Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 20



Sementara itu, Niko yang memang sedang marah. Tidak ingin berbasa-basi lagi. Langsung saja dia membuka mulut untuk menanyakan apa yang ingin dia ketahui dari Nata.


"Untuk apa kamu datang ke sini, No- na muda?" Ada penekanan dikata nona muda yang Niko ucapkan. Itu karena Niko tidak benar-benar berniat memanggil Nata dengan panggilan itu.


Kata nona muda yang dia sebut hanya sebagai bentu ejekan saja. Soalnya, dia begitu kesal dengan sikap Nata tadi malam. Niko beranggapan, Nata adalah penyebab sahabatnya sakit hati tadi malam.


Sementara Nata, dia tidak mengindahkan ungkapan itu. Karena dia sadar, wajar dia diperlakukan seperti itu oleh orang terdekat Nathan. Karena dia sudah menyakiti Nathan sebelumnya.


"Aku datang untuk minta maaf pada tuan muda, eh, bukan. Aku datang untuk minta maaf pada sahabatmu, Niko. Aku tahu kalau aku sudah salah besar. Jadi, aku datang karena ingin minta maaf dengan tulus padanya secara langsung."


Ungkapan itu langsung membuat Niko tertawa. Dia merasa geli hati sekarang. Seorang Nata yang terkenal dengan keegoisannya yang tinggi, datang untuk minta maaf. Mana mungkin itu tulus.


"Ha ha ha .... Apakah kamu masih tidur sekarang, Nata? Eh, maksudku, kamu masih belum sadar yah sekarang? Masih terbawa suasana bahagia dalam mimpimu karena telah berhasil menyakiti Nathan tadi malam."


"Nona Nathalia. Aku tahu kamu tidak suka dengan Nathan. Dan, aku ingin katakan kalau cara kamu untuk menyakiti dia sekarang sudah berhasil. Aku ingin mengucapkan kata selamat padamu. Selamat karena kamu sudah berhasil membuat Nathan benci sama kamu. Sekarang, kamu sudah berhasil. Karena sekarang, Nathan sangat membenci kamu hingga tidak ada kata maaf lagi. Jadi, pergi saja sekarang dari vila ini. Karena maaf kamu yang tidak tulus itu, tidak perlu kamu ucapkan padanya."


"Cukup, Niko! Aku sudah berusaha menahan diri sejak tadi. Aku hanya ingin mengucapkan kata maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Sungguh, aku sangat menyesal karena telah melakukan hal konyol seperti yang aku lakukan tadi malam itu."


"Aku tidak ingin bermain sandiwara lagi. Aku serius untuk minta maaf. Jadi, jangan coba-coba kamu meragukan aku, Niko!"


Niko terdiam dengan apa yang baru Nata katakan. Bukan kata-kata yang membuat Niko diam. Tapi, nada bicara Nata barusan yang membuat Niko tidak mampu mengatakan apapun lagi.


Memang, perempuan jika sudah kesal, tidak akan ada tandingannya kalo ngomel. Tidak akan ada waktu untuk menjawab, apalagi untuk balik melawan. Menjawab buat ngebela diri aja gak bisa.


"Sudah aku katakan, iya. Kenapa kamu masih mempertanyakan niatku untuk minta maaf dengan tulus pada temanmu itu, Niko?"


"Ya ... aku hanya ingin memastikan saja. Karena aku merasa tidak yakin dengan niat itu. Soalnya ... aku cukup kenal siapa kamu. Apalagi setelah aku dengan dari Nila bagaimana sifat kamu yang sebenarnya. Jadi ... wajar jika aku bertanya, bukan?"


Nata tidak menjawab. Hanya tatapan tajam yang dia berikan pada Niko selama beberapa saat. Hal itu sontak membuat Niko semakin merasa takut akan kemarahan Nata.


Terutama, dia takut jika Nata salah sangka dengan apa yang baru saja ia katakan. Jika Nata benar-benar salah sangka, Nata pasti akan marah besar pada Nila. Karena barusan, dia tanpa sengaja menyeret nama Nila dalam ucapannya barusan.


"Itu ... aku harap kamu jangan salah paham dengan apa yang aku katakan barusan, Natalia. Aku bilang, Nila itu banyak bicara soal kamu. Itu ... bukan aku yang minta. Bukan juga Nila yang sengaja bicara. Tapi sebagai sesama teman dari kalian berdua, tentu kami sedikit banyak saling bertukar cerita soal teman kami masing-masing."


"Ee ... apa yang dia katakan juga tidak ada yang memburukkan dirimu kok. Hanya bicara soap kenyataan saja. Kamu itu sedikit egois, punya harga diri yang tinggi. Hanya itu," kata Niko berusaha menjelaskan dengan nada yang sangat hati-hati.


Nata yang tahu apa yang sedang Niko pikirkan, seketika langsung terkekeh karena geli. Hal itu sedikit bisa menghiburnya saat ini. Karena itu dia tertawa kecil dan melupakan beban beratnya sesaat.


Sementara itu, Niko yang melihat Nata tertawa, tentu saja langsung terdiam mematung. Sungguh, perempuan yang dia anggap tidak punya ekspresi itu ternyata bisa tertawa. Dan, saat perempuan dingin itu tertawa, keadaan sungguh sangat berbeda.


Nata terlihat sangat cantik. Wajah muram yang dia punya hilang seketika. Entah kenapa, Niko tiba-tiba bisa mengagumi Nata secepat itu hanya dengan satu tawa kecil saja.


"Kenapa kamu terlihat sangat takut ketika aku menatap kamu dengan tatapan tajam, Mas Niko? Lucu sekali. Aku tidak memikirkan hal yang tidak-tidak saat kamu menyebut nama sahabatku. Karena aku cukup kenal dengan sangat baik bagaimana sifat sahabatku itu."


"Dia sahabat baik. Mana mungkin akan menjelekkan aku di depan orang lain. Mungkin, dia pernah kelepasan bicara bagaimana sifat ku pada kamu. Tapi, aku yakin, itu bukan hal yang tidak baik."