Nayara

Nayara
Bab 32



"Berapa jam Nara akan terbangun dari pengaruh bius nya?" tanya Dika.


"3 atau 4 jam lagi Nara akan siuman" jelas Praider.


Dika mengangguk, ia menatap wajah damai Nara dengan berbagai makna.


"Apa kamu bisa menerima nya lagi Nara? apa kamu akan senang, atau malah semakin sedih???" Dika benar benar tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi.


"Semoga semuanya baik baik saja Dika" Praider menepuk pundak Dika, ia mengerti apa yang teman nya rasakan.


"Terimakasih Prai, Lo ngerti gue banget"


"Tentu, tapi ada yang jauh lebih mengerti Lo" Dika mendongak, ia menatap bingung.


Praider tersenyum, lalu menunjuk Andre yang sedang tertidur di sofa.


Dika pun menghela nafas, ia memang sangat dekat dengan Andre. Bahkan mereka sama sama paham dengan sifat masing masing. Tapi, Andre sedikit egois, keras kepala nya, membuat ia terlihat seperti anak kecil.


"Aku tidak tahu, bagaimana akhir dari kisah mereka"


Praider mengangguk prihatin, lalu ia pamit undur diri. Ada banyak pasien yang harus ia lihat.


Setelah Praider pergi, Dika melangkah mendekati Andre. Menatap dalam wajah sahabatnya.


Semua masalah yang terjadi ini, tidak bisa di salahkan sepenuhnya kepada Andre.


Ceklek.


Dika berbalik, menatap Bagas yang baru saja membuka pintu.


"Om mau bicara sama kamu Dika" kata Bagas, lalu kembali keluar dari sana.


"Baik" Dika segera menyusul Bagas. Mereka pergi ke taman belakang rumah sakit. Tempat di mana pasien pasien menghirup udara segar di saat keluarga nya mengajak keluar dari ruang rawat.


"Om pusing Dika" ucap Bagas menghela nafas berat.


"Om tidak tahu, harus memberikan reaksi apa. Ketika Nara terbangun nanti. Apakah om akan membujuknya kembali pada Andre, atau malah angkat tangan"


"Aku juga tidak tahu om. Tapi yang jelas, Semua ini ada di tangan Nara. Kita hanya bisa membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri"


Bagas mengangguk, ucapan Dika ada benarnya juga.


"Kamu dewasa, berpikir dengan bijak. Kenapa putra ku tidak seperti mu?" canda Bagas.


Dika terkekeh pelan, menoleh menatap ayah dari sahabat nya.


"Jika dia seperti ku, maka masalah semua ini tidak akan ada om"


Mereka tertawa bersama, meskipun di dalam otak mereka masih berkecamuk Masalah Andre.


Sedangkan di dalam kamar, Andre terbangun. Ia menoleh ke kiri, ketempat Nara terbaring lemas.


Andre segera bangkit, mendekati ranjang Nara. Menatap wajah yang masih di balut perban dengan lekat.


"Nara, aku di sini. Maaf, aku sudah menyakiti mu selama ini. Maafkan aku, telah melupakan rasa mu, hati mu. Maafkan aku Nara" Tangan Andre meraih tangan lembut Nara, ia hendak membawanya ke bibirnya. Tapi tiba-tiba -.


"Eh!" Andre terkejut.


"Ngapain kamu di sini?" ucap Nara lemah, namun terdengar jelas nada bicara Nara sangat sinis, walaupun samar.


Andre kaget, tapi ia merasa sangat senang.


"Nara kau sudah sadar? aku akan memanggilkan mu dokter"


"Tidak perlu, aku hanya ingin kau pergi dari sini"


Deg.


"Nara, maaf. Aku sudah mengingat semuanya. Maaf sudah membuat mu terluka, maafkan aku Nara" mohon Andre dengan suara bergetar. Namun, Nara tidak mau mendengarnya. Ia memalingkan wajah nya ke arah yang berlawanan dengan Andre.


"Nara, maafkan aku. Aku memang salah, Tolong jangan benci aku"


Nara tidak menjawab, air matanya sudah mengalir deras tanpa Andre tahu.


Ceklek.


Dika dan Bagas masuk ke dalam ruangan rawat Nara, kedua pria itu kaget melihat Andre tertunduk menangis, sedangkan Nara membelakangi Andre


"Nara? kamu sudah sadar?" Dika mendekati Nara, memeriksa Nara.


"Kak, aku tidak mau melihatnya!" kata Nara.


"Apa yang terjadi?" tanya Bagas. Ia mendekati putranya, namun Andre malah diam dan perlahan melangkah keluar dari ruangan rawat Nara.


"Kak, kenapa dia di sini??" tanya Nara mulai terisak.


"Nara tenang yah, dia kesini mau lihat kamu" jelas Dika.


"Nak, Andre menyesali perbuatan nya. Dia sudah mengingat semuanya" sahut Bagas.


Deg.


"Pa, aku tidak mau bersama nya lagi. Aku tidak mau, biarkan dia dan anak nya bersama. "


"Kami tidak akan memaksa kami Nara, semua keputusan ada di tangan kamu" jawab Bagas.


Nara tidak menjawab lagi, ia hanya diam dalam tangis.


"Ya ampun Nara, masalah apalagi ini??? meskipun Andre sudah mengingat mu, tapi kalian tetap tidak bisa bersama" batin Dika menatap iba pada Nara.


...----------------...


1 Minggu dalam kondisi di perban, Nara kini sudah kembali cantik. wanita itu, sudah di perbolehkan pulang oleh Praider, tapi ia harus sering sering kontrol selama bekas Opera nya belum terlalu sembuh.


"Pa, aku siap melakukan sidang" kata Nara pada Bagas.


Bagas mengangguk pelan, meskipun hatinya sedikit berat melepaskan menantunya. Namun, hal ini tidak bisa ia paksa, jika Nara sudah memutuskan, maka mereka harus menerima nya.


"Besok papa akan meminta dokumen pengajuan cerai kamu pada Andre"


"Baiklah pa"jawab Nara tersenyum.


"Nak, apa kamu yakin dengan keputusan ini?"


"Ehm...Aku yakin pa, memangnya apa yang harus di ragukan?" balas Nara, berusaha menunjukkan senyum bahagianya, lalu berbalik menatap Bagas.


"Papa tidak perlu khawatir, meskipun aku cerai nanti, papa akan menjadi ayah ku"


Bagas tersenyum, "Papa harap ini keputusan yang terbaik untuk kamu nak"


...----------------...


Nara menjalani hari harinya seperti biasanya. Tapi, kali ini ia lebih sering datang ke rumah sakit hanya sekedar checkup dengan dokter Praider.


Terkadang, Nara datang ke rumah sakit hanya sekedar makan siang bersama.


Persidangan perceraian nya akan di lakukan Minggu depan.


Seperti pagi ini, Nara sudah ada janji dengan Praider. Pria itu akan menjemput nya pukul 9 pagi.


"Wahh cantik banget non" puji Cika.


"Ah bisa aja kamu Cik" balas Nara merendah hati.


"Beneran deh, mau kemana sih?" Jiwa kepo Cika sudah meronta ronta.


"Aku ada janji bertema sama dokter Praider" jawab Nara jujur.


"Cieee.....Mau kencan yah" goda Cika.


Wajah Nara menjadi merah, ia tersenyum malu menerima godaan dari Cika.


"Gak kok Cika, kami hanya pergi nonton" balas Nara, ia tetap melanjutkan kegiatan nya merias wajah.


Setelah selesai, Nara bergegas keluar dari kamar.


"Nanti tanyain yah Non, pak dokter ada temen gak, buat saya?" kekeh Cika malu malu.


"Ohoo....Cika ku sudah ganjen yah?"


"Yahh kan udah lama gak dapat burung non" canda Cika, namun jujur.


"Lah, aku yang udah nikah aja gak pernah dapat burung " balas Nara. Mereka tertawa bersama, meskipun sebenarnya nyesek di hati Nara. Mengingat kembali tentang pernikahan nya yang hanya ada air mata saja.


"Udah lah, aku mau pergi" kata Nara bergegas keluar dari kamar nya.


Sedangkan di bawah, Praider sudah tiba di depan rumah besar milik keluarga Pangestu.


Praider tersenyum manis, belum sempat ia menekan bel, Nara sudah membuka pintu.


Beberapa detik, Praider terdiam menatap kecantikan wajah Nara. Penampilan nya yang sederhana , tapi terlihat anggun.


Karena malu di tatap seperti itu, Nara pun menundukkan kepalanya.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Nara malu malu.


"Ehm...Maaf Nara, kau sangat cantik"


"Benarkah? wahhh semua itu berkat diri mu" balas Nara masih menunduk malu.


"Ayo pergi!" Praider menggandeng tangan Nara. Hari demi hari hubungan mereka semakin dekat.


Namun, Praider tidak mau memakai perasaan ketika ia dekat dengan Nara.


"Gimana gak baper, kalo kaya gini bentukan nya"teriak Praider di dalam hatinya.


Tet!!!!!


Nara dan Praider kaget, tiba tiba mobil Andre berhenti di depan mobil Praider.


Andre keluar dari mobil nya dengan tergesa-gesa, lalu menarik tangan Nara menjauh dari pria itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Andre menatap lekat Nara.


"Bukan urusan mu, lepaskan aku. Kau tidak ada hak melarang ku!" bentak Nara menyentak tangan nya dari genggaman tangan Andre.


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi bersamanya, kamu hanya milik ku Nara!"


Plak!


Praider terdiam, ia cukup terkejut melihat pertengkaran antara Andre dan Nara.


"Kau sudah tidak waras? apa otak mu sebegitu egoisnya???"


Nara menahan air mata, ia menatap wajah Andre dengan tatapan putus asa.


"Aku capek Andre, aku capek dengan semua ini. Apa kamu tidak ingin melihat orang lain bahagia??"


"Kau hanya akan bahagia bersama ku" tegas Andre masih tidak goyah.


"Cih.....Apa tawa ku dengan air mata yang kau ingin lihat??? kau cukup pergi dan besarkan anak mu bersama kekasih mu itu" Nara mendorong Andre menjauh, lalu masuk ke dalam mobil dokter.


"Kau tidak beruntung bung" kata Praider, ia tersenyum miring pada Andre yang menatap Nara di dalam mobil. Lalu, Praider menyusul Nara dan duduk di bangku kemudi.


"Nara!!! Nara!!!! dengar aku dulu!!!!" Andre menggedor gedor kaca mobil sebelah Nara.


"Jalan dokter" kata Nara.


Andre berlari, ia berusaha mengejar mobil Praider yang semakin menjauh. Tenaga manusia dan mesin tidak akan seimbang.


Andre tersungkur di tanah, ia tidak sanggup mengejar mobil yang semakin melaju, hingga tak terlihat lagi.


Dari bangkunya, Nara dapat melihat Andre terjatuh di tanah. Sempat tidak tega, tapi Nara tetap mempertahankan dirinya agar terlihat seperti tidak peduli.


Dari arah samping, dokter Praider melirik Nara, melihat ekspresi apa yang Nara perlihatkan ketika melihat Andre tersungkur.


"Apa kau yakin, baik baik saja Nara?"


"Aku baik baik saja" jawab Nara singkat.