
--
Tiba di kantin Naya langsung di hadapkan dengan kehebohan yang sama sekali dia tidak mengerti. Naya menoleh pada Riana tapi Riana malah mengangkat bahunya, pertanda dia juga tidak mengerti.
Luna dan Lira yang juga ikut ke kantin tentu saja ikut merasa bingung. Lira menahan salah satu siswa yang juga ikut berlari keluar kantin. "Lo semua mau kemana?!" tanyanya.
"Ke lapangan, Gavin sama Ezhar berantem" jawab siswa itu.
Mendengar itu Naya langsung menutup mulutnya yang menganga, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Gavin dan Ezhar.
Tanpa aba-aba Naya langsung berlari menuju ke lapangan sekolah, dia sudah tidak peduli dengan yang lainnya, yang penting dia harus menahan Gavin agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
Sampai di lapangan Naya langsung menerobos kerumunan orang-orang yang menyaksikan perkelahian Gavin dan Ezhar. Dengan susah payah dia menembus kerumunan itu dan akhirnya diapun bisa melihat Gavin dan Ezhar.
Nafas Naya tersengal, belum lagi melihat wajah Gavin yang di penuhi darah begitupun Ezhar. Ezhar menendang perut Gavin hingga dia tersungkur ke lantai lapangan, dan tentu saja Gavin tak ingin tinggal diam. Dia bangkit dan langsung menghampiri Ezhar.
Belum sempat Gavin meluncurkan pukulannya, tubuhnya sudah tertahan. Dia melihat tangan yang melingkar di perutnya, itu Naya. Badan Naya gemetar luar biasa, hanya ini yang bisa dia lakukan agar Gavin berhenti berkelahi.
"Pengecutt!!!" teriak Ezhar.
Gavin diam, dia tidak bisa berbuat lebih lagi. Dia menyadari Naya yang menangis di balik punggung nya. "Vin udah.. hiks!" lirih Naya.
"Urusan kita belum selesai!!" ujar Gavin kemudian berlalu pergi, dia menggenggam tangan Naya dan membawanya pergi.
Ezhar yang melihat kepergian Gavin dan Naya hanya berdecih, dia sebenarnya tidak tahu kenapa Gavin tiba-tiba mengajaknya berkelahi. Gavin hanya melarangnya untuk berhenti mendekati Naya tapi tentu saja dia tak mengindahkannya. Karena percaya atau tidak, Ezhar sudah terlanjur menyimpan rasa pada Naya, gadis polos yang akhir-akhir ini sudah dekat dengannya.
°°
Gavin membawa Naya ke kelasnya, dia menyuruh Naya duduk di kursinya dan dia langsung jongkok di depannya. Tubuh Naya masih belum berhenti gemetar, ini pertama kalinya dia melihat Gavin berkelahi dan tentu saja itu membuat takut setengah mati.
"Udah.. Ga usah nangis" ucap Gavin sambil menggenggam lembut tangan Naya. Setelah beberapa saat menunduk akhirnya Naya mengangkat pandangannya, matanya langsung bertemu dengan mata Gavin.
"Vin.. Muka kam--"
"Gapapa" sela Gavin seraya mengusap air mata Naya yang masih mengalir.
"Kamu kenapa berantem sama Ezhar?!" lirih Naya.
"Habisnya dia batu, aku minta dia jauhin kamu tapi dia ga mau!" jawab Gavin dengan nada kesal.
"Tapi kenapa harus berantem?!"
"....." Gavin diam, sebenarnya sudah menjadi hal lumrah baginya jika menyelesaikan masalah dengan berkelahi.
"Emang semua masalah harus di selesein dengan berantem?!" tanya Naya lagi tapi Gavin masih tidak menjawab.
"Jawab Vin! Sampai kapan kamu bakal berantem mulu kayak gini?! Sampai kapan kamu mau nunjukin kekuatan kamu?!"
"Nay--"
"Woy nyet!! Lo di panggil pak Surya" sahut Bima yang tiba-tiba muncul di balik pintu kelas Gavin.
Setelah Gavin benar-benar pergi, Naya berusaha menormalkan emosinya, berulang kali dia menarik nafas panjangnya agar emosinya mereda. Dan setelah merasa tenang akhirnya dia memutuskan kembali ke kelas, hari ini dia akan melewati makan siangnya karena selera makannya seketika hilang.
Sampai di kelas Naya sudah di sambut oleh Riana dan Lira, rupanya mereka juga tidak pergi ke kantin lagi. Mereka berdua mengikuti Naya yang beranjak ke kursinya.
"Nay lo tadi bawa Gavin kemana?! Kok kalian kayak ada sesuatu" tanya Lira penasaran, dia sudah duduk di hadapan Naya, sedangkan Riana duduk di sampingnya.
Mendengar pertanyaan curiga dari Lira membuat Naya menghembuskan nafas beratnya belum cukup dia mendapat tatapan intimidasi sepanjang koridor kelas tadi sekarang Lira sudah bertanya demikian.
"Aduh Ra, kok kamu nanya gitu. Mereka ga ada sesuatu kok, mereka kan sepupuan, jadi wajar aja Naya panik. Pasti Gavin bawa dia untuk nenangin doang" sela Riana membantu Naya untuk menutupi hubungannya dengan Gavin.
"Ih gue ga maksud apa-apa kok, tadi kaget aja pas liat tatapan Gavin ke Naya" balas Lira masih kekeh.
"Ga ada apa-apa itu mah, perasaan kamu aja" sanggah Riana.
Naya yang hanya menyimak pembicaraan Riana dan Lira akhirnya langsung menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Naya sudah tidak tahu harus bicara apa lagi, yang jelas dia menyesali sikapnya di lapangan tadi. Naya terlalu panik hingga tak sadar langsung memeluk Gavin, hal itu tentu saja membuat banyak orang curiga tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
"Eh gue mau liat Luna dulu, daritadi ke toilet ga balik-balik" ujar Lira lalu beranjak pergi. Dan setelah memastikan Lira telah pergi kini giliran Riana yang berbicara dengan Naya, meskipun dia menenggelamkan wajahnya di atas meja.
"Nay.. Kamu baik-baik aja?!" tanya Riana sambil mengusap lembut punggung Naya. Naya mengangguk pelan, menandakan dia baik-baik saja tapi saat ini sedang tak ingin bicara. Riana yang mengerti langsung memilih diam, dia tahu Naya saat ini butuh waktu sendiri.
°°
Triiingg....
Bel pulang sekolah telah berbunyi, sampai saat ini Gavin masih belum ada kabar dan hal itu tentu saja membuat Naya kepikikiran. Apa dia masih di ruang BK yah?!- batinnya.
"Nay ayuk pulang!" ajak Riana seraya merangkul bahu Naya yang tengah mengkhayal.
"Kamu duluan aja Na" tolak Naya dengan lembut.
"Gak gak, aku ga bakal biarin kamu sendiri! Kamu ga liat tiga senior di depan kelas kita?! Kayaknya mereka ngincer kamu Nay"
"Aku tebak, mereka itu fans fanatik Ezhar atau Gavin deh" sambung Riana lagi.
"Aduh kok masalahnya makin runyam sih, masalah Gavin sama Ezhar aja belum kelar, ini nambah lagi. Aku harus gimana Na? Aku takut sama mereka" tanya Naya melemah.
"Kamu tenang dulu, kita keluarnya barengan sama Lira aja biar ramean" usul Riana kemudian dia memanggil Lira yang hendak keluar kelas.
Setelah melihat Lira berhenti, Riana langsung menarik lengan Naya dan beranjak ke Lira. "Barengan yah?!" pinta Riana dan langsung di angguki oleh Lira.
Kalau boleh jujur sebenarnya Naya sangat takut untuk keluar kelas setelah Riana memberitahu kalau ada tiga senior yang menunggunya, tapi dia tidak mungkin kalau bertahan di dalam kelas terus. Dengan jantung yang berdebar Naya bersama Riana dan Lira keluar kelas bersama.
•••
Maaf yah kalau ceritanya membosankan, semoga kalian tetap mau baca :)
jangan lupa kasih like dan komen yah :)
Makasihhhh ♡♡♡