Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 6



Bukan karena rasa cemburu terhadap Niko yang baru saja dia anggap pria baik dan luar biasa ini. Tapi, dia merasa kalau pria itu agak bajingan. Bisa-bisanya menatap perempuan yang baru ia kenal dengan tatapan lekat. Hal yang menurut Nila sangat tidak wajar.


Namun, ada hal yang tidak Nila ketahui. Karena apa yang Nila pikirkan berbanding jauh dari apa yang Niko pikirkan pula. Karena itu, dia salah paham pada Niko sekarang.


Niko malah langsung membalas sengitnya ucapan Nila dengan senyum manis. Sepertinya, ucapan itu tidak sedikitpun merusak mood baik Niko.


"Ah, iya deh kalo gitu. Maafkan aku, nona-nona. Aku akan mikir nanti saja. Mm ... tunggu di sini sebentar. Aku akan datang ke ruangan Nathan buat bicara."


"Ya." Nila menjawab dengan nada acuh.


Niko masih tetap tersenyum. Sambil beranjak meninggalkan Nila dan Nata, dia memikirkan hal yang cukup membahagiakan hatinya. Ternyata, pertemuan pertama itu membuat dia merasa cukup senang.


'Aku yakin, Nathan pasti tertarik dengan perempuan ini. Sepertinya, ini cocok dengan sifat Nathan yang tidak suka dengan perempuan yang bermuka dua seperti sebelumnya.' Niko bicara dalam hati sambil terus berjalan menuju ruangan Nathan.


Sampai di depan ruangan yang tertutup rapat dengan nama Nathan di atas pintu masuk, Niko langsung mengetuk pintu tersebut dengan ketukan pelan. Nathan yang fokus dengan pekerjaannya, tentu langsung terusik akibat ketukan tersebut. Meskipun itu ketukan pelan, tapi baginya, itu sudah cukup untuk mengganggu konsentrasi.


"Masuk!" Nathan berucap sambil terus sibuk dengan pekerjaannya.


Niko masuk ke dalam dengan cepat. Mata Nathan pun langsung melirik dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa, Nik?" Nathan bertanya masih dengan posisi yang sama dengan sebelumnya. Fokus dengan laptop yang ada di hadapan mata.


"Ada hal yang ingin aku katakan padamu, Than. Itu ... di luar sana ada calon istrimu."


Sontak saja, kata-kata itu langsung membuat tangan Nathan tiba-tiba menghentikan gerakannya. Seperti waktu yang tiba-tiba berhenti, Nathan pun seolah-olah ikut membeku seketika.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Nathan setelah beberapa saat menghentikan gerakannya.


Dan anehnya, Nathan malah menyetujui apa yang Niko katakan. Dia mengiyakan permintaan Niko dengan mudah. Lalu, pertemuan itupun terjadi.


Nata masuk sendirian ke ruangan Nathan. Sedangkan Nila hanya menunggu di luar saja. Itu karena Nila ingin sahabatnya sendirian menyelesaikan masalah pribadi sang sahabat tanpa berniat untuk mencampuri seutuhnya.


Karena melihat Nila sendirian, Niko pun langsung menghampirinya. "Kamu, gak ikutan masuk?" Niko bertanya sekedar basa basi saja.


Karena sama seperti Nila, dia juga melakukan hal yang sama. Tidak terlalu banyak ikut campur hal pribadi teman karena tidak ingin teman terlalu merasa tidak nyaman. Karena hal pribadi adalah rahasia yang tidak seharusnya orang lain ketahui secara rinci.


Nila yang duduk di ruang tunggu dengan ponsel di tangan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan gelengan kecil sebagai jawaban atas apa yang Niko tanyakan. Mengingat, apa yang sudah Niko lakukan sebelumnya, Nila antara kesal dengan berterima kasih sih ada si pria yang ada di dekatnya saat ini.


Berterima kasih karena si pria sudah mau menolong mereka hingga akhirnya, Nata bisa bertemu orang yang ingin dia temui. Karena itu, kedatangan mereka tidak sia-sia. Sedangkan kesalnya karena, si pria sudah dia anggap sebagai pria bajingan yang punya pikiran yang tidak baik sebelumnya.


Jadi, Nila tidak ingin terlalu menanggapi apa yang Niko katakan. Karena itu, dia acuh tak acuh saja dengan keberadaan Niko di dekatnya sekarang.


Menyadari sikap Nila saat ini, Niko malah tersenyum. Lalu, ia pilih duduk di samping Nila dengan jarak cukup dekat sebagai orang yang belum akrab.


Sontak saja, Nila langsung menatap tajam Niko. Lalu, dia ingin beranjak setelah beberapa saat memberikan Niko tatapan tajam.


Tapi, Niko yang tahu apa yang Nila pikirkan, tentu tidak akan membiarkan Nila pergi tanpa dia jelaskan terlebih dahulu apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka berdua.


"Tunggu, Nona! Kenapa ingin pergi buru-buru? Sebaiknya, kita bicara saja berdua agar nona tidak merasa bosan saat menunggu atasan nona bertemu dengan atasan saya. Karena kebetulan, saya juga sedang tidak ada kerjaan saat ini."


Dengan tatapan kesal sekaligus tidak nyaman, Nila langsung menatap Niko. "Maaf, aku masih banyak kerjaan lain sekarang. Dari pada aku melayani kamu bicara, lebih baik aku duduk sendirian. Itu akan lebih baik."