Nayara

Nayara
Bab 30



"Kenapa papa melakukan itu? apa kesalahan Andre pa?"


Bagas menatap nya tajam, sudah tahu salah Andre masih bertanya apa kesalahan nya.


"Kau gila yah! setelah melakukan ini semua pada Nara? kau masih bertanya apa kesalahan mu?"


Andre terdiam, ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi hari ini.


"Mana Nara, aku mau berbicara dengan nya" Andre hendak naik ke atas tangga, tapi langkah nya terhenti melihat Nara tengah menuruni anak tangga dengan berkata.


"Ada apa lagi kau mencari ku hum? apa belum cukup kau menyakiti aku?"


"Nara, semua itu bohong! aku tidak mungkin menghamilinya!"


"Cih, kau masih mengelak?? " Nara berdiri di depan Andre, sorot mata nya hanya ada kebencian.


"Bodoh yah, sejak kecil aku selalu menganggap mu laki laki yang sempurna, berbeda dari laki-laki lain. Ternyata?? cih, aku menyesali semua perasaan ku terhadap mu Andre pangestu!"


"Aku pun meragu jika dia darah daging ku" sahut Bagas.


Tidak tahu lagi, apa yang harus di lakukan. Nara merasa hatinya sangat hancur, perbuatan Andre sudah tidak bisa ia maafkan lagi.


"Apa yang telah aku lakukan? Nara, aku memang sering memakai wanita, tapi aku tidak mungkin menghamilinya Nara!"


"Cih, kau pikir? dengan pengaman itu tidak menyakitiku???


Aku istrimu Andre, apa hati mu juga melupakan aku??? apa tidak ada sedikit pun kau mengingat masa masa kau mencintai ku???"


Deg.


"Nara aku..."


"Sudah lah, aku juga sudah muak dengan semua ini. " Nara berdiri di depan Andre, menatap nya dengan tatapan datar.


"Kau, bebas ingin melakukan apapun. Mau bersama dengan wanita itu, atau tidak terserah. Ini pengajuan surat cerai, aku sudah menandatangani nya!"


Nara meletakkan lembaran surat pengajuan cerai yang sudah ia tanda tangani ke tangan Andre.


"Nara aku ti-" ucapan Andre terhenti, Nara sudah pergi keluar dari rumah.


"Aku tidak bisa membantu mu" kata Bagas saat putra nya menatap pada nya.


Cika dan Nani saling berpelukan, mereka sangat sedih melihat kedua orang yang sangat mereka sayangi, terus tersakiti.


"Nani, mereka beneran cerai?"


"Aku juga tidak tahu Cika, aku hanya berharap semua ini mimpi"balas Nani sembari menghela nafas.


Andre terdiam, matanya menatap lembaran kertas yang ada di tangan nya.


"Kau tentukan saja hidup mu sendiri!" bagas berlalu meninggalkan Andre sendiri.


"Pa! Papa!!..." Bagas menepis tangan Andre saat pria itu mencoba menahan nya.


Sedangkan di luar, Dika menyambut Nara dengan tatapan sulit di artikan. Mereka pergi bersama menggunakan mobil Dika.


Fyuuu...


Dika menoleh, mendengar hembusan nafas berat Nara. Membuat Dika tahu, betapa sulit nya yang Nara alami.


"Aku tidak menyangka, semuanya akan menjadi serumit ini" ujar Dika.


"Sudah lah kak, aku akan melupakan semuanya. Walaupun sakit, aku juga tidak mau terus terusan sakit"


Dika mengusap kepala Nara, "Kau sudah dewasa ternyata. Aku senang kau tegar menghadapinya"


Siang itu, Dika membawa Nara menemui salah satu teman nya.


Praider, seorang dokter spesialis oplas. Pria tampan dan juga baik hati itu menyambut kedatangan sahabat nya.


"Hallo bro, akhirnya Lo nemuin gue juga" Kata praider.


"Eh iya ni, gue ada problem"


"Problem apa itu? eh btw siapa gadis cantik bersama mu ini? apa dia kekasih mu?" goda Praider mengedipkan mata nya pada Dika.


"Dia adek gue, nah dia ini lah yang gue maksud tadi. Problem di kulit wajah dia" jelas Dika.


Nara menunduk malu, praider menatap nya terlalu lekat.


"Gak usah bilang sedikit jelek, bilang aja menjijikan" timpal Nara ketus.


Praider tertawa keras, ternyata wanita bersama sahabat nya ini lucu juga.


"Hei nona, jangan jutek jutek begitu, siapa nama mu?"


"Nayara"


"Waw, nama yang indah. Sesuai dengan orang nya" sahut Praider lagi.


Dika memutar mata nya, jengah mendengar rayuan si tukang gombal.


"Bagaimana? bisa tidak??" desak Dika.


"Tentu saja bisa, permasalahan nya tidak terlalu buruk."


"Jadi kapan bisa nya?" kini Nara yang bertanya.


"Wohoo...Kau sudah tidak sabar terlihat cantik kembali nona?" goda Praider.


"Aduh kak Dika, teman mu gak ada yang beres yah. Kalo gak bajingan, yah seperti ini. Tapi sama sama kadal seperti nya" cibir Nara.


"Ahahah....Kau tidak tahu saja, Dika itu lebih parah dari aku" bisik Praider, membuat mata Nara melotot besar.


"Benarkah???"tanya Nara ikut berbisik.


Kini mereka seperti anak manusia yang membicarakan Dika dengan cara berbisik bisik di depan orang nya langsung.


"Astaga, aku tidak menyangka di gosipin di depan mata ku sendiri "


Nara dan Praider langsung tertawa, dalam sekejap mereka sudah berhasil dekat.


Dika juga senang, ia bisa melihat Nara tertawa lepas. Setidaknya untuk sekarang Nara bisa melupakan rasa sakit di hatinya.


...----------------...


Setelah bertemu dengan dokter Prai, Nara dan Dika kembali pulang. Mereka akan membicarakan hal ini dengan Bagas.


"Pa, apa papa setuju?"


"Tentu saja papa setuju nak, apapun yang terbaik untuk mu. Papa akan mendukung mu" jawab Bagas.


Nara menarik nafas dalam, menganggukkan kepalanya berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Besok aku akan melakukan operasi, dan setelah itu aku akan menghadiri persidangan cerai itu" jelas Nara.


"Tapi Nara, Andre tidak mau menandatangani surat pengajuan cerai. Kalian tidak akan di proses kalau dia tetap tidak menandatangani nya." kata Dika.


Nara terdiam, ia mencoba berpikir lagi.


Bagas yang sebenarnya sangat berat menyetujui perceraian Nara dan Andre, hanya bisa pasrah. Dia juga tidak boleh egois, Nara sudah berusaha bertahan, tapi putranya selalu membuatnya terluka.


"Mungkin ini, yang terbaik" gumam Bagas dalam hati.


Di apartemen nya, Andre terdiam dalam kegelapan dan kesunyian rumah.


"Mengapa jadi seperti ini? harus nya aku senang dia meminta lepas dari ku! Tapi, mengapa hati ku terasa tidak rela?


Ada apa sebenarnya???? Apa memang benar, apa yang Dika katakan dulu?? Apa dia lah wanita ku???"


"Tapi, kenapa aku tidak ingat sama sekali. Kapan dan dimana pertama kali aku mulai menyadari keberadaan Nara. Dia hanya wanita cengeng yang selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi. Tidak ada rasa cinta, hanya rasa benci.


Kenapa???


Kenapa aku tidak bisa mengingat nya????????"


Andre mengamuk, ia melempar vas bunga yang ada di atas nakas tempat nya bersandar.


Saat setelah melepas dan vas bunga kaca pecah. Tanpa sengaja tangan Andre terluka dan membuatnya kaget.


Bug.


Kepala Andre terbentur ke sudut nakas, dan membuat pria itu pingsan di tempat. Tidak ada cahaya dan tidak ada kebisingan.


...----------------...