Nayara

Nayara
•49•



Hari berikutnya Gavin dan Naya berangkat sekolah seperti biasa. Tepat saat Naya ingin turun dari mobil, Gavin tiba-tiba saja menarik tangannya. Naya tak menolak, dia malah pasrah saja ketika Gavin membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapannya.


"Jangan pernah hilang dari pengawasan aku" ucap Gavin pelan.


"Iyah, lagian ini sekolah Gavin.. Om Razak ga mungkin dateng kesini" Naya tersenyum karena sikap Gavin yang sangat takut kehilangan dirinya.


"Yaudah, sana masuk" suruh Gavin dan Naya langsung mengangguk. Tapi sebelum turun tentu saja dia menyempatkan untuk mencium punggung tangan Gavin suaminya.


"Bye Vin.." Gavin tersenyum seraya menatap punggung Naya yang perlahan menjauh darinya. Ada perasaan berat ketika berpisah dari Naya, seakan-akan Naya akan pergi dan tak kembali lagi.


°°


Kriiinggg....


Memasuki jam istirahat Naya masih berkutat dengan buku sejarahnya. Yah hari ini kelasnya harus belajar di perpustakaan, karena Ibu Zahra tengah mengurus keperluan lain di luar kota.


Berbeda dengan Naya, Riana malah baru datang dari kantin. Dia meletakkan es teh yang di pesan Naya sebelumnya.


"Makasih Na" Riana mengangguk dan tersenyum.


"Eh Nay tadi aku ketemu Gavin, dia dateng ke kelas kita, terus aku bilang kamu masih di perpus, dan katanya, dia bakal nunggu kamu di kelas, samperin gih" ujar Riana sambil memainkan sedotan es jeruknya.


"Astaga lupa.."


"Aku duluan yah Na, sekali lagi makasih es teh nya!" ujar Naya merapikan bukunya dan langsung beranjak keluar dari perpustakaan.


Riana yang di tinggalkan hanya bisa menggeleng kepala, kenapa orang kalau urusan cinta cepet banget?!


°°


Belum sempat Naya masuk ke kelas nya, tiba-tiba di depan ruang guru dia sudah di panggil oleh Ibu Devi. Naya mau tak mau harus singgah dulu, Semoga Gavin masih di kelas..


Naya langsung mengekor di belakang Ibu Devi, dia di suruh duduk dan menunggu dulu di sofa yang ada di ruang guru. Takut Gavin mencarinya Naya berinisiatif mengiriminya pesan singkat, tapi sayangnya Naya melupakannya handphonennya di perpus.


Naya beridiri dari duduk dan berniat ingin kembali ke perpus, tapi pergerakannya terhenti ketika seseorang datang dan sudah berdiri di hadapannya saat ini.


"Om Razak?!"


Naya seketika ambruk kembali ke kursi sofa, matanya membulat menatap pria paruh baya yang sangat dia takuti saat ini.


"Jangan kaget! Kamu pasti sudah dengar semuanya dari Gavin kan" ujar Om Razak seraya ikut duduk di sofa. Dia mengeluarkan selembar kertas bertuliskan Surat Pernyataan cerai di bagian atasnya.


Naya menutup mulutnya yang menganga, dia menatap surat itu dan Om Razak bergantian. Bagaimana ini?!


"Naya ga mau om" tolak Naya tak berani menatap Om Razak lagi.


"Ini keinginan kakek, suami kamu juga sudah memutuskan. Dia menolak keinginan kakek, tidak ada lagi alasan kamu untuk bersama dia. Nama kamu juga sudah bersih, dan kakek ingin mengembalikan masa depan kamu yang cerah!"


Seketika Naya mengangkat pandangannya, ingin sekali dia menertawakan lelucon yang di jelaskan Om Razak. Selama ini keluarga Abyasa ingin membuatnya menghilang, tapi kenapa hari ini mereka seakan-akan peduli dengan masa depannya.


"Naya ga mau, masa depan Naya itu ada di Gavin" ujar Naya dan kali ini berani menatap Om Razak.


"Baiklah, seperti kalian berdua benar-benar pemberontak yang hebat!"


"Lebih baik Om Razak balik ke Jogja, Naya ga mau tanda tangan surat ini"


"Apakah kamu tidak peduli dengan suamimu?!" satu pertanyaan dari Om Razak sukses membuat Naya mengernyit bingung.


"Naya peduli dengan suami Naya, bahkan sangat pedu--"


"Hahaha" tawa Om Razak membuat kalimat Naya terhenti.


"Kamu hanya peduli dengan suamimu, bagaimana dengan keluarganya!? Hm?.."


"Tidak usah menangis, keluarga Abyasa tidak mengajarkanmu menangisi orang asing.."


