Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 44



"Kamu tahu rumah juga," kata Nathan menyambut kepulangan Niko.


Ucapan itu terlontar karena hatinya sedikit kecewa akan kemunculan Niko. Karena yang ia harapkan muncul bukan Niko, melainkan, Nata.


"Aku minta maaf soal yang kemarin. Aku pulang ke rumah mama. Karena itu, tidak pulang ke sini."


"Hm." Nathan hanya menjawab singkat.


"Kamu masih marah padaku, Than?"


"Tidak."


Lalu, belum sempat Niko menjawab apa yang Nathan katakan, pintu vila kembali terbuka. Dan kali ini, orang yang Nathan tunggu akhirnya muncul juga.


Melihat kemunculan Nata, Nathan pun langsung bangun dari duduk. Dia menatap Nata dengan tatapan tajam seolah ingin memarahi Nata dengan sengit lagi kali ini.


Menyadari akan hal itu, Niko merasa cukup khawatir. Sementara Nata, dia malah terlihat cukup santai.


"Aku datang hanya untuk mengambil barang-barang ku saja. Maaf, aku sudah bikin kediaman tuan muda tidak tenang. Dan, aku mengalah karena tidak bisa bertahan selama tiga bulan. Untuk itu, mari kita berpisah secepatnya. Aku tunggu kamu di kantor KUA siang ini."


Setelah mengatakan kata-kata itu, Nata langsung ingin beranjak meninggalkan Nathan dan Niko. Tapi, Nathan segera menangkap tangan Nata dengan cepat.


"Tunggu! Ada hal yang ingin aki bahas dengan kamu. Ayo ikut aku ke ruang kerjaku sekarang."


Karena nada bicara Nathan saat ini agak jauh berbeda dengan sebelumnya, Nata pun agak ragu untuk menolak secara mentah. Dia pun dengan raut kebingungan melirik ke arah Niko. Berusaha meminta pendapat Niko akan perubahan sikap Nathan saat ini.


Seakan paham dengan apa yang Nata maksudkan, Niko langsung mengangguk kecil. Menandakan kalau Nata harus mengikuti Nathan ke ruang kerja seperti yang Nathan katakan.


Karena anggukan itu, Nata pun memilih setuju dengan permintaan Nathan. Mereka berjalan dengan tangan yang masih bergandengan menuju lantai dua.


Entah dalam keadaan sadar atau tidak mereka melakukan hal itu. Tapi yang jelas, keduanya terlihat baik-baik saja berjalan dengan bergandengan tangan.


"Silahkan masuk!" Dengan nada yang lembut, Nathan mempersilahkan Nata masuk ke dalam ruang itu.


"Ee ... aku bisa masuk ke dalam. Tapi tolong, lepaskan genggaman tanganmu dari tanganku."


Sontak, ucapan itu reflek langsung Nathan lakukan. Dia dengan cepat melepas tangan Nata dari genggaman tangannya.


"Maaf, aku lupa kalau aku sudah menggenggam tanganmu dari bawah hingga naik ke lantai atas."


"Baiklah, lupakan saja soal itu. Sekarang, katakan kamu mau bicara apa! Aku tidak ingin terlalu lama di sini."


"Aku .... " Nathan menggantungkan kalimatnya. Dengan mata yang menatap lekat ke arah Nata, dia sedikit merasa gugup sekarang.


"Apa?" Nata berucap dengan wajah yang tidak sabaran lagi. Mungkin, dia sudah terlalu penasaran dengan apa yang ingin Nathan katakan padanya.


"Aku ingin kamu tinggal di sini. Setidaknya, seperti yang sudah sama-sama kita sepakati sebelumnya. Kamu tinggal di sini selama tiga bulan? Mm ... bukankah itu yang kamu katakan waktu itu?"


"Ya. Tapi aku sudah berubah pikiran sekarang. Aku sadar, kamu tidak bisa memaafkan aku. Dan, aku sadar, aku tidak akan bisa memperbaiki hubungan kita yang sudah rusak."


"Mungkin kamu memang tidak akan bisa memperbaiki apa yang sudah rusak, Natali. Tapi, apakah kamu lupa, kamu tidak bisa meminta aku menceraikan kamu sebelum waktu tiga bulan. Bagaimana kalau kita menjalani hidup bersama selama waktu itu?"


"Aku .... " Nata sungguh merasa bingung. Dia yang tiba-tiba merasa kalau yang ada dihadapannya saat ini bukan Nathan yang sebelumnya. Melainkan, orang lain yang tiba-tiba muncul dan menawarkan apa yang sebelumnya pernah ia tawarkan.


"Ee ... begini, Nata. Anggap saja kita menjalin kerja sama. Aku harus membahagiakan opa ku sekarang. Maka dari itu, aku ingin kamu tinggal di sini. Kamu jalani saja hidup sebagaimana yang seharusnya, sedangkan aku, menjalani hidup yang seharusnya aku jalani pula."


"Kita masih orang lain di vila ini. Tapi, aku ingin kamu tetap tinggal di sini selama waktu yang kita sepakati sebelumnya. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


Saat Nathan membicarakan soal opa, saat itu pula Nata ingat akan janjinya untuk tidak mengecewakan kedua opa. Opa Nathan, juga opanya. Karena kedua orang tua adalah orang baik yang penuh kasih sayang, maka Nata tidak ingin membuat kedua opa merasa sedih lagi. Karena itu, Nata pun tidak punya pilihan lain selain setuju dengan permintaan Nathan. Dia pun memilih tetap tinggal selama waktu yang sudah mereka sepakati sebelumnya.