
Orang tadi benar-benar membuatku muak, bukan hanya mengadu domba, secara tidak langsung, ia mempermainkan perasaan ini. Teringat tentang bunda, pasti selalu membuatku terjun ke rasa yang paling kuhindari.
Koridor sudah sepi, bolehkah diri ini menunduk dan menjatuhkan beberapa tetes yang sering kusembunyikan? Walaupun tak begitu mengenal Vivi, tetapi ada rasa kecewa yang hinggap pada diri ini. Seharusnya aku dapat mengerti apa yang ia rasa, bukannya menjatuhkan ia hingga terbentur dan menambah rasa perih untuknya.
"Yang mau bunuh diri siapa, yang nangis siapa. Lucu, ya," ucap seseorang yang kini berdiri di sampingku. Karena menunduk, hal pertama yang kulihat darinya adalah sepatu merah muda.
Saat melihat itu, semua siswa di sekolah ini sudah tau. Larangan memakai sepatu selain berwarna hitam, dia malah melanggar. Kak Rian, kakak kelas abstrak dengan penampilan yang sungguh tidak terduga.
Aku mendongak, laki-laki bertubuh tinggi dan bergigi kelinci yang selalu terpamerkan di saat dia tersenyum itu membuat dirinya menjadi salah satu idola di sekolah. Ini di luar dari penampilannya.
Memakai sepatu merah muda tentunya, jaket berwarna ungu, dan topi berwarna kuning bergambar kartun favoritku, Spongebob.
"Kok muka lu sok kaget gitu?" tanyanya.
"Emang kaget, Kak!"
Dia membulatkan matanya ke arahku. "Gak usah ngegas, dong! Beberapa daerah, gas udah lumayan langka. Harusnya lu bisa meminimalisir pemakaian," ujarnya dengan wajah dibuat-buat begitu serius.
"Oh iya iya," ejekku agar pembahasan sia-sia ini berakhir.
Saat hendak berbalik, kulihat Vivi yang berjalan di arah berlawanan. "Vi ...," teriakku tercekik akibat Kak Rian dengan cepat membungkam mulut ini dan menyeretku bersembunyi di dalam kelas. Hanya dengan isyarat, Kak Rian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
Beberapa menit kemudian, telapak tangan itu terlepas dari mulutku. Udara di sekitar pun bebas kuhirup.
"Sorry," ucapnya.
"Kalau mau bunuh gue, jangan kek gini dong, Kak! Nyiksa namanya," protesku.
Dia tertawa pelan, garing, dengan wajah yang terlihat masam. Tidak sinkron dengan apa yang ia lakukan. Rasa dan tawanya tak bergandengan.
"Duh, padahal gue ada perlu sama Vivi!" seruku.
"Kasih dia waktu sendiri," sahut Kak Rian.
Kata itu keluar dengan penegasan, hingga membuat diri ini terkunci di tempat. Kuperhatikan wajah itu lekat, ada rasa kecewa dan juga penyesalan di sana. Entah bagaimana. Namun, ini kali pertama aku melihat Kak Rian seperti ini. Manusia yang terkenal karena kegilaannya, juga keceriaannya, kini terlihat sangat menyedihkan.
Dia benar-benar Kak Rian, 'kan?
Mencoba mengambil udara lebih banyak dan mengaturnya agar membuat diri lebih tenang. Lalu mengambil posisi duduk di sebelah Kak Rian dengan menyandarkan tubuh di tembok dan memeluk lutut.
"Gue bukan diary, sih, apalagi Mamah Dedeh. Bukan dua-duanya, tapi kalau Kak Rian mau cerita, gue bisa jadi pendengar seperti pembalut."
Dia berbalik ke arahku dengan sebelah alis yang ia naikkan.
Aku mengangguk. "Pendengar yang anti kerut dan anti bocor."
Candaanku garing, dia terdiam datar. Memang sih, aku tidak begitu pandai menghibur hati seseorang.
"Gue sama Vivi itu ...."
"Pacaran?" sahutku sebelum ia meneruskan omongannya.
Dengan cepat, ia menjitak kepala ini hingga bando yang kugunakan terlepas. Memang kelewatan orang ini, tidak bisa membedakan mana perempuan, dan mana laki-laki.
"Rambut gue rusak! Ish, tau gak, Kak? Ini tuh ngetatanya susah, lama pula, dan Kakak seenak jidat, dalam hitungan detik, ancurin ini semua?"
"Lagian, udah tua masih pake bando. Lu gak malu apa sama penampilan lo yang kayak anak-anak gini?"
