
Hari ini seperti biasa, Naya tidak memiliki rencana apapun. Ia hanya berjalan-jalan saja di sekitar gedung apartement tanpa tujuan tertentu. Tapi tak lama sebuah toko bunga menyita perhatiannya.
"Apa beli bunga aja yah? Di apartement ga ada bunga satupun," gumamnya mulai tertarik pergi ke toko bungan itu.
Setelah berpikir sebentar, akhirnya Naya memutuskan untuk membeli beberapa bunga untuk di taruh di apartemennya. Naya kembali melanjutkan langkahnya menuju toko bunga yang sedaritadi ia amati.
"Selamat pagii," sapa penjaga toko bunga itu saat Naya baru saja masuk.
"Pagii!" balas Naya seraya tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya mencari bunga yang dapat membuatnya tertarik.
"Kakak cari bunga apa?" tanya penjaga toko yang baru saja menghampiri Naya.
"Ahh saya belum tahu, saya ingin melihat-lihat dulu."
"Oh iyah, baiklah." Naya kembali melangkah menyusuri deretan-deratan bungan yang berjejer rapi di hadapannya.
"Cantik sekali," gumam Naya ketika melihat bunga berwarna putih, ia langsung mengambil bunga itu. Tak bisa di pungkiri kalau Naya jatuh cinta saat pertama kali melihat bunga ini.
"Tapi bunga ini namanya apa yah?" tanya Naya pada dirinya sendiri.
"Itu bunga Anyelir, Anyelir putih." Naya sontak menoleh saat seseorang berbicara di sebelahnya.
"Bunga itu melambangkan cinta dan kepolosan yang sempurna," sambung orang itu lagi.
"Benarkah?" tanya Naya dan orang itu langsung mengangguk.
"Apa kamu akan membelinya?"
"Mm entahlah" Naya masih terus mengamati bunga itu dengan seksama, ia sangat suka bunga ini. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, harusnya ia tak membeli bunga, karena tak lama lagi ia akan kembali ke Singapura.
"Bunganya cocok untuk kamu!" sahut orang itu lagi dan Naya membalasnya dengan senyuman malu-malu.
"Aku takut nanti tak ada yang merawatnya"
"Apakah kamu akan pergi jauh?!"
"Mm ... aku hanya tidak bisa berlama-lama disini."
"Sepertinya sulit untukmu."
"Yah seperti itulah, oh iyah boleh kenalan? Nama kamu siapa?" tanya Naya baru sadar kalau ia belum tahu nama lawan bicaranya ini, dari yang terlihat sepertinya dia wanita kantoran yang juga berkunjung di toko bunga ini.
"Aah tentu, aku Rasya. Kamu?"
--
Tiba saat Naya dan Rasya akan pergi meninggalkan toko bunga, keduanya terlihat sudah sangat akrab. Padahal mereka baru bertemu beberapa waktu yang lalu.
"Aku pergi yah!" pamit Naya ke Rasya.
"Ah iyah, jangan lupa ngirim chat nanti hehe!" Naya mengangguk kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Rasya. Ia harus segera ke kampus Riana, karena sahabatnya itu memintanya datang sekarang, katanya ada hal yang penting yang ingin dia beritahu.
Naya segera menyetop taksi yang kebetulan akan lewat di depannya. Ia segera masuk saat mobil taksi itu sudah berhenti, tanpa di tanya ia sudah menyebutkan alamat tujuannya.
°°
"Nay!! Aku tadi ketemu sama Dean!"
"Dean temen Gavin waktu SMA?" tanya Naya penasaran.
"Iyah, kebetulan tadi Dean dateng kesini bareng sepupunya. Kata Dean sepupunya mau daftar kuliah disini, yaudah aku bantuin."
"Terus?" Naya mengangkat kedua alisnya karena Riana belum memberikan informasi penting apapun ke dia.
"Aku nanya-nanyain soal Gavin ke Dean..." Riana menggantung ucapannya membuat alis Naya mengernyit.
"Itu Nay... Gavin kemarin kecelakaan setelah ketemu sama kamu"
"Apaaa!?" Naya langsung berdiri dari duduknya.
"Kenapa ga bilang daritadi Riana?! Sekarang dia di rumah sakit mana? Aku harus kesana"
"Nay..." lirih Riana reflek menarik tangan Naya agar duduk kembali.
Naya diam menatap Riana,
"Apa kamu yakin Gavin mau lihat kamu datang kesana?"
Naya menghela pasrah, benar kata Riana. Bagaimana bisa ia datang kesana, sedangkan Gavin tak mengharapkan itu.
•••
Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕
Oh iyah, aku minta maaf karena ga bisa verifikasi/nerima permintaan masuk grup kalian, karena grup author udah aku bubarin, bukan karena aku ga mau interaksi sama kalian. Tapi karena emang aku jarang buka grup yg ada di aplikasi ini.