Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 18



"Easy. Cukup! Keadaan sudah rumit, jadi kamu jangan menambah rumit suasana lagi. Jika kamu tidak bisa diam, maka kamu pulang saja duluan." Opa Nathan selaku tetua keluarga angkat bicara.


Seketika, Easy pun langsung diam. Walau bagaimanapun, dia juga masih takut dengan papa dari suaminya ini. Karena sekali keputusan orang tua itu buat, maka tidak akana ada yang bisa merubahnya lagi. Kecuali ... Nathan. Cucu kesayangan satu-satunya dari orang tua tersebut.


Nata yang sangat menyesal pun langsung mengatakan maaf dengan penuh perasaan bersalah. Untung saja tetua keluarga Murad adalah orang tua yang baik. Jadi, dia tidak menyalahkan Nata sepenuhnya atas masalah yang terjadi malam ini.


"Opa tahu kalian menikah karena terpaksa. Jadi, kalian memang sangat membutuhkan banyak waktu untuk membiasakan diri. Jadi, opa tidak akan menyalahkan kamu, Nathali."


"Nata yang tidak tahu diri, Opa. Nata yang salah karena terlalu terbawa perasaan. Tapi, terima kasih banyak atas maaf yang Opa berikan untuk Nata. Selanjutnya, Nata janji akan berusaha memperbaiki diri lagi."


"Nah, itulah yang opa ingin dengar dari kamu anak baik. Opa pilih kamu sebagai cucu menantu karena opa tahu, kamu adalah gadis yang baik. Pilihan terbaik buat mendampingi Nathan kesayangan opa."


Dan, permasalahan itupun berakhir di situ. Keluarga Murad kembali setelah beberapa saat ngobrol. Sementara kedua orang tua Nata, mereka terlihat masih kesal saat ini. Tapi, mereka tidak menyalahkan Nata sepenuhnya.


"Jangan ulangi lagi apa yang sudah kamu lakukan tadi, Nat. Itu sungguh sangat tidak punya perasaan. Sekarang, coba cari tahu di mana Nathan berada. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya," kata mama Nata dengan wajah yang masih tegang.


"Biarkan saja Nata istirahat, Ma. Soal Nathan, kita yang akan cari tahu. Bukankah keluarganya bilang akan menghubungi kita jika mereka tahu di mana Nathan. Jadi, biarkan saja Nata menenangkan diri sekarang. Jangan bebani dia lagi." Papa Nata malah membela sang anak sekarang.


"Tapi, Pa."


"Nia, apa yang suami kamu katakan itu benar adanya. Nata juga sedang sangat terpukul sepertinya. Jadi, kamu harap maklum lah pada anak sendiri. Biarkan dia tenang sekarang. Jangan bebani lagi." Opa Nata langsung angkat bicara.


"Iy-- ya. Ba-- baiklah. Aku tidak akan membebani Nata lagi." Mama nata berucap dengan nada gelagapan. Mungkin karena kesal dengan apa yang telah terjadi.


Selanjutnya, Opa Nata langsung menyuruh Nata masuk ke kamar buat istirahat. Sungguh, mereka tidak menyalahkan anak kesayangan mereka ini padahal sudah jelas kalau Nata yang menyebabkan masalah besar ini terjadi.


Karena itu, Nata bertekad akan memperbaiki kesalahan yang sudah ia perbuat. Mungkin, dia akan berbaikan dengan Nathan bagaimanapun caranya. Dia akan mengorbankan egonya yang dulu setinggi gunung demi berbaikan dengan Nathan.


Beberapa waktu berlalu, papa Nathan akhirnya memberi kabar kalau Nathan kini ada di kediaman pribadi miliknya. Jadi, papa Nathan meminta Nata untuk datang besok pagi jika Nata berkenan minta maaf pada Nathan.


Papa Nata pun langsung merasa lega. Dan, keesokan paginya, dia langsung mengabari Nata akan apa yang papa Nathan katakan. Tentu saja Nata juga ikut merasa lega akan kabar itu. Dan, seperti yang papa Nathan katakan, Nata akan mengikuti semuanya.


Setelah mandi, Nata langsung bersiap-siap menuju vila pribadi Nathan. Tanpa sarapan terlebih dahulu, Nata langsung saja meninggalkan rumahnya.


Sebenarnya, perut Nata terasa kosong karena tidak makan nasi dari pagi kemarin. Hanya cemilan seadaanya saja yang masuk ke dalam perut. Tapi, karena masalah besar yang dia alami, rasa lapar itu lenyap. Meski perut terasa kosong, dia tetap saja tidak merasakan adanya nafsu makan. Karena itu, dia mengabaikan ajakan sang mama untuk sarapan terlebih dahulu sebelum menuju vila Nathan.


Hampir satu jam mengendarai mobil, akhirnya, Nata tiba di tempat yang dia tuju. Vila mewah dengan cat tembok berwarna buru muda. Seketika, Nata memastikan kembali alamat yang dia punya.


"Benar. Ini vila pribadi Nathan. Cukup indah sih warnanya. Cuman, akan lebih indah jika vila ini berwarna hijau tua." Nata berkata sambil memperhatikan sekeliling.


"Agh! Apa yang aku pikirkan sih? Ini rumah dia, bukan rumah aku. Mau warna merah menyala kek, tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Dasar, tidak bisa melihat hal aneh saja aku ini."


Nata bicara sambil menepuk pelan dahinya.


Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya memikirkan prihal yang tidak penting seperti barusan. Lalu, saat itu dia ingat dengan apa yang mamanya katakan.


"Ternyata benar, dia suka warna biru muda. Warna terang yang bagiku terasa sedikit norak. Uh, memang kesukaan seseorang itu sangat jauh berbeda," kata Nata lagi sambil terus berjalan lebih dalam ke halaman vila.