"Sampai kapan pun gadis kecil seperti kamu tidak akan bisa berkeliaran bebas. Ingat kamu itu keturunan Abyasa, kamu itu di atur dan tidak bisa mengatur! Paham?! Tanda tangani surat ini, sebelum kakek Wira berbuat sesuatu ke perusahaan Wijaya, setidaknya kamu harus jadi menantu yang baik di detik terakhir"


Naya paham, bahkan sangat paham arah pembicaraan Om Razak. Air matanya kini telah luruh, sesak. Hanya itu yang Naya rasakan, seorang Naya bahkan tidak tega mementingkan egonya kali ini. Bagaimana ini?! Hikss..


"Saya tidak ingin berada di Jakarta lebih lama lagi, malam nanti saya akan datang menjemputmu, sebaiknya kamu memastikan suamimu menandatangi surat cerai ini juga!" titah Om Razak kemudian beranjak pergi.


Perlahan Naya meraih surat cerai yang daritadi tertata di atas meja,  tertulis jelas namanya dan nama Gavin di surat itu. Tak kuat, Naya meremukkan kertas itu dan kembali menangis sejadi-jadinya.


°°


Semenjak bertemu Om Razak sampai jam pulang sekolah, Naya terus menghindari Gavin. Setiap Gavin mencarinya dia selalu beralasan sedang ke toilet.


Tapi sayangnya kali ini dia sudah tidak bisa menghindar, tepat di sampingnya Gavin duduk di kursi kemudi. Seakan tahu suasana hati istrinya, Gavin mengambil tangan Naya dan menggenggamnya erat. Sekilas dia mencium tangan Naya dan memasukkannya ke saku hoodienya.


"Mau makan?" Naya menggeleng, dia menolak.


"Mau jalan?" Naya kembali menggeleng.


Lagi datang bulan apa yak?!


"Kamu kenapa sayang?" tanya Gavin kembali mencium punggung tangan Naya. Dan bukannya menjawab Naya malah mengalihkan atensinya keluar jendela mobil sambil menopang dagunya malas.


--


Sampai di apartement Gavin tak membiarkan Naya langsung masuk ke kamar. Dia menarik Naya ke ruang tamu, dan membawanya duduk di pangkuannya.


"Sekarang cerita ada apa?" titah Gavin menatap manik Naya dalam-dalam.


Tak menjawab, Naya malah memeluk Gavin. Dia menenggelakam wajahnya di lekuk leher Gavin. Naya tak tahu harus bilang apa dan memulainya dari mana.


"Sayang.."


"Nay.."


"Kamu ken--"


"Aku pengen es teh" lirih Naya terdengar manja.


Seketika Gavin mengukir senyumnya, dia mencubit pelan pipi istrinya itu.


"Kamu kayak gini karna es teh doang?!" tanya Gavin dengan nada menggoda.


Naya tak menjawab dia hanya menatap datar ke Gavin, membuat suaminya itu langsung terkekeh.


"Iyah iyah aku buatin" Gavin memindahkan Naya agar duduk di sampingnya lalu dia beranjak ke dapur.


Tak ingin diam menunggu, Naya ikut mengekor di belakang Gavin. Naya tidak tahu kenapa dia malah menyuruh Gavin membuat teh, yang jelas dia hanya ingin.


Sibuk dengan teh buatannya tiba-tiba Gavin kaget ketika Naya memeluknya dari belakang. Benar-benar bukan Naya yang biasa, Gavin ingin bertanya kenapa istrinya bersikap seperti ini, tapi dia terlalu takut merusak suasana.


"Udah, ayo!" ujar Gavin menarik tangan Naya menuju ke ruang tamu.


Naya ikut duduk lalu bersender di bahu Gavin, dia juga langsung menerima es teh yang baru saja di buatkan untuknya. Naya meminum es teh nya dengan mata terpejam, satu harapannya saat ini, tolong waktu berhenti saja.


Setelah es teh nya habis, Naya duduk tegak dan meletakkan gelas es tehnya yang sudah kosong di atas meja. Dia beralih menatap Gavin yang bersender di sofa sambil menatapnya dengan tersenyum.


"Udah siap ceritanya?" tanya Gavin menepuk pelan pucuk kepala Naya.


Naya menunduk dan memejamkan matanya beberapa saat, Gavin ikut menegakkan duduknya. Dia mulai panik ketika mendengar suara isakan istrinya. Tanpa bicara apapun, Gavin langsung menarik Naya agar masuk ke pelukannya, tapi sayangnya Naya malah mendorongnya pelan.


Masih menangis, Naya meraih ranselnya dan mengeluarkan selembar kertas kusut. Perlahan kedua tangannya memberikan kertas itu ke Gavin.


Mata Gavin menyelidik isi kertas itu, dan detik itu pula dia langsung menendang meja di hadapannya. Gelas es teh Naya tadi bahkan ikut terhempas dan pecah. Pranggg...


"Sialan.. Gue bakal kasih pelajaran sama sialan itu!!" ujar Gavin dan langsung berdiri.


Gerakan Gavin terhenti ketika Naya menahan tangannya, "Jangan Vin, aku yang mau kamu tanda tangan surat ini!!"


Seketika tatapan Gavin berubah tak habis pikir, apa-apaan...


•••


Mo nangis nulis part ini ︶︿︶