apa yang anda mau!!" ujar Gavin.
"Baik, saya anggap kamu menolak tawaran dari keluarga Abyasa! Surat perceraian kedua akan saya kirim kembali dalam beberapa hari!" setelah mengutarakan kalimatnnya Razak keluar dari ruangan, menyisakan Gavin dan Kakaknya, Angga Wijaya.
Gavin langsung menghempaskan tubuhnya di kursi sofa ruangan kakaknya, dia begitu frustasi dengan pilihan yang di berikan keluarga Abyasa.
"Ikuti mau mereka Vin" sahut Angga lebih terlihat tenang dari Gavin yang gelisah.
"Nggak! Kalau gue ikutin mereka, selamanya bakal gitu terus"
"Terus lo mau ninggalin Naya, gitu?"
Gavin mengusap wajahnya kasar, meninggalkan Naya?! Hah, Mana mungkin, yang ada dia akan mati frustasi.
"Gue bakal pikirin jalan keluarnya, lo ga boleh kasih tau papa soal ini"
"Lama-lama juga bakal ke bongkar Vin!" sanggah Angga.
"Gue ga mau papa kecewa, gue udah janji bakal lanjutin bisnisnya setelah lulus SMA"
"Lo bisa apa Vin, lo ga bi--"
"Gue bisa!!"
"Bicara sama lo ga ngebantu sama sekali, gue pergi!" ujar Gavin lalu menyambar hoodie nya di sandaran sofa dan keluar dari ruangan Angga.
Tikk.. Tikk.. Tikk..
Baru saja dua langkah Gavin keluar dari gedung perusahan Papanya, hujan tiba-tiba turun. Dan sialnya Gavin kesini naik motor, tadi dia menyempatkan untuk mengganti mobilnya saat di parkiran apartement.
Makin frustasi Gavin malah memilih menerobos hujan dengan laju motor nya. Dia sudah tidak peduli dengan hujan, yang dia pikirkan sekarang adalah bertemu Naya, istrinya.
--
Sampai di depan pintu apartement, Gavin masih mencoba menetralkan pikiran dan emosinya. Ia menyenderkan kepalanya di pintu seraya memejamkan matanya beberapa saat.
Ia membuka pintu pelan-pelan, dan Naya masih belum terlihat. Gavin beralih ke rak sepatu, dan membuka sepatu nya yang ikut basah akibat menerobos hujan barusan.
"Nay.." panggil Gavin.
"Nayaa.."
"Sayaaangg!"
Tak ada sahutan balik dari Naya membuat Gavin menyimpulkan kalau Naya tidak berada di apartement saat ini. Gavin merogoh sakunya dan mengeluarkan handphonenya, tanpa pikir panjang dia menelfon Naya
°°
Dua panggilan Gavin masih tak di angkat oleh Naya, Gavin mulai gelisah dan langsung mengecek semua ruangan apartement untuk memastikan kembali.
Dan akhirnya...
"Hallo Nay kamu dimana?!"
"Aku di Cafe depan apart Vin, kamu udah pulang?"
"Ngapain?!" balas Gavin mengabaikan pertanyaan Naya.
"Ituu.. Om Razak minta aku dateng kesini"
Sial...
Gavin mengumpat dalam hati.
"Aku ga bakal lama kok, kata Om Razak di ga lama lagi nyampe. Selesai dari sini aku langsung pulang, gapapa kan?"
"...."
"Vin.."
"Vin kamu bai--"
"Pulang sekarang!!"
"Vin k--"
"Pulang sekarang Nayaraa!!" Gavin menaikan satu oktaf nada suaranya.
"Aku tunggu lima menit, kalau nggak disini dalam lima menit. Aku jemput!"
Gavin mematikan telfonnya tanpa permisi, membuat Naya makin merasa bingung. Om Razak belum datang, tapi Gavin sudah menyuruhnya pulang.
Dengan terburu-buru Naya segera memasukkan handphone ke dalam tasnya, kemudian beranjak dari duduknya. Naya memilih pulang kali ini, sebelum Gavin datang dan bertemu dengan Om Razak.
°°
Masuk di apartement Naya langsung melihat Gavin yang duduk di sofa, ia sedikit berlari menghampiri suaminya itu. Gavin terlihat begitu lelah, belum lagi baju sangat basah.
"Vin kamu kenapa hujan-hujanan? Ayo ganti baju dulu" pinta Naya menarik paksa Gavin agar berdiri.
"Siniin Hp kamu" titah Gavin menatap lekat ke manik Naya.
"Buat apa?"
"Siniin, mulai sekarang kamu ga boleh bicara sama Om Razak!"
"Kenapa?" tanya Naya penasaran.
"..."
Gavin tak menjawab membuat Naya tiba-tiba berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa Vin? Tolong jawab aku"
"Karna dia mau kita berdua pisah Nay!"
Deg..
Apalagi ini?!....
"Mulai sekarang dengerin aku yah?!" Gavin menangkup pipi Naya dan menempelkan jidatnya dengan jidat Naya.
Gavin dapat merasakan anggukan pelan dari Naya, dan sekarang Naya pun paham kenapa Gavin terlihat sangat tersiksa. Tentu Om Razak lah penyebabnya.
"Sekarang ganti baju dulu, kamu bisa sakit kalau pake baju basah terus" pinta Naya kembali menarik Gavin dan tentu saja kali ini tidak ada perlawanan dari suaminya itu.
°°
Semenjak pembahasan tentang Om Razak, Gavin lebih banyak diam. Dia seakan tak berselera melakukan apapun, daritadi dia hanya berbaring dan membelakangi Naya yang berbaring di sampingnya.
"Vin.."
"Mm"
"Jangan terlalu di pikirin, nanti kamu bisa sakit"
Gavin menghela nafasnya, daritadi Naya terus mengkhawatikannya. Siapa pun yang berada di posisinya, pasti tidak akan bisa baik-baik saja jika hendak di pisahkan dari orang yang di cintai.
Tak kunjung mendapat respon dari Gavin, Naya mendekat ke Gavin dan memeluknya erat. Wajahnya dia, tenggelamkan di punggung Gavin hingga meninggalkan kesan hangat.
"Aku sayang sama kamu Vin, aku percaya sama kamu" lirih Naya dapat di dengar jelas oleh telinga Gavin.
Gavin masih tak merespon, dia hanya mengelus lembut tangan Naya yang melingkar di perutnya. Hingga perlahan mereka berdua terlelap.
Menyesakkan sekali membayangkan itu terjadi...
•••
Mohon bersabar ini ujian :)
Jangan lupa like sama komen guys hehe :)