
Mata Naya tak berhenti menatap pantulan dirinya yang ada di cermin meja riasnya. Make-up tipis yang menempel di wajah nya sangat membuatnya risih dari satu jam yang lalu. Naya sama sekali tidak terbiasa memoles make-up di wajahnya, tapi hari ini dia harus melakukan itu.
Ceklek..
Pintu kamar mandi baru saja terbuka, menampakan Gavin yang sudah siap dengan setelan kemeja hitam dan jas casual yang sangat cocok di badan atletisnya.
Naya mengigit bibir bawahnya ketika menangkap mata Gavin yang menelisik penampilannya saat ini. Haruskah ia menghapus make-up nya?! Kenapa Gavin menatapnya begitu intens.
"Gavin.. I-ini aku--"
"Cantik kok" sela Gavin langsung tahu kekhawatiran Naya.
Dia menghampiri Naya dan langsung berlutut di hadapannya. Seketika itu pula Naya menciut, tatapan Gavin benar-benar membuatnya malu.
"Istriku emang cantik" ucap Gavin seraya tersenyum.
"Aku ga kelihatan aneh kan?"
"Nggak"
"Menor?"
"Nggak"
"Kamu cantik, dan akan selalu cantik!" sambung Gavin.
"Vin..."
"Mm?"
"Aku--"
"Gapapa, ada aku sayang.. Jangan takut" ujar Gavin memotong ucapan Naya. Usapan lembut dia berikan di bahu Naya agar gadis itu memiliki keberaniannya kembali.
"Ayo berangkat, daritadi Bima udah nelfon mulu!"
Naya mengangguk kemudian berdiri dari duduknya, tapi tiba-tiba Gavin menariknya hingga jarak antara mereka berdua terkikis habis.
"Peluk dulu, soalnya nanti disana ga bisa dekat-dekat sama kamu" ujar Gavin mendekap Naya erat-erat.
Jangan lupakan hubungan mereka yang selalu di tutupi selama ini, semua orang juga tahu kalau mereka berdua hanya sepupu, di depan umum maksudnya. Gavin tidak bisa leluasa mendekati Naya, karena itu bisa membuat orang curiga seperti sebelumnya.
Tak puas memeluk Naya, Gavin malah mencium pipi Naya secara bergantian kemudian beralih ke kening Naya, dan terakhir Gavin memberikan ciuman singkat di bibir cherry Naya.
"Manis.. Pengen lagi" ujar Gavin ingin mendekatkan wajahnya ke wajah Naya. Tapi sayangnya Naya sudah lebih dulu menutup bibir Gavin.
"Kita udah telat Gavin" ujar Naya sukses membuat Gavin menghela kecewa.
"Ayuk"
°°
"Belum, katanya ga lama lagi nyampe kok"
"Oh yaudah, kita nunggu disini aja"
Sejak lima menit yang lalu, Gavin dan Naya sudah sampai di rumah Bima. Tapi mereka berdua belum beranjak turun dari mobil karena Riana belum datang.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Handphone Gavin bergetar menandakan panggilang masuk, ia segera merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih itu.
"Hallo Bim? Ngapa?"
"..."
"Gue udah nyampe, bentar lagi masuk"
"..."
"Oke"
Gavin mematikan sambungan telefon nya dan kembali menatap manik Naya. "Inget di dalem ga boleh deket-deket sama cowok lain" peringat Gavin.
"Siap suamii" balas Naya mengedipkan satu matanya.
°°
Ternyata benar kata Gavin, Bima memang mengundang semua anak-anak satu angkatan. Terbukti saat ini ruangan sudah begitu ramai dan sangat berisik, kebanyakan dari mereka sibuk berbincang satu sama lain dan menikmati makanan yang sudah di sediakan.
Kalau boleh jujur Naya sebenarnya tidak terlalu suka suasana seperti ini, tapi mengingat ada Riana yang begitu antusias dengan acara ini, Naya terpaksa memilih untuk bertahan.
Dua gadis remaja itu duduk di salah satu kursi yang berada di sudut ruangan, Naya meminta Riana agar tidak terlalu berbaur dengan anak-anak lainnya. Takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Sibuk dengan cemilannya tiba-tiba seseorang menarik tangan Naya dan membawanya ke tengah-tengah acara. Naya tentu saja kaget, dia berusaha menepis tangan orang yang menarik nya tapi tenaganya justru kalah jauh.
•••
Okeh jangan lupa like dan komen yah :)
♡
♡
♡