Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 39



"Ini semua gara-gara kamu. Coba aja kamu tidak datang dan bikin masalah. Maka vila ini tidak akan ada keributan. Paham!?" Nathan bicara dengan nada kesal pada Salsa. Setelah itu, dia menoleh ke arah Nata.


"Dan, ini juga karena kamu. Gak tahu diri kamu ini yah. Sudah numpang di sini. Malah bikin rusuh. Perempuan itu selalu menyebalkan. Selalu bikin rusak suasana."


Mendengar kata-kata itu, mendidih darah Nata rasanya. Tidak bisa lagi ia diam dan menerima semua ucapan pahit dari Nathan. Karena Nathan sungguh sangat keterlaluan.


"Nathan Murad. Kau lahir dari seorang perempuan. Jangan lupakan hal itu. Jika perempuan tidak menyenangkan, itu bukan murni salah kami. Tapi tanyakan pada dirimu, kau sudah bikin kesalahan apa sampai kami bisa bikin kamu merasa tidak tentram."


"Sekali lagi aku tegaskan padamu, tuan muda Nathan Murad yang terhormat. Pantas kau ditinggalkan oleh perempuan yang kau cintai. Karena kelakuanmu tidak yang tidak senonoh. Maka kamu tidak layak untuk mendapatkan cinta dari perempuan manapun. Sungguh, kau ditinggalkan bukan salah perempuan. Tapi salah mu sebagai pria yang tidak tahu diri."


Setelah berkata hal tersebut, Nata lalu beranjak meninggalkan Nathan dan Salsa sesegera mungkin. Hatinya sudah merasa puas menyoraki Nathan atas masa lalu yang buruk yang telah menimpa Nathan selama ini. Karena kepuasannya itu, dia tidak ingin tinggal di sana lagi. Karena jika ia tetap tinggal, Nathan pasti akan merusak rasa puas yang sudah ia dapatkan sebelumnya.


Sementara itu, Nathan yang mendengar ucapan panjang lebar dari Nata barusan, sontak merasa tak berdaya. Rasa sakit, perih akan perasaan masa lalu, juga rasa marah akan perbuatan Nata barusan bercampur jadi satu. Mana Nata malah langsung meninggalkan dirinya begitu saja tanpa membiarkan dia bicara terlebih dahulu. Hal tersebut membuat Nathan tidak bisa menahan amarah terlalu lama.


Nathan pun berteriak memanggil nama Nata dengan keras. "Nathali! Kurang ajar kamu! Jangan pergi begitu saja!"


Sayang, teriakan itu tidak Nata indahkan. Dia malah semakin mempercepat langkah kakinya agar bisa secepatnya menjauh dari Nathan. Hal itu tentu semakin membuat Nathan bertambah marah. Tidak ia hiraukan lagi keberadaan Salsa yang masih diam mematung karena kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


"Nathalia ... !"


Prak! Sebuah guci besar langsung pecah berserakan akibat pukulan dari tangan Nathan yang penuh dengan amarah.


"Aaa .... " Salsa lalu berteriak keras karena kaget dengan apa yang sudah Nathan lalu. Lalu, dengan langkah besar karena takut, Salsa langsung berlari meninggalkan Nathan sendirian.


Sungguh hal yang luar biasa bagi Salsa, dia kaget sampai hampir jantungan akibat apa yang baru pertama kali ia lihat. Dia bergegas ingin pulang dan berniat tidak ingin datang ke vila itu lagi.


Namun, ketika ia ingin keluar dari gerbang vila, dia melihat Nata yang baru masuk ke dalam sebuah mobil. Salsa pun langsung mengikuti ke mana mobil yang Nata tumpangi itu pergi.


Namun, karena tidak hati-hati akibat fokus memperhatikan Nata, Salsa malah tersandung batu pembatas trotoar. Salsa pun reflek langsung mengeluh dengan suara keras.


"Aduh! Ssstt ... ah! Sakitnya!"


Tentu saja teriakan itu langsung membuat Nata memutar tubuh karena penasaran. Apalagi suara yang ia dengar cukup ia kenali dengan baik. Karena itu, rasa ingin tahu langsung muncul dengan cepat setelah suara itu menyentuh kupingnya.


"Salsa." Nata berucap dengan nada tak percaya. Sementara Salsa hanya bisa nyengir sambil terus meringis menahan sakit dengan tangan yang terus menggosok tulang keringnya dengan lembut.


"He ... kak Nata."


"Kamu ... kenapa kamu bisa ada di sini, hah?"


"Aku ... aku .... "


Salsa merasa tidak enak untuk bicara terus terang. Sementara Nata yang sering bersikap dewasa meski umur mereka sebaya, langsung membantu Salsa untuk bangun dari jatuhnya.


"Kamu ngikutin aku? Kenapa? Nathan yang minta?" Nata berkata dengan nada tegas. Hal tersebut langsung membuat ekspresi Salsa jadi semakin serba salah.


Salsa masih menunda untuk menjawab. Nata pun tidak memaksa Nata untuk langsung menjawab apa yang dia tanyakan. Nata malah menuntun Salsa untuk duduk di salah satu kursi yang paling dekat dengan keberadaan mereka.


"Maaf, kak Nata. Aku ... gak maksud buat buntutin kamu kok. Hanya .... " Salsa lagi-lagi menggantungkan kalimat yang ingin ia ucap. Hal tersebut membuat Nata merasa tidak ingin bersabar terus menerus.


"Hanya apa? Katakan saja yang sejujurnya? Kamu sudah bikin aku di marahi Nathan tadi. Sekarang, kamu mau buat ulah apa lagi?"