Nayara

Nayara
•36•



--


Sesuai tawaran Dean sebelumnya Naya ikut pulang ke apartement Dean. Sebenarnya dia merasa malu jika harus menghampiri Gavin duluan. Tapi mendengar cerita Bima dia jadi tidak tega jika harus mengabaikan Gavin lebih lama lagi.


"Gavin di dalam, masuk aja Nay" ujar Dean seraya menunjuk pintu kamar nya.


"Boleh temenin ga?" pinta Naya merasa canggung, entah kenapa dia merasa sedikit takut bertemu dengan Gavin sendiri.


"Sini gue temenin" ajak Bima meminta Naya mengikutinya.


Setelah berada di dalam kamar Bima dengan santainya menghampiri Gavin dan langsung menepuk pundaknya dengan kasar.


"Vin ada istri lo!"


"Ga mempan sat!" sarkas Gavin meskipun dengan nada lemahnya.


"Yee ga percaya, gue serius *****!"


"Gue udah capek lo boongin dari kemaren, sana pergi lu" usir Gavin yang masih enggan berbalik.


Bima menghela nafasnya lalu kembali menghampiri Naya yang masih berdiri di dekat pintu, "Lo liat kan, suami lo udah gila" ucap Bima tak tanggung-tanggung.


"Lo ngomong sendiri dah!" suruh Bima dan langsung keluar kamar.


Naya hendak menahan Bima agar jangan keluar, tapi dia sudah terlanjur membuka pintu dan menutupnya kembali. Naya kembali beralih menatap Gavin yang seperti nya kembali tertidur.


Dengan langkah pelan Naya mendekat ke Gavin, dia duduk di tepi kasur lebih tepatnya di samping Gavin dan langsung bisa menatap wajah pucat nya. Naya seakan ingin meluruhkan air matanya melihat Gavin yang terlihat tak bertenaga.


Tanpa sadar Naya sudah menaruh tangannya di pipi Gavin lalu mengusapnya lembut. "Maafin aku Vin"-batinnya


"Kayaknya gue mimpi lagi dah" gumam Gavin dengan mata yang masih tertutup, dia bisa merasakan tangan lembut Naya yang berada dipipinya.


"Kamu ga mimpi Vin, ini aku" bisik Naya di telinga Gavin.


"Mimpinya nyata bat ****" gumam Gavin lagi lalu tersenyum tipis.


Entah dorongan dari mana Naya malah mencium pipi Gavin sekilas, membuat empunya langsung membuka matanya. Gavin menatap heran pada Naya, dia masih mencoba mencerna apakah ini masih mimpi atau bukan.


"Ini aku Vin, Naya"


Bukannya membalas Gavin malah langsung berbalik dan membelakangi Naya, tentu saja hal itu membuat Naya keheranan, apakah Gavin tak menginginkan keberadaanya?!


"Ngapain kesini Nay? Kalau kamu cuma kasihan mending pergi deh! Aku tau aku belum bisa di maafin" ucap Gavin membuat Naya sedikit tersinggung.


Naya mengatur nafasnya pelan, dia tahu sekarang bukanlah saatnya untuk mementingkan egonya. Dengan lembut Naya memeluk tubuh Gavin yang terasa hangat.


"Aku kangen sama kamu Vin!" lirih nya tapi Gavin tak membalas apapun.


"Badan kamu panas banget, kamu udah minum obat?" tanya Naya mencoba mencairkan suasana.


Gavin tak menjawab lagi, saat ini dia bingung harus bersikap bagaimana. Harusnya dia yang membujuk Naya tapi kenapa sekarang malah Naya yang seolah-olah membujuknya.


"Kamu makan dulu yah, aku udah beli makanan buat kamu" bujuk Naya lagi.


"Vin.." panggil Naya karena Gavin tak kunjung meresponnya. Naya menarik paksa tubuh Gavin agar kembali berbalik padanya. Dan akhirnya dia bisa kembali melihat wajah suaminya itu. Tapi bukannya membalas tatapan Naya, Gavin malah menutup wajah nya dengan lengannya.


"Apaan sih, kamu ga mandi seminggu aja masih ganteng kok" seru Naya lalu menarik tangan Gavin.


"Kamu terakhir makan kapan sih?! Kok tirusan gini?" tanya Naya sadar dengan perubahan wajah Gavin.


"Mm kayaknya kemarin pagi dah, itupun makan tempe gosong buatan Bima" jawab Gavin dengan nada lemahnya.


"Kamu keras kepala banget deh, yaudah sekarang pokoknya harus makan!" finish Naya dan Gavin tentu saja tak bisa menolaknya lagi.


Naya menyuapi Gavin dengan penuh kesabaran, dia sudah menepis jauh-jauh amarahnya yang kemarin. Yang terpenting sakarang Gavin harus sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi.


Selesai makan Gavin meminta Naya untuk tetap menemaninya, dia masih ingin berlama-lama dengan istrinya itu. Naya mengusap lembut kepala Gavin yang masih berbaring lemah saat ini, dia benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.


"Nay masih marah sama aku ga?!" tanya Gavin kembali membuka pembahasan.


"Sebenarnya masih sih, cuma aku ga tega kalau liat kamu sakit kayak gini"


"Jadi kalau aku ga sakit kamu ga bakal dateng gitu?" tanya Gavin menaikkan alisnya.


"Hahaha ga gitu juga, aku sebenarnya udah ga emosi-emosi banget sama kamu" jawabnya.


"Aku minta maaf Nay" Naya diam sesaat, sakit hatinya kemarin memang belum sembuh, tapi dia tahu Gavin meminta maaf dengan tulus. Dia hanya butuh penjelasan lebih mengenai kejadian kemarin.


"Aku bakal maafin kamu, kalau kamu jelasin yang kemarin dengan jujur"


"Kalau itu pasti, aku bakal jelasin langsung bareng sama Luna biar kamu makin yakin dan percaya"


"Yaudah, makanya cepat sembuh"


"Ini udah sembuh kok liat kamu!"


"Halahh sakit aja masih sempet ngegombal, pokoknya kamu ga boleh sakit-sakit tanpa izin aku!" peringat Naya mengangkat jari telunjuknya.


"Emang ada yang kayak gitu yah?!"


"Ada, aku yang buat. Awas aja kamu sakit lagi"


"Iyah-iyah, asal kamu ga pergi-pergi lagi. Soalnya obat aku itu kamu Nay"


"Kan ngegombal lagiiii"


"Ga gombal sayang, aku seriussss"


"Udah stop, kamu istirahat aja sekarang!" perintah Naya.


"Kamu tetep disini kan?!" tanya Gavin dengan wajah memohon.


"Iyahh"


•••


Lanjut besok yah, jangan lupa kasih like dan komen yah :D


Makasih udah baca sampai sejauh ini, kalian segalanya :) ♡♡♡♡♡♡♡♡♡