Kulihat dia tertawa, bahkan saking gelinya, ia sampai memegangi perut dengan kedua tangan. Heran, tadinya niat bercanda, dia tak tertawa, giliran serius, dia malah ketawa. Emang agak geser otak senior satu ini.
Setelah beberapa lama memandangi ia tertawa, laki-laki itu bangkit dan menyejajarkan langkah kami keluar dari kelas. Menelusuri koridor yang sepi di sore hari.
"Tau, gak? Liatin senja di atap sekolah keren, lho!" serunya.
Pura-pura membulatkan mulut lalu mengangguk. "Kakak ngajak gue liat senja? Sok indie banget, sih," cibirku.
Ia mengggaruk kepala dengan kasar lalu menggelengkan kepala. "Kesel juga ya lama-lama dekat, lho!"
Kupikir dia akan marah, taunya tertawa lagi. Entah, setelah wajah masam penuh kecewa dan penyesalan itu, beberapa saat kemudia berganti dengan banyak warna tawa di sekitar. Kak Rian, melihat dia seperti bercermin pada diri sendiri.
"Gue anter lu pulang?" ajaknya.
Menggeleng sembari menunjuk sebuah mobil merah saat langkah kita terhenti di depan parkiran.
"Gue bawa mobil," jawabku.
"Ya, anak Hotman Paris sih, ya. Di saat anak-anak lain naik motor matic, naik angkot, dan naik ojek, lu udah bawa mobil sendiri," ucapnya sedikit takjub seraya bertepuk tangan pelan, "harusnya gak pantes ya gue tawarin lu naik motor bebek gue."
"Apaan sih! Gak lucu," ujarku sedikit tak suka.
"Gue gak maksud ...."
Belum sempat dia meneruskan omongannya, kulangkahkan kaki ini dengan cepat dan masuk ke dalam mobil. Walaupun sempat kudengar suaranya memanggil namaku, tetap kujalankan mobil ini melaju dengan kencang. Namun, sesaat setelah itu, kulihat Vivi menghampiri Kak Rian, mereka seperti berdebat sesuatu.
Tak peduli, tetap kulajukan mobil ini menjauh. Walau beribu tanda tanya menyerbu, kata-kata Kak Rian mampu membuat amarahku membuncah, dan sebelum meledak, kuhindari semuanya.
Tidak memakan waktu lama tiba di depan rumah minimalis dengan dua lantai. Tidak ada yang membukakan pagar ataupun pintu. Semua kulakukan sendiri. Saat masuk ke rumah itu pun, kunyalakan lampunya sendiri.
Tak ada suara apa pun di dalam rumah ini kecuali suara langkahku menuju sofa. Menjatuhkan tubuh ke benda besar itu sembari menatap foto keluarga di hadapannya. Tampak, keluarga yang dianugerahi dua anak itu tersenyum bahagia di depan kamera.
Waktu itu umurku masih 7 tahun, hingga senyum yang kuperlihatkan hanya ada beberapa gigi, sedang anak laki-laki yang dia tahun di atasku dalam pose memeluk bunda. Kedekatan mereka memang tak dapat kumungkiri.
Tenggelam dalam masa lalu, akhirnya terhenti saat gentaran pada benda di dalam saku menghentakku.
Patrcia
Buruan ke rumah sakit! Lo tau Vivi yang tadi hampir bunuh diri? Tadi dia ketabrak di depan sekolah. Gila, mana udah sepi lagi.
Pesan singkat itu jelas membuatku bangkit dari duduk. Memori setengah jam lalu kembali terulang. Saat meninggalkan gerbang sekolah, Vivi sedang bersama Kak Rian.
To Patricia
Kok bisa? Bukannya tadi udah pulang bareng lu?
Patricia
Iya, tadi gue udah nganterin dia bareng Dita. Sampe ketemu nyokapnya pula. Terus gue baru aja dapat kabar dari ketua kelas kita, Vivi ditabrak di depan sekolah. Sekarang udah dibawa ke rumah sakit. Jadi, lu buruan deh jemput gue sama Dita. Kita ke RS bareng. Lo kan tau, lu doang yang punya mobil.
To Patricia
Siap, Kapten! Segera meluncur!
Setelah Patricia dan Dita mengantar Vivi pulang, perempuan itu kembali ke sekolah? Apa untuk bunuh diri lagi, atau ... bertemu Kak Rian? Apa Kak Rian ada di lokasi saat Vivi tertabrak?