
Waktu terasa sangat cepat berlalu. Tak terasa, kini sudah tinggal satu minggu saja lagi dari hari perjanjian Nathan dan Nathali.
Selama hampir dua setengah bulan, mereka berdua banyak menghabiskan waktu bersama. Menjalin hubungan yang baik sebagai teman. Mereka juga sering datang ke kedua kediaman hanya untuk makan malam bersama. Karena itu, mereka begitu terlihat dekat saat ini.
Nata yang dulunya Nathan jadikan pembantu, kini malah ia jadikan ratu. Selalu ingin membuat hati Nata bahagia bagaimanapun caranya. Mungkin, cinta itu sudah sangat besar saat ini. Karena itu, dia tidak ingin Nata pergi.
"Tahn, satu minggu lagi, kita akan berpisah. Apa kamu ingat dengan perjanjian kita?" tanya Nata saat mereka duduk di taman samping rumah dengan dua gelas jus.
"Iya. Aku ingat akan hal itu. Dan, aku merasa takut."
Ucapan itu langsung membuat Nata menoleh ke arah Nathan yang kini ada di sampingnya.
"Takut? Takut kenapa, Than?"
Nathan menatap lurus ke depan.
"Aku takut kehilangan kamu, Na. Mm ... sejujurnya, hubungan kita yang baik-baik saja beberapa minggu terakhir membuat aku merasa, kita ini cocok."
"Cocok?" Nata lalu terkekeh. "Yang benar saja kita ini cocok. Bukannya kamu yang bilang kalau .... "
"Nata aku suka kamu. Maukah kamu belajar untuk mencintai aku." Nathan berucap cepat dengan gerakan yang sangat gesit pula dia berjongkok di hadapan Nata dengan cincin berlian yang ia angkat tinggi.
Sungguh, Nata sangat kaget dengan lamaran dadakan yang Nathan lakukan. Tapi, dia bisa merasakan kebahagiaan yang memenuhi hatinya saat ini. Nata langsung menutup mulutnya karena merasa sangat haru. Ingin rasanya ia menangis sekarang juga.
"Nathan ... ini .... "
"Aku ingin kamu menjadi istriku selamanya. Satu-satunya nyonya dari Nathan Murad, Nona Nathali."
Saat ucapan itu menyentuh telinga, air mata tidak bisa Nata bendung lagi Seketika itu pula, buliran bening jatuh melintasi pipi. Pertahan Nata kini telah runtuh. Asmara yang mati, kini telah hidup kembali.
"Nata, jangan menangis. Aku tidak akan memaksa. Aku .... " Nathan dengan rasa bersalah berucap sambil menundukkan kepala.
"Hiks, aku tidak nangis. Kau tahu, aku ... hanya, ha--haru." Nata berucap dengan nada malu.
"Jadi ... itu artinya, kamu ... kamu terima lamaran aku sekarang, Nata?"
Nata langsung memberikan anggukan pelan dengan senyum tipis di bibirnya. Namun, itu masih belum cukup untuk Nathan. Dengan rasa penasaran, Nathan kembali melontarkan pertanyaan.
"Kamu siap belajar mencintai aku?"
"Bukan belajar saja. Tapi aku sudah akan menjaga cinta yang aku punya. Karena aku tidak sadar dengan pasti, aku sudah mencintai kamu sebelumnya. Jadi, tidak ada lagi kata belajar sekarang. Yang ada hanya, saling menjaga cinta."
Sungguh ucapan yang sangat mengharukan buat Nathan. Ternyata, cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Melainkan, cintanya sudah lama terbalaskan. Hanya saja, dia yang tidak menyadari akan hal itu.
Setelah menyematkan cincin ke jari Nata, Nathan langsung mendekap erat tubuh Nata.
"Jika aku tahu kamu sudah membalas cintaku, Na. Tidak saat ini aku nyatakan cinta. Tapi, sudah dari kemarin-kemarin. Karena aku sudah lama menyimpan kamu dalam hatiku. Tepatnya, pada saat kita pertama kali bertemu. Aku sudah jatuh cinta dengan gadis dingin yang datang menemui aku saat di kantor waktu itu."
Nata pun langsung melepas pelukan Nathan. Dengan wajah yang pura-pura kesal, dia pukul Nathan dengan pukulan manja.
"Aku nggak dingin ih. Yang dingin plus galak itu kamu, tahu gak?"
"Eh, siapa bilang aku dingin? Nggak kok. Kalo galak ... m ... sedikit. Tapi, dengan kamu nggak ngaruh tuh galaknya."
Begitulah hubungan yang hangat langsung tercipta dari masalah hati yang sama-sama mereka alami. Keduanya pun sudah sama-sama bisa membuka hati untuk menata kehidupan baru.
....
Beberapa hari sejak lamaran dadakan itu, Nathan langsung menyiapkan pesta besar. Yah, pesta resepsi pernikahan yang paling megah untuk Nata.
Awalnya, kedua orang tua Nathan sangat kaget dengan niat Nathan itu. Terutama sang mama. Dia yang tidak yakin dengan pilihan Nathan untuk tetap bersama Nata, merasa kalau hatinya sedang takut. Namun, satu hari setelah ungkapan itu, kabar pernikahan Salsa dengan pria sederhana anak penjaga taman pinggiran kota pun tersebar.
Hal itu membuat mama Nathan patah hati. Gadis yang ingin ia jodohkan dengan anaknya malah akan menikah dengan pria lain. Lah, mana pria itu orang dari kalangan menengah ke bawah lagi.
Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keluarga Salsa ternyata sangat mendukung apa yang telah menjadi keputusan putri kesayangan dari keluarga mereka. Menikah dengan pria biasa, yang tidak punya kedudukan ternama tidak jadi masalah. Selagi anak mereka bahagia.