
Sontak, Nata langsung membulatkan mata mendengar apa yang mamanya katakan. Ternyata, itu alasan gaun yang ia pakai malam ini berwarna biru muda, bukan hijau tua seperti yang ia harapkan. Karena yang memilihkan gaun itu adalah orang asing yang tidak tahu akan apa yang ia sukai.
"Jadi ... gaun ini dia yang pilihkan? Kok bisa, Ma? Tunggu! Ini kok berasa gak masuk akal yah." Nata berusaha menyangkal apa yang baru saja dia dengar.
"Gak masuk akal gimana, Nat? Orang kenyataannya emang benar, gaun ini dia yang pilihkan."
"Mm ... mama gak percaya lho saat gaun ini kamu kenakan. Ternyata, ini itu cantik banget. Berasa, gaun ini emang dibikin khusus buat kamu. Pintar juga Nathan milih. Begitu luar biasa saat kamu kenakan."
"Gak luar biasa, Ma. Tapi, biasa aja tuh. Gak ada istimewa-istimewanya sama sekali."
Sang mama malah tersenyum manis akibat kata-kata yang Nata ucapkan barusan.
"Mm ... gak ada istimewa itu karena kamu yang tertarik dengan warnanya, bukan? Mama tahu kamu, Nat. Kamu itu sukanya warna hijau tua. Nah, gaun ini warna biru muda. Pantas saja kamu merasa agak tidak ada yang istimewa."
"Yah, bukan itu yang aku maksudkan, Ma. Gaun ini .... "
"Udah, mama tahu kamu, Nata.
Niat hati mau menyangkal. Eh, malah dipotong dengan cepat oleh sang mama. Nata hanya bisa mendengus pelan agar kesalnya bisa mereda dengan cepat.
Tak lama kemudian, Nila datang ke ruangan tersebut buat menjemput Nata. Sang mama, yang bahagia tentu langsung mempersiapkan putri cantiknya dengan cepat agar bisa ia perlihatkan pada semua orang sesegera mungkin.
Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan tersebut. Dengan wajah yang bahagia. Kecuali Nata tentunya. Dia masih memasang wajah kesal akibat malam yang sungguh tidak mengenakkan hati bagi Nata.
"Nat, jangan bikin mama malu. Ada nyonya, tuan besar, juga tetua keluarga Murad. Juga ada banyak tamu undangan yang sedang menunggu kamu. Tolong jangan permalukan mama, Nata." Sang mama bicara dengan nada pelan yang lebih mirip bisikan ke Nata.
"Iya, mah. Nata tahu. Gak akan bikin mama malu, tenang aja. Nata juga bukan anak kecil lagi, Mah. Jadi, gak perlu merasa takut seperti itu. Nata gak akan bikin masalah malam ini."
"Maksud mamamu, tolong perlihatkan wajah bahagia mu itu sebagai orang yang sedang menjalankan pernikahan bahagia. Apa kamu mengerti, nona?" Kini giliran Nila yang menjelaskan.
"Aku tahu. Jangan banyak bicara kamu. Cukup aja mamaku yang ngomel gak pakai berhenti malam ini. Kamu jangan. Atau jika tidak, aku akan pindahkan kamu jadi OB di kantor saat aku sudah kembali bekerja."
"Coba aja kalo kamu bisa, Nona Wijaya. Ah, aku salah. Maaf, sekarang kamu bukan nona Wijaya lagi. Tapi, nona muda Murad." Nila berucap dengan senyum lebar di bibirnya.
Sementara Nata hanya bisa menatap Nila dengan tatapan kesal. Sahabatnya ini memang seperti serigala berbulu domba pada umumnya. Tapi, sebenarnya tidak. Dia adalah sahabat baik yang cukup tinggi solidaritasnya. Karena itu kenapa mereka masih berteman hingga detik ini.
Sampai di atas panggung, ternyata Nathan sudah ada di sana. Malam ini, Nathan terlihat semakin tampan dengan stelan serba jas hitam yang dipadu dengan kemeja putih di dalamnya. Tapi, itu sama sekali masih belum cukup untuk mencuri perhatian Nata yang hatinya sedang tertutup rapat untuk siapapun.
Nathan pun dengan gagah dan penuh wibawa maju untuk menyambut Nata naik ke atas panggung. Dengan mengulur tangan seperti pangeran yang sedang menjemput sang putri, Nathan terlihat semakin luar biasa berkarisma sebagai seorang pria.
Nata dengan enggan menyambut uluran tangan Nathan. Karena sikap itu, dia langsung mendapat teriakan dari tamu yang hadir.
"Cie ... mempelai perempuannya masih malu-malu. Cuit ... cuit .... "
Sorakan itu membuat wajah Nata terada agak panas. Karena memang, dia sedang merasakan rasa malu saat ini. Sementara yang tadi, saat dia enggan menyambut uluran tangan Nathan bukan karena malu, tapi karena merasa tidak nyaman saja.
Nathan pun tersenyum manis ke arah Nata. Hal itu membuat Nata langsung memasang wajah kesal. Tapi, wajah kesal Nata tidak dianggap sedikitpun oleh Natan. Malahan, dia semakin bertingkah lagi sekarang.
Dia tarik tubuh Nata sehingga jatuh ke dalam pelukannya. Nata reflek ingin langsung melawan agar pelukan itu terlepas. Tapi, Nathan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dengan cepat dia bisikkan sesuatu ke telinga Nata.
"Jangan bersikap terlalu kaku, Nathalia. Kita saat ini sedang menjalankan sandiwara, bukan? Jangan buat orang lain curiga. Buatlah mereka percaya kalau kita adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya. Ingat, kesepakatan ini kamu yang buat, bukan? Bukan aku Nathalia."