Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 29



Di sisi lain, Nathan masih diam di kamarnya. Entah kenapa, pikiran akan Nata masih terus terbayang di kepala Nathan. Dan, ucapan Nata terakhir sebelum pergi dari kamarnya tadi pagi juga membuat Nathan terus memikirkannya.


"Kenapa perempuan itu bisa mengatakan kata-kata itu? Apa dia pikir, yang tertindas itu hanya dia di sini? Dasar perempuan yang tidak sadarkan diri. Seenaknya bicara, tapi tidak mengerti apa yang dia bicarakan."


"Ya Tuhan. Perempuan itu ternyata memang sangat ribet. Semuanya, tanpa ada yang berbeda satupun. Hanya bisa menebar pesona. Setelah terjadi masalah, dia pikir hanya dia yang sangat tersiksa. Dasar kurang ajar!"


....


Nata tiba di restoran yang Nila katakan. Ternyata, di sana tidak hanya ada Nila sendiri saja. Tapi, Niko juga ada di situ. Duduk manis, ngobrol bersama Nila.


Ternyata, mereka berdua semakin dekat saja. Sangking asiknya ngobrol, mereka pun tidak bisa memperhatikan sekeliling. Terbukti dari kedatangan Nata yang tidak mereka sadari karena keasikan ngobrol berdua.


"Ehem! Uhuk! Uhuk!" Nata langsung memberi kode pada kedua manusia yang sibuk dengan dunia mereka berdua saja.


Tentu saja kode itu langsung mereka sambut dengan wajah yang tidak enak karena kaget. Keduanya juga langsung tersenyum nyengir kuda yang cukup tidak enak dilihat.


"Uh, saat aku belum juga tiba, kamu sibuk menghubungi aku. Minta aku datang secepatnya. Eh, pas aku udah datang, malah gak dianggap sama sekali. Ah, terasa sakit sekali. Dunia orang pacaran itu memang cukup menyakitkan buat orang lain. Karena mereka menganggap dunia ini punya mereka berdua saja. Sedangkan yang lain hanya ngontrak." Nata berucap panjang lebar dengan nada menggoda juga nada kesal yang dibuat-buat.


Tentu saja, apa yang Nata katakan barusan itu langsung mendapat sanggahan dari keduanya. Baik Niko maupun Nila, keduanya kompak mengatakan kalau mereka tidak sedang berpacaran saay ini.


"Kita nggak pacaran!" ucap Nila dan Niko bersama-sama.


Tentu saja, ucapan itu langsung membuat Nata tersenyum dengan wajah yang sama. Wajah mengejek Nila dan Niko.


"Uh, kompaknya kalian ngejawab. Udah bener-bener satu hati deh kek nya kalian berdua ini."


Ucapan itu langsung membuat Nila malu. Dia berusaha menjelaskan pada Nata, sementara Niko terlebih cukup senang sekarang.


"Kita nggak pacaran, Nathali. Aduh, gimana sih kamu ini. Kita nggak sedang pacaran. Kalo menjawab secara serentak barusan itu yah karena kebetulan aja kok."


"Ih, serah kamu deh mau mikir apa. Yang jelas, kita nggak pacaran. Cuma ngobrol tentang kalian aja. Eh, nah ini dia. Kita itu ngobrol soal kamu tau. Gimana? Apa kamu udah berhasil minta maaf pada Nathan?"


Nila berucap dengan penuh semangat. Dia semangat karena punya cara untuk mengalihkan pembicaraan Nata barusan. Dari membahas soal dirinya dengan Niko, kini langsung berubah membahas hubungan Nata dengan Nathan.


Karena Nila sudah memulai pembahasan, Niko juga tidak ingin ketinggalan sekarang. Dia juga ikut membahas hal yang sama secepatnya.


"Iya, Nat. Gimana? Apa yang sudah terjadi antara kamu dengan Nathan. Dia terima kamu atau nggak?"


Pertanyaan Niko emang sangat jauh berbeda dari Nila. Karena Niko tahu, untuk mendapat maaf dari Nathan, tidak semudah yang orang lain bayangkan. Karena hati Niko itu terlalu keras. Apalagi setelah dia merasa tersakiti. Itu akan sangat sulit untuk mendapatkan maaf darinya.


Sementara itu, Nata yang menerima pertanyaan langsung melepas napas kasar. Wajahnya pun langsung berubah seketika. Dari bahagia, kini langsung jadi murung seketika.


Nila yang tahu akan perubahan si sabahat, langsung menatap Nata dengan penuh rasa simpati. Dia juga langsung menyentuh pundak Nata dengan lembut.


"Ada apa, Nat? Kamu tidak berhasil ya?"


"Iyah. Aku gagal. Nathan tidak mau memaafkan aku sama sekali. Bahkan, dia langsung memarahi aku habis-habisan. Gak tahu apa yang dia pikirkan. Kelihatannya, tidak akan ada tempat buat aku untuk memperbaiki semuanya." Nata berucap dengan nada sedih dan kecewa.


Nila yang melihat hal tersebut, lalu memeluk tubuh sang sahabat dengan erat. "Sabar yah. Nata ku harus sabar karena dia bukan tipe perempuan yang lemah."


Sementara Niko, dia langsung melepas napas kasar. "Huh. Sudah aku katakan kalau Nathan itu sulit untuk memaafkan. Apalagi setelah dia sakit hati, maka permintaan maaf tidak akan ada artinya buat Nathan."


"Tapi, aku ingin melihat keseriusan mu, Nata. Kamu bilang tidak akan menyerah sebelumnya. Mm ... baru aja sekali kena amukan Nathan, kamu udah nyerah aja. Gimana sih kamu," ucap Niko dengan nada yang mengejek.


Tentu saja ucapan dengan nada ejekan itu langsung membuat Nata dan Nila menatap tajam ke arah Niko. Mereka terlihat sangat kesal dengan apa yang Niko katakan barusan.