Nayara

Nayara
•S2•(8)•



Hallo guys, maaf kemarin episode 6 ga sengaja ke double atau ter-up dua kali. Oleh karena itu kalian bisa cek episode 7 di episode sebelum ini yah. Karena part ini adalah episode 8. Semoga di maklumi hehe


Untuk yang sudah baca part 7(yg udah di perbaiki semalam) abaikan aja pesan ini :)


•••


"Sekarang bilang apa mau kamu"


"...."


"Kalau kamu diem kayak gini, lebih baik aku pergi Nay"


"Vin apa kamu benci sama aku? Apa aku ga bisa di maafin?"


"Aku ga bisa benci sama orang yang aku cintai, tapi aku juga gabisa egois untuk lihat kamu lama-lama Nay!" setelah mengutarakan ucapannya Gavin mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia terlihat sangat frustasi bertemu Naya tiba-tiba.


"Vin.."


"Jangan panggil nama aku dengan nada seperti itu Nay! Bukan cuma kamu yang tersakiti disini!" ujar Gavin makin lama makin dingin ke Naya. Sebenarnya Naya sudah menduga ini akan terjadi, tapi ini tetap saja terlalu menyakitkan mendapat sikap dingin dari Gavin.


"Maafin aku Gavin, sepertinya aku terlalu berharap banyak kemarin. Aku benar-benar sadar sekarang, kita gabisa seperti dulu lagi" Gavin mengernyit, ia masih mencoba mencerna ucapan Naya barusan.


Seperti dulu?!


"Gavin, aku mau bilang sesuatu sama kamu. Sekarang aku ga berharap--"


"Apakah setelah kamu bilang sesuatu itu kamu akan pergi lagi?!" sela Gavin menatap lekat ke Naya.


Naya diam, ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini Naya hanya bisa merasakan rasa sakit karena melihat sikap dingin Gavin padanya.


"Vin.."


"Apa?"


"Aku boleh megang wajah kamu ngga?" pertanyaan random dari Naya berhasil membuat Gavin membuang pandangannya lagi.


Entahlah, Gavin sendiri tidak tahu harus menjawab boleh atau tidak untuk Naya. Pikiran dan sikapnya tak bisa menyatu, ia sangat ingin memeluk Naya saat ini, tapi entah kenapa itu terlalu berat untuk ia lalukan.


"Kamu kurusan Vin.."


Sreetttt..


Gavin tiba-tiba menepis tangan Naya dari pipinya. Ia tak suka merasakan kelembutan tangan Naya, Gavi terlalu takut merindukan hal itu lagi nantinya.


"Aku harus kerja, aku harap kamu segera balik ke Singapura. Jangan lama-lama disini!" ujar Gavin lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi keluar dari Cafe.


Hiks.. Hiks.. Hiks...


Sepeninggalan Gavin, Naya kembali menangis. Ia menunduk dan menyembunyikan air matanya di antara lipatan tangannya.


Tak berapa lama dari situ, Naya merasakan usapan lembut di punggunggnya. Seakan berharap sesuatu, Naya langsung mengangkat pandangannya, untuk memastikan siapa yang mengusap punggungnya.


"Riana?!"


"Aku udah lihat semuanya Nay, aku nunggu kamu di kampus kelamaan. Aku khawatir, jadi aku kesini. Tapi sepertinya kamu udah ketemu sama dia, ak--"


"Rianaaaa Hwaaa.."


Tiba-tiba saja tangis Naya makin pecah, ia langsung masuk ke pelukkan Riana bak anak kecil yang menangis di pelukan ibunya.


"Aku sayang banget sama dia Na hiks!"


"Bahkan ketika dia tak membalas tatapanku, jantungku masih saja berdegub kencang!"


"Apa yang harus aku lakuin Na, dia benci sama aku!" Naya makin memuncakkan tangisnya. Pelukan Riana seakan tak bisa membendung rasa sakitnya. Kenapa kamu berubah Vin hiks...


"Nay kita pulang dulu yah, ga enak kalau kamu nangis disini. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng" Riana mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu. Ia seakan bisa merasakan rasa sakit Naya, dan ia benar-benar ingin membantu Naya dengan cara apapun.


•••


Terimakasih sudah baca chapter ini, jangan lupa like yah, mau komen juga boleh asal yang sopan hehe. Chapter berikutnya akan di up segera. Maaaciww💕