
Iya, dia lupa akan dunia sekeliling beberapa saat. Malam ini adalah malam resepsi, sedangkan dirinya sekarang sudah sah jadi istri dari Nathan Murad yang terkenal akan kekayaan juga kedudukannya. Karena ijab kobul sudah berlalu tadi sore di kediaman mereka. Maka malam ini, hanya tinggal merayakan pernikahan keduanya saja.
Meskipun pernikahan terkesan tertutup karena tidak banyak tamu yang datang, tapi pernikahan itu digelar cukup mewah. Resepsi memang diadakan di kediaman Nata, tapi semua disiapkan dengan sangat luar biasa.
Ada panggung mewah di samping rumah. Yang bahkan, lahan kosong itu sengaja di bikin hanya untuk pernikahan Nata dengan Nathan. Yah, walaupun semua dana keluarga Nathan yang menanggung, tapi pernikahan itu tidak banyak dari belah Nathan yang ikut campur.
Entah karena apa, keluarga Nathan seperti tidak ingin ada banyak orang tahu soal pernikahan putra mereka. Karena itu, semua dilimpahkan pada keluarga Nata.
Namun, itu Nata anggap wajar. Karena anak mereka hanya ada satu. Jadi, mungkin mereka belum siap untuk mengabarkan pada publik soal pernikahan itu.
Tapi hatinya yang ragu tetap tidak ingin menerima apa yang benaknya anggap wajar. Jadi, diapun memilih mempertanyakan itu pada sang mama.
"Ma, kenapa pernikahan ini hanya di beratkan pada kita? Kenapa juga tidak ada yang boleh mendokumentasikan foto pernikahan? Dan, kenapa hanya sedikit orang dari pihak mereka yang datang? Apakah pernikahan ini sebenarnya hanya diinginkan oleh keluarga kita saja?"
Pertanyaan itu membuat mama Nata langsung mengukir senyum. "Kamu itu mikir apa sih, Nat? Pernikahan ini sudah sama-sama di sepakati oleh kedua belah pihak. Bukan hanya dari kita saja, tapi juga karena keinginan dari pihak keluarga Murad, Sayang."
"Mm ... untuk pertanyaan kamu barusan itu, sebenarnya, pihak keluarga Nathan ingin pesta yang sangat meriah. Tapi, Nathan tidak menginginkannya. Sama seperti kamu, Nathan juga awalnya menolak perjodohan ini. Tapi entah karena apa, dia tiba-tiba setuju. Namun dengan syarat, pernikahan yang akan dia laksanakan tidak boleh diketahui oleh dunia luar. Maksudnya, tidak tersebar luar di dunia maya. Tidak ada yang boleh tahu selain keluarga dekat. Gitu, Sayang."
"Oo .... " Nata sekarang paham dengan keadaan yang sedang terjadi. Ternyata, awalnya, Nathan juga menentang perjodohan itu. Tapi, mungkin karena kedatangannya yang ingin bekerja sama waktu itu, makanya Nathan setuju. Dan, pada akhirnya, pernikahan ini terlaksana.
'Ya Tuhan, ini sebenarnya, apa sih yang aku lakukan? Apa aku salah langkah sebenarnya? Aku salah karena telah mengajak Nathan untuk bekerja sama. Karena sepertinya, tanpa aku ajak kerja sama, pernikahan ini mungkin tidak akan pernah terjadi.'
Nata menyesali apa yang sudah terjadi. Dia begitu merutuki dirinya yang ia anggap terlalu bodoh karena menggambil keputusan tanpa berpikir ulang terlebih dahulu. Dan sekarang, dia yang sedang terjerat masalah besar.
'Agh! Andai saja aku tidak datang waktu itu. Dan, tidak ada kata kerja sama yang terucap, maka semua ini tidak akan pernah aku alami. Aku yakin kalau Nathan itu bisa menyelesaikan masalah dengan mudah. Tanpa ada ajakan kerja sama dari aku tentunya.'
Sementara Nata sibuk dengan apa yang ia pikirkan, sang mama malah sibuk memperhatikan gerak-gerik Nata yang terlihat cukup aneh saat ini.
Bagaimana tidak aneh? Entah beberapa kali sudah dia dengan alam bawah sadarnya memukul dahi dengan pelan. Lalu, dia juga entah beberapa kali mengigit punggung tangannya sebagai pelampiasan hatinya yang kesal.
"Kamu ... sedang ngapain sih, Nat? Mikir apa sih kamu ini? Terus, bersikap aneh barusan itu kenapa? Apa karena kesal akibat Nathan yang mengambil keputusan tanpa berunding dengan kamu terlebih dahulu."
"A .... " Belum sempat Nata menjawab, sang mama malah angkat bicara kembali. Kali ini, dengan tangan yang menyentuh lembut kedua bahu Nata.
"Tidak perlu kesal akan semua itu, Nat. Karena mama yakin, Nathan pasti punya alasan yang kuat dalam menggambil keputusan. Lagian, kamu sendiri yang bilang gak ingin ambil pusing dengan pernikahan yang akan kamu jalani, bukan?"
"Oh ya, satu hal lagi yang mama lupakan, Nat. Gaun yang kamu pakai malam ini adalah gaun terbaik yang Nathan pilih sendiri buat kamu? Apa kamu suka dengan gaunnya."
Sontak, Nata langsung membulatkan mata mendengar apa yang mamanya katakan. Ternyata, itu alasan gaun yang ia pakai malam ini berwarna biru muda, bukan hijau tua seperti yang ia harapkan. Karena yang memilihkan gaun itu adalah orang asing yang tidak tahu akan apa yang ia sukai.