Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 13



Tentu saja Nata menolak dengan cepat. Secepatnya dia dorong tubuh Nathan agar menjauh darinya. "Untuk hal ini, aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan bersikap terlalu gila, Nathan!"


Sontak, kata-kata itu membuat semua yang mendengar langsung terdiam. Mereka sungguh tidak mengerti kenapa Nata tiba-tiba berucap kata-kata itu dengan nada tinggi. Jikapun Nata malu, ekspresi yang harus dia perlihatkan bukan marah seperti saat ini.


Tidak hanya itu, Nata juga langsung turun dari panggung dengan cepat. Ia tinggalkan Nathan sendirian di atas panggung tanpa memikirkan lagi apa yang orang lain pikirkan terhadap hubungannya.


Suasana panas akibat keromantisan mereka berdua langsung lenyap. Kini, suasana langsung berganti dengan perasaan tegang akibat ulah Nata barusan.


Pembawa acara pun langsung mengakhiri acara itu dengan cepat. Sebisa mungkin, ia katakan kalau mempelai perempuan malu dan tidak bisa menahan diri. Karena itu, mempelainya turun duluan.


Tapi, penjelasan itu tidak bisa membuat semua percaya. Karena ekspresi Nata itu semua orang paham apa yang Nata rasakan. Sementara Nathan, dia merasa sangat malu sekarang. Perasaan menyesal karena telah menikahi Nata pun terasa sangat besar saat ini.


Niko yang paham akan keadaan yang tidak bersahabat, langsung naik ke atas panggung. Dia dekati Nathan, lalu ia ajak turun agar Nathan bisa menjernihkan pikiran. Sedangkan Nila, ia juga melakukan hal yang sama. Dia juga pergi untuk menemui sahabatnya agar bisa menenangkan sang sahabat.


"Than. Kamu .... "


"Jangan ikuti aku, Niko. Aku ingin sendiri sekarang," kata Nathan sambil berjalan menjauh dari keramaian.


Kedua belah keluarga juga jadi kalang kabut akibat hal tersebut. Mereka bingung harus berbuat apa. Sementara keluarga Nathan tentunya sudah berpikir buruk terhadap Nata, sedangkan keluarga Nata, mereka saat ini sedang menahan malu akibat ulah Nata barusan.


Singkatnya, keadaan benar-benar kacau saat ini. Semuanya hancur berantakan. Suasana bahagia yang begitu terasa diawal mula acara, malah berakhir tegang dan berantakan diakhir acara. Benar-benar hal yang sangat di sayangkan.


Nata duduk terdiam di dalam kamar. Kamar pengantin yang dihias sedemikian rupa agar terasa hawa romantisnya. Tapi kini, Nata malah merasa kesedihan yang sangat kuat.


Sebenarnya bukan sedih, hanya saja, Nata menyesali apa yang sudah dia lakukan. Dia menyesali kebodohannya yang tidak pernah bisa menahan emosi.


Seandainya dia bisa sedikit bersabar, acara malam ini tidak akan berakhir buruk seperti saat ini. Seharusnya, dia hanya perlu bertahan beberapa menit saja lagi. Maka semua rintangan besar langsung berakhir dengan baik.


Tapi ... yah, apalah daya. Nasi sudah berubah menjadi bubur. Tidak akan pernah bisa ia olah menjadi nasi lagi. Ya mau tidak mau, harus tetap dimakan dengan senang hati saja.


"Apa kamu baik-baik aja sekarang, Nata?"


Pertanyaan itu langsung membuat Nata meleleh. Dia pun langsung menjatuhkan kepalanya di atas bahu Nila.


"Aku nggak baik-baik aja, Nil. Semuanya kacau sekarang. Semua berantakan akibat kebodohan ku yang tidak tertolong ini." Nata berucap sambil menangis.


"Tidak. Kamu hanya terlalu tidak sabaran, Nata. Aku sudah berkali-kali bilang, kamu harus bisa menahan diri. Cobalah percaya dengan pria yang ada di dekatmu. Karena tidak semua pria itu jahat, sama seperti yang kamu pikirkan sebelumnya. Satu pria yang sudah menyakiti, jangan bawa semuanya."


"Hu hu hu .... Aku tahu. Tapi, sekarang semua sudah terjadi, Nila. Aku tidak bisa memperbaikinya lagi." Nata berucap dengan tangisan yang lepas.


"Siapa bilang kamu tidak bisa memperbaikinya lagi, Nat? Kamu bisa."


Kata-kata itu langsung membuat Nata bangun dari bersandarnya. Dia tatap wajah sahabat dengan tatapan lekat meski matanya yang penuh air mata membuat tatapannya itu buram.


"Bagaimana caranya agar aku bisa memperbaiki yang sudah rusak ini? Aku tidak tahu caranya, Nila. Tidak tahu, hu hu hu .... "


"Ya Tuhan, sejak kapan kamu jadi tidak mau mikir seperti ini, Nata? Tidak banyak cara yang harus kamu lakukan. Kamu hanya perlu minta maaf pada semuanya. Pada semua keluarga dari kalian berdua. Dan, yang terpenting adalah, minta maaf pada Nathan. Karena dia yang paling kamu sakiti malam ini."


"Kenapa dia?"


"Aku yakin kalau dia tidak akan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi. Karena diantara kami tidak ada sedikitpun rasa cinta. Pernikahan ini juga hanya sebatas sandiwara saja, bukan? Kamu tahu hal itu, Nila."


"Nat, mungkin kalian memang menikah hanya sebatas sandiwara saja. Tapi apa yang sudah kamu lakukan malam ini itu sungguh sangat membuat Nathan malu. Sebagai pria ternama yang dikerumuni para perempuan, dia tidak pernah sedikitpun kekurangan kasih sayang."


"Tapi, ulah kamu yang menolak ciuman darinya secara mentah, lalu kamu tinggalkan dia sendirian di atas panggung dengan wajahmu yang sangat terlihat sekali kalau kamu sedang marah, itu pasti sangat membuat Nathan malu. Harga diri Nathan pasti terasa dirobek habis karena ulah kamu tadi. Jadi, kamu harus minta maaf yang tulus padanya. Lakukan segala cara agar kamu bisa mendapatkan maaf dari Nathan, Nathali."