Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 24



"Hei, bukan aku gak mau nungguin dia bangun. Tapi, nungguin dia di kamar ini. Ya ... ngg-- nggak bisa aku. Terlebih, se-- sekarang." Nata bicara dengan nada gelagapan karena terlalu gugup.


"Kenapa gak bisa? Orang dia itu suami kamu. Kamu tenang aja. Gak akan ada yang marah jika kamu tinggal satu kamar dengan dia. Yah, meskipun kalian nikah hanya karena perjanjian, tapi tetap aja, dia itu suami sah kamu lho, Nata."


Nata terdiam dengan tatapan lurus ke arah Niko. Sungguh, apa yang Niko katakan itu memang benar. Tapi, hati masih tidak bisa menerima kenyataan itu. Bagaimanapun, Nathan adalah pria. Mana nggak pakai baju lagi. Ah, hal yang cukup sulit buat Nata saat ini.


"Mm ... ya sudah kalo gitu. Kamu tungguin Nathan bagun ya, Nata. Aku akan pergi sekarang. Ada hal penting yang harus aku urus. Aku titip Nathan sepenuhnya padamu."


"Apa!? Kamu yang benar aja, Niko. Aku .... "


"Ssst ... ada apa sih ini? Kok berisik banget?"


Sontak, ucapan Nathan barusan membuat mata Nata membelalak. Dia merasa sangat tidak nyaman sekarang. Mana karena ucapannya barusan, Nathan malah langsung terbangun meski belum bergerak dari baringnya. Dan, matanya juga belum terbuka. Hanya bibir Nathan saja yang bicara.


"Tuh, dia udah bangun. Buktikan ketulusan mu untuk minta maaf padanya. Buktikan, kalau kamu memang benar-benar ingin memperbaiki kesalahan sekarang juga. Aku tinggal dulu. Da .... "


Niko bicara dengan suara pelan. Setelah bicara, dia malah langsung pergi begitu saja dengan langkah besar. Tanpa menunggu Nata berucap sama sekali.


Sekarang, tidak ada yang bisa Nata lakukan. Dia yang kini berada dengan Nathan dalam satu kamar, terpaksa mengumpulkan semua keberanian untuk menghadapi Nathan yang mungkin akan langsung mengusirnya karena kesal.


"Pelayan! Cepat siapkan air hangat untuk aku. Aku ingin segera mandi."


Belum sempat Nata berpikir apa yang harus dia lakukan. Eh, suara Nathan barusan langsung membuyarkan lamunannya akan apa yang harus ia lakukan. Dengan cepat, Nata ingin mengikuti apa yang Nathan katakan barusan. Namun, baru juga kaki Nata melangkah satu langkah, suara Nathan kembali terdengar.


"Eh, sejak kapan aku pernah mengizinkan pelayan perempuan masuk ke dalam kamarku?" Nathan berucap dengan suara bingung.


Nathan yang masih belum bangun itu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Karena suara perempuan yang ia dengar barusan, dia langsung meminta disiapkan air mandi. Padahal, selama ini tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamarnya. Semua yang ia perlukan, pak Yahya sendiri yang mengerjakan. Termasuk, merapikan kamar tersebut. Semua pak Yahya yang lakukan.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk!?" Nathan berucap dengan nada tinggi. Disertai dengan gerakan tubuh bagun dari baring.


"Kamu! Sejak kapan kamu ada di sini, hah!? Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke kamar ku? Keluar sekarang!"


Nathan bicara dengan suara lantang. Hal itu sedikit mengejutkan buat Nata. Namun, Nata bukan perempuan yang mudah putus asa. Dia tidak mendengarkan sedikitpun yang Nathan katakan.


"Aku datang ke sini untuk minta maaf padamu atas apa yang sudah aku lakukan. Aku .... "


"Cukup! Maaf tidak bisa mengembalikan semuanya. Apa kamu tahu itu?" Nathan langsung memotong perkataan Nata dengan cepat.


"Aku tahu. Tapi, aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Meskipun kata maaf tidak ada artinya buat kamu, tapi setidaknya, kata maaf itu adalah bukti kalau aku telah menyadari kesalahan yang aku perbuat, Nathan."


"Apakah dengan menyadari kamu bisa mengembalikan harga diriku yang kamu hancurkan tadi malam!?" Nathan terlihat semakin kesal. Dia bicara dengan nada lantang sekarang.


"Memang tidak bisa, Nathan. Tapi aku akan menebus kesalahan yang aku buat. Karena itu .... "


"Tidak akan pernah. Kau tidak akan pernah bisa menebus kesalahan yang sudah kamu perbuat. Karena hati yang rusak, tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Sekarang, pergi dari kamarku! Aku tidak ingin melihat kamu lagi. Dan, secepatnya aku akan urus prihal perceraian kita."


Sungguh diluar logika Nata. Ternyata, Nathan benar-benar marah besar padanya sekarang. Benar apa yang Niko katakan, kalau Nathan sungguh sangat sakit hati akibat ulahnya tadi malam.


'Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku gak ingin cerai dengan dia secepat ini, Tuhan. Kami baru menikah, bagaimana mungkin langsung bercerai?' Nata bicara dalam hati sambil menahan rasa gelisah.


"Apa kau tidak punya telinga? Aku bilang pergi sekarang juga! Kenapa kau masih tetap di situ? Jangan buat kesabaran yang menipis ini langsung lenyap."


Nata yang tidak pernah mendapatkan bentakan seperti itu, tentu merasa sangat kesal. Ia genggam erat tangannya agar dia tidak melampiaskan kekesalannya itu pada Nathan sekarang juga.


'Sabar, Nata. Sabar. Ini adalah cobaan berat buat kamu. Jadi, bersabarlah agar kamu bisa menang kelak. Kamu adalah wanita kuat. Sedikit merendahkan ego, tidak akan membuat kamu kalah, bukan?'