
Keduanya pun bicara beberapa saat. Setelah Nila berhasil memastikan kalau Nata beneran gak papa, dia pun langsung membahas tujuan kedatangannya yang utama ke kamar Nata.
"Nat, kalau kamu beneran gak papa. Niko ingin bilang kalau dia minta maaf karena udah nyakitin hati kamu tadi. Dia sangat menyesal. Sekarang, Niko ada di luar bersama mama kamu."
Nata tidak langsung menjawab. Ucapan Nila barusan membuat dia menatap wajah Nila dengan tatapan lekat.
"Dia ada di sini?"
"Iy-- iya. Dia ada di sini, Nat. Mm ... dia sungguh sangat merasa bersalah karena sudah mengatakan apa yang tidak seharusnya dia ucap. Jadi ... kamu jangan marah lagi sama dia yah. Dia takut banget sekarang soalnya."
"Takut? Kenapa harus takut padaku."
"Ya ... ya karena dia takut kamu marah selamanya."
Nata langsung bangun dari duduknya. Dia pun melepas napas berat lebih mirip seperti dengusan pelan. "Heh ... sebenarnya, dia gak salah karena telah bicara seperti itu, Nil. Aku yang terlalu berlebihan menanggapi apa yang dia katakan."
"Maksud kamu?" Nila bertanya dengan sangat hati-hati.
"Sejujurnya, apa yang Niko katakan itu benar. Aku yang sudah berjanji untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah aku perbuat. Eh, karena amukan Nathan, aku malah jadi ikutan marah."
Nila langsung menyentuh bahu sahabatnya dengan lembut. "Kamu harus lebih sabar jika ingin memperbaiki kesalahan. Mm ... bukan maksud aku bilang kalau kamu salah, tapi memang, jika ingin memperbaiki sesuatu itu tidak sama dengan menghancurkan. Kamu butuh perjuangan yang ekstra, Nata."
"Aku tahu. Karena itu, aku sudah berpikir banyak kali, Nil. Aku akan tetap berusaha memperbaiki kesalahan yang aku perbuat. Mm ... malam ini, aku akan nginap di rumah Nathan. Biarpun dia tidak setuju, atau mungkin dia akan mengusir aku sekalipun, aku akan tetap tinggal di sana. Karena dengan begitu, aku yakin akan lebih muda untuk aku membuka hati Nathan agar bisa menerima maaf dari aku." Nata bicara dengan nada yang penuh keyakinan.
Nila yang melihat hal tersebut, kini berada di dua perasaan sekaligus. Pertama, merasa bahagia akan niat yang tulus dari sahabatnya ini. Kedua, merasa agak takut.
Nila takut jika Nata bisa semakin sakit hati akibat ulahnya Nathan. Dia juga merasa tidak rela jika sahabatnya itu disakiti. Memang, dia ingin membantu mempersatukan keduanya. Tapi jika Nathan semakin menyakiti Nata, maka dia tidak akan bisa terima.
"Tentu saja aku yakin, Nila. Aku sudah berniat untuk memperbaiki kesalahan yang aku perbuat bukan? Jadi, apapun akan aku lakukan jika itu bisa memperbaiki kesalahan tersebut."
Nila terdiam sesaat. Selanjutnya, dia pun memberikan anggukan pelan tanda setuju. Nila juga menyentuh pelan bahu Nata sebagai tanda merestui keputusan yang sudah sahabatnya buat.
"Jika ini menurut kamu yang terbaik. Maka aku akan mendukung kamu. Tapi ingat, jalan kamu tidak akan mulus, Nat. Kamu harus banyak bersabar yah. Jika kamu bersabar, aku yakin, kamu pasti akan berhasil."
"Terima kasih untuk keyakinan itu. Aku pasti akan mendengarkan apa yang kamu katakan. Sabar, sabar, dan sabar."
Keduanya pun sama-sama tersenyum. Selanjutnya, Nata dan Nila keluar dari kamar. Beberapa saat bicara dengan Niko dan mamanya, akhirnya Nata membicarakan soal niat untuk pindah ke vila Nathan.
Sama halnya seperti Nila, Niko kaget bukan kepalang. Sedangkan sang mama, terlihat cukup antusias dan sangat setuju dengan niat itu.
Niko terkejut karena niat Nata yang ia anggap tidak seharusnya Nata lakukan. Terlebih, untuk saat ini. Karena dia takut, Nathan pasti akan semakin marah besar pada Nata. Anggapan tentang Nata itu sama dengan perempuan lain pun, akan semakin kuat nantinya.
"Kamu ... kamu yakin untuk tinggal dengan Nathan di vila nya, Nat?" Niko bertanya ketika mereka sudah ada di dalam mobil.
Pertanyaan itu ia tahan karena tidak enak dengan mama Nata. Setelah mereka ada di dalam mobil, maka langsung dia lepaskan dengan cepat.
"Tentu saja aku sudah sangat yakin, Nik. Kenapa? Kamu gak setuju yah? Mm ... katanya kamu ingin aku memperbaiki hubungan aku dengan Nathan. Kamu ingin melihat keseriusanku. Ya ini aku tunjukkan sekarang."
"Ya ... ya aku emang ingin kalian berbaikan. Aku juga ingin melihat kamu memperbaiki kesalahan yang kamu buat. Tapi ... ee ... apa nggak terlalu buru-buru jika sekarang kamu pindah ke vila Nathan. E ... maksudku, setidaknya sampai aku bicara baik-baik dengan Nathan terlebih dahulu. Kamu tahukan, Nathan sedang marah besar saat ini?"
Niko berucap dengan nada yang sangat hati-hati. Tapi, Nata yang sudah punya tekad yang kuat, mana mungkin akan mendengarkan apa yang Niko katakan.