Nayara

Nayara
•S2•(3)•



"NAYAAAA!!" pekik seorang gadis yang langsung berlari turun dari tangga rumahnya.


Dua tangannya ia rentangkan dan langsung meluncur memeluk Naya yang sudah berdiri di ruang tamu rumahnya.


"Kamu jahaatt hiks..."


"Kenapa ga bilang kalau balik hari ini?! Kan aku pengen jemput dan jadi orang pertama yang nyambut kedatangan kamu!" keluh Riana setelah melepas pelukannya.


"Tenang aja, kamu orang pertama kok" balas Naya seraya tersenyum menatap Riana.


"Yakin? Kamu ga ke rumah Om Razak?" Naya menggeleng.


Meskipun Om Razak sudah tinggal di Jakarta, tapi Naya sama sekali belum ada niatan untuk bertemu dengannya. Terlepas dari masalah tiga tahun yang lalu, semuanya sudah berjalan normal dan semestinya.


"Om Razak udah tau kamu balik belum?" tanya Riana seraya menarik Naya agar duduk di sampingnya.


"Belum, nanti aja"


Riana mengangguk paham, kalau dia jadi Naya pasti akan sulit untuk bertemu dengan orang yang telah merusak kebahagiaannya.


"Udah makan?" Naya menggeleng dan tersenyum malu, sepertinya wajahnya tak bisa menyembunyikan kondisi kelaparannya.


"Yaudah aku ganti baju dulu, kita pergi makan" Naya mengangguk kemudian menatap Riana yang beranjak naik ke tangga.


°°


"Nay.."


"Hm?" Naya langsung mengalihkan atensinya dari buku yang ia baca.


"Kamu bisa liat gedung yang depan itu dulu nggak?" Riana menunjuk sebuah gedung yang letaknya ber-sebrangan dengan restourant yang mereka kunjungi saat ini.


Tanpa menjawab Naya langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh sahabatnya itu. Matanya menyipit ketika berusaha membaca nama dari gedung yang di tebaknya adalah sebuah perusahaan.


Wijaya Group...


Wijaya?! Tak asing. Tapi sepertinya Naya masih belum paham dengan arah pembicaraan Riana.


"Itu perusahaan Gavin"


Riana reflek mengambil tisu untuk Naya, ia langsung mengelap jilbab Naya dengan tisu yang ia ambil. Jujur saja Riana tidak menyangka sahabat nya akan bereaksi seperti ini.


"Maaf Nay.. Aku ga maksud--"


"Gapapa gapapa.. Aku cuma kaget doang kok" balas Naya seraya mengibas-ngibaskan jilbabnya yang basah karena terkena minuman. Sungguh kebetulan sekali ucapan Riana mengenai Gavin terucap saat ia tengah menyeruput es jeruknya.


"Kamu masih ga berubah deh, selalu over reaction kalau aku nyebut nama dia.. Padahal aku tuh mau bantu kamu supaya terbiasa, biar bisa move on Nay" ujar Riana panjang lebar.


Tak menjawab, Naya malah membalas Riana dengan tersenyum sendu, dan itu sukses membuat Riana merasa bersalah.


"Jangan senyum-senyum gitu Nay, aku takut liatnya. Please.. Kalau di depan aku kamu ga perlu jadi kuat, kamu jadi Naya yang lemah juga aku terima. Aku ga bakal marahin kamu kalau kamu nangis bombay!! Aku gamau kamu tertekan dan nyimpen semua nya kayak gini sendirian Nay.."


"Kamu udah kenyang kan?! Apartement kamu dimana? Kita pulang aja. Aku janji bakal dengerin semua keluh kesah kamu, jangan di tahan kayak gini. Aku yang ga kuat ngeliatnya, paham?!" Riana langsung menarik tangan Naya dan pergi keluar dari restourant.


Riana hafal betul dengan sifat Naya, selalu menyimpan rasa sakitnya sendiri. Andai saja Naya berada di indonesia tiga tahun belakangan ini, pasti kondisi tidak akan se-menyedih kan ini, karena ada Riana tidak akan membiarkan Naya terpuruk sendiri.


Ketika sudah berada di pinggir jalan Riana segera menyetop taksi yang akan lewat di depan mereka. Naya pasrah saja ketika Riana menariknya masuk ke taksi itu.


Alih-alih mengalihkan pikirannya, Naya menatap keluar jendela dan malah tak sengaja melihat sosok yang sudah lama tak menyapa matanya, dan Naya begitu  merindukannya.


Gavin...


Naya tak sengaja menyebut nama Gavin meskipun dengan suara pelan nya, dan itu sukses membuat Riana langsung ikut kaget dan mencari keberadaan orang yang di sebutkan sahabatnya itu.


"Nay.." Riana mengusap lembut bahu Naya, ia tahu sahabatnya sedih karena pertama kali melihat Gavin setelah sekian lama terpisah.


"Aku gapapa" Naya menatap Riana dengan tatapan sendu plus senyuman yang sangat jelas di paksakan.


"Pak tolong ke alamat...."


Sopir taksi mengangguk dan langsung melajukan mobilnya ke alamat yang baru di sebutkan Naya barusan.


•••


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