Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 34



"Ya ... ya aku emang ingin kalian berbaikan. Aku juga ingin melihat kamu memperbaiki kesalahan yang kamu buat. Tapi ... ee ... apa nggak terlalu buru-buru jika sekarang kamu pindah ke vila Nathan. E ... maksudku, setidaknya sampai aku bicara baik-baik dengan Nathan terlebih dahulu. Kamu tahukan, Nathan sedang marah besar saat ini?"


Niko berucap dengan nada yang sangat hati-hati. Tapi, Nata yang sudah punya tekad yang kuat, mana mungkin akan mendengarkan apa yang Niko katakan. Pada akhirnya, mereka tetap pergi ke vila setelah mengantarkan Nila kembali ke rumahnya.


"Mm ... aku ingin pastikan sekali lagi, Nat. Kamu ... udah benar-benar membulatkan tekad untuk tinggal satu atap dengan Nathan, kan?" Niko kembali berucap setelah mobil tiba di depan vila.


Pertanyaan itu langsung membuat Nata membuang nafas dengan kasar. Entah kenapa, pertanyaan itu lagi yang Niko ulang. Padahal sebelumnya, Niko sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan.


"Ya ampun, Nik. Mau berapa kali sih kamu berikan aku pertanyaan yang sama. Aku kan udah bilang, aku sudah bertekad. Jadi, kamu tidak perlu bertanya lagi sekarang."


"Aku hanya ingin memastikan saja, Nathali. Karena pilihan yang sedang kamu ambil ini terlalu beresiko untuk hatimu. Karena Nathan, pasti akan semakin marah padamu setelah dia melihat kamu tinggal di sini."


Nata terdiam beberapa saat. Lalu, dia menjawab dengan mantap. "Aku sudah siap menerima amarah dari Nathan. Jadi, kamu jangan cemas akan hal itu. Karena sekali pilihan aku buat, maka aku tidak akan menariknya kembali."


Niko terdiam. Dalam hati ia berkata, 'Nah, itulah yang aku takutkan, Nata. Jika kamu terluka, maka kamu pasti akan mengambil keputusan untuk membenci Nathan. Dan hubungan kalian pasti tidak akan tertolong lagi. Ah! Ya Tuhan, kalian bikin aki merasa sakit kepala aja sekarang.'


Nata masuk ke dalam bersama dengan Niko. Dengan menyeret koper kecil di tangannya, Nata berjalan dengan langkah penuh keyakinan.


Seketika, saat melihat kedatangan Niko dan Nata, vila itu jadi ramai. Para pelayan memberikan sambutan kepada Nata karena Nata adalah nona muda mereka sekarang. Dan, dengan kehadiran Nata, mereka berharap bisa menciptakan suasana hangat di vila ini.


Namun, ketika Nata baru aja selesai menyapa para pelayan, sebuah suara langsung mengheningkan aula utama vila tersebut. Suara dengan nada tinggi yang Nathan berikan, sontak membuat ruangan tersebut hening.


"Nathan. Dia .... "


"Diam! Aku tidak bertanya padamu, Niko! Aku bertanya pada perempuan yang ada di samping kamu itu. Apa dia sekarang tidak punya mulut untuk menjawab apa yang aku katakan? Sampai-sampai, harus kamu pula yang angkat bicara."


"Than."


"Niko!" Nathan malah membentak Niko dengan keras. Bentakan itu sontak membuat Niko terdiam dengan bermacam-macam perasaan yang kini mengisi ke dalam hatinya.


"Aku minta maaf." Niko lalu berucap dengan suara pelan sekarang.


Nata yang merasa bersalah, kini tidak bisa tinggal diam lagi. Dia harus bicara sekarang. Karena jika dia tetap diam, itu sama saja dengan semakin memperburuk keadaan.


"Tidak ada yang mengizinkan aku tinggal di sini. Tapi, aku sendiri yang ingin tinggal karena aku ingin membuktikan, kalau aku berhak mendapat maaf dari kamu, Nathan. Aku sungguh ingin memperbaiki hubungan kita. Karena itu, aku ingin tinggal di sini. Terserah, kamu setuju atau tidak. Yang jelas, aku akan tetap tinggal di sini."


"Apa!? Ha ha ha .... Dasar perempuan rendah. Tidak mendapat izin, tetap saja ingin tinggal. Kamu pikir kamu siapa? Benar-benar nona muda? Cih! Tidak sadarkan diri kamu. Bukan siapa-siapa aja belagu. Rumah ini bukan milikmu. Tidak ada yang bisa tinggal di dini jika aku tidak mengizinkannya."


Ungkapan itu sungguh sangat menyakitkan buat Nata. Tapi, karena ingat apa yang Nila katakan, maka dia berusaha menebalkan muda, menguatkan hati dengan sekuat tenaga. Dia tidak ingin terpancing lagi sekarang. Dia harus bisa mencapai tujuannya. Mendapatkan maaf dari Nathan secepatnya agar beban berat yang ada dalam hati segera menghilang.


Sebenarnya, bukan Nata saya yang terkejut akan kata-kata Nathan barusan. Tapi Niko dan yang lainnya juga. Mereka tak percaya jika Nathan bisa berkata dengan kata-kata yang sangat kasar di luar logika. Mana bicara dengan lawan jenis lagi. Hal yang tidak seharusnya Nathan lalukan. Mengingat, Nata datang dengan niat yang tulus untuk minta maaf juga berniat memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.