
Ucapan itu langsung membuat Nata merasa menyesal karena telah bermain peran dengan baik. Terbersit pikiran untuk bersikap buruk agar hubungan antara dia dengan Nathan harus diperhitungkan kembali oleh kedua belah pihak keluarga. Tapi sayang, apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Nata terpaksa menerima takdir dengan apa yang sudah keluarganya sepakati.
....
Sore setelah keputusan dia dengar, Nata bergegas menghubungi Nathan untuk bicara. Namun seperti biasa, Nathan akan bersikap seperti acuh tak acuh padanya. Hal yang ia pikir sangat membosankan dari Nathan. Tapi, itu adalah poin penting yang membuat dia masih bertahan hingga saat ini.
Karena Nathan terkesan cukup tidak ingin ambil pusing dengan dunia sekeliling. Hal itu membuat Nata sedikit percaya kalau Nathan juga tidak suka dengan perjodohan ini.
Jawaban Nathan saat dia mengatakan soal pernikahan mereka yang di percepat juga terdengar cukup enteng. Seperti tidak ada beban yang terbersit dalam hati Nathan sedikitpun.
"Nikah, ya nikah. Apa susahnya sih, Nona? Lagian, kita juga saling tahu apa yang akan kita lakukan setelah kita menikah, bukan? Jadi, kenapa kamu kedengarannya cukup keberatan dengan keputusan yang sudah keluarga ambil?"
Enteng. Sangat enteng bagi Nathan. Tapi tidak bagi Nata. Meski apa yang Nathan katakan itu ada benarnya, tapi tetap saja, Nata merasa kesal dengan jawaban enteng tanpa beban itu.
Nata pun memilih langsung memutuskan sambungan panggilan secara sepihak akibat rasa kesal yang ada dalam hatinya sekarang.
"Manusia seperti apa sih dia? Gak ada perasaan banget. Uh ... jika saja aku punya pilihan lain, maka aku tidak akan sudi untuk menjalin hubungan dengannya. Walau hanya hubungan sebatas kerja sama seperti saat ini."
Nata menggerutu kesal sambil memukul pelan layar ponsel sebanyak beberapa kali.
Jalan hidup Nata terasa cukup sulit. Saat curhat dengan sahabat, si sahabat malah membela Nathan. Hal yang sangat-sangat menyebalkan buat Nata sebagai sahabat yang haus akan pembelaan. Karena di dalam keluarga, dia juga diperlakukan sama. Tidak mendapat pembelaan sedikitpun.
Mama, papa, bahkan opanya yang biasa paling mendukung semua keputusan yang dia buat, eh, sekarang malah tidak mendukung sedikitpun. Entah itu karena keputusan tersebut datang dari opanya, maka dari itu opa tidak ingin membela Nata. Atau, mungkin karena Nata yang memang agak berlebihan dalam menolak untuk menikah. Yang jelas, Nata sangat merasa sendirian sekarang.
Hari demi hari berlalu sangat cepat bagi Nata. Tanpa terasa, dua minggu yang keluarga janjikan untuk melaksanakan pernikahan akhirnya tiba juga. Hari yang sangat-sangat tidak membahagiakan buat Nata.
Sampai, gaun pengantinnya saja keluarga yang pilih. Tanpa ada konfirmasi, tau-taunya gaun itu sudah datang. Nata pun malas untuk berkomentar tentang persiapan pernikahan yang terkesan sangat memaksa hatinya ini. Bagi Nata, biarlah pernikahan itu berjalan dengan sendirinya begitu saja. Mengalir seperti air yang jatuh dari ketinggian.
Saat ini, Nata sedang duduk di depan meja rias. Dia sangat cantik dengan gaun biru muda yang begitu pas dengan tubuhnya yang ramping.
Nata memperhatikan gaun itu dengan seksama. Terlihat sangat mewah, tapi itu pantas ia kenakan karena ini adalah hari sakral dalam hidup. Namun, ada yang kurang dengan gaun itu.
"Kenapa mama pilih warna biru muda yah? Apakah mama lupa kalau aku sukanya warna hijau tua? Apa karena gak ada warna hijau tua sampai mama ambil keputusan buat milih gaun warna ini?" Nata bicara sendiri sambil terus memperhatikan bajunya.
"Coba baju ini warna hijau tua, pasti tampilan ku akan semakin sempurna malam ini."
"Tapi ... gak ada yang salah juga dengan baju ini. Orang yang menikahi aku bukan orang yang aku harapkan. Jadi, wajar soh kalo gaun ini tidak sesuai yang aku harapkan." Nata lagi-lagi bicara pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan tersebut terdengar terbuka. Dari balik pintu muncul sang mama dengan senyum lebar merekah yang terlihat sangat bahagia.
"Ya ampun, cantik banget kamu, Sayang. Uh ... gak sabar deh mama rasanya ingin cepat-cepat lihat kamu berjalan bersama dengan Nathan di atas panggung."
"Panggung?" Nata seperti orang yang lupa ingatan seketika.
Sang mama yang mendapat pertanyaan itu langsung mengangkat satu alisnya karena merasa aneh. "Kamu kok kayak orang bingung gitu, Nat? Gak lupa, bukan? Kalau malam ini adalah malam resepsi kalian berdua?"
"Uh, aku lupa." Nata berucap sambil menepuk pelan dahinya.
Iya, dia lupa akan dunia sekeliling beberapa saat. Malam ini adalah malam resepsi, sedangkan dirinya sekarang sudah sah jadi istri dari Nathan Murad yang terkenal akan kekayaan juga kedudukannya. Karena ijab kobul sudah berlalu tadi sore di kediaman mereka. Maka malam ini, hanya tinggal merayakan pernikahan keduanya saja.