Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 23



Hanya saja bedanya, dia hanya mengalami sakit hati satu kali saja. Dan, dia langsung menutup hati buat siapapun. Dia juga benci dengan pria manapun. Karena saat melihat pria, dia selalu berpikir kalau hati pria itu selalu busuk. Penuh dengan dusta, tanpa ada sedikitpun cinta murni.


Semangat yang Nata perlihatkan membuat Niko mengulas senyum kecil. Dengan penuh harapan, dia melihat Nata. "Semoga berhasil, nona muda." Kali ini, ucapan nona muda tidak lagi bernada ejekan. Melainkan, dengan nada tulus untuk memanggil nona muda sebagai penghormatan.


Setelah dianggap selesai bicara panjang lebar seperti barusan. Niko pun langsung mempersilahkan Nata masuk ke dalam. Sampai di dalam vila, Nata agak sedikit terpukau dengan suasana dalam vila mewah milik Nathan ini. Karena sepertinya, Nathan ini memang pecinta berat warna biru muda.


Semua yang ada di dalam ruangan vila itu sepertinya berwarna biru muda semua. Mulai dari gorden, hiasan bunga, guci besar yang bunganya berwarna biru muda. Dan, sofa juga warnanya biru muda.


"Mm ... Nik. Apa Nathan ini sangat cinta dengan warna biru muda? Aku merasa lucu karena sejak awal aku datang, vila ini tidak ada warna lain selain warna biru muda."


"He he ... aku rasa begitu. Memang Nathan tidak pernah mengganti warna di vila pribadinya ini. Semua yang dia pakai, hanya satu warna. Terkadang, aku juga merasa lucu dengan kesukaan pria dingin itu."


"Kenapa harus biru muda ya? Apa ada cerita tentang itu, Niko?" Nata tidak bisa menahan rasa penasaran juga geli hatinya. Dia pun terus bertanya pada Niko apa yang ingin dia ketahui.


Niko terdiam selama beberapa saat. Hal itu membuat Nata merasa penasaran. Sepertinya, ada yang Niko sembunyikan dari Nata saat ini. Nata bisa merasakan hal tersebut dengan jelas.


Tapi, dia tidak ingin memaksa. Toh, tidak ada kaitannya dengan dia. Meskipun dia ingin memperbaiki kesalahan, tentu saja warna tidak akan mempengaruhi pekerjaan Nata.


"Ah, ya sudahlah. Jangan dibahas lagi soal warna. Toh gak ada kaitannya dengan aku, bukan?" Nata berucap agar Niko tidak terus memikirkan apa yang dia tanyakan barusan.


"Mm ... iya juga. Tapi, aku sungguh kurang tahu dengan alasan pilihan warna Nathan ini. Karena dia tidak pernah bercerita padaku. Dia mulai suka dengan warna ini saat dia kembali dari luar negeri. Karena aku tidak bersama Nathan di luar negeri, jadi aku tidak tahu banyak soal dia yang jauh di sana," kata Niko sambil mengulas senyum kecil yang kelihatan sekali kalau ada yang ia sembunyikan dari Nata.


"Ah, sudahlah. Biarkan saja dia mau suka warna apa. Selagi itu bisa menyenangkan hati, tidak ada masalah, bukan? Ah, lagian tidak baik juga kita tahu banyak prihal pribadi orang lain. Karena hal pribadi itu tidak semuanya layak di bagi." Nata berucap dengan tenang.


"Ini kamar Nathan, Nata." Niko berucap sambil membuka lebar pintu tersebut. "Lihatlah, dia masih terlelap karena pengaruh minuman keras yang ia minum tadi malam."


Ya, Nata bisa melihat Nathan yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi terlentang. Mana tanpa baju lagi. Jadi, dengan jelas, bentuk tubuhnya yang terbentuk sempurna itu Nata lihat dengan sangat baik.


Nata yang tidak sengaja melihat tubuh Nathan, sontak langsung mengalihkan pandangannya. Seketika, dia merasa wajahnya agak panas. Entah karena apa, dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa merasakan hal tersebut. Tapi yang jelas, dia mendadak tidak bisa menguasai hati.


"Mm ... dia sedang tidur. Aku tidak sebaiknya ada di sini, bukan? Jadi ... biarkan aku menunggu dia di luar saja." Nata berucap dengan nada gugup yang berusaha keras ia tahan.


Dia pun ingin segera meninggalkan kamar Nathan. Tapi tiba-tiba saja, suara Niko langsung menghentikan langkah kakinya.


"Katanya kamu ingin berusaha keras untuk memperbaiki kesalahan. Tapi kok malah gak sabaran?"


"Gak sabaran? Maksud kamu?" Nata menatap Niko dengan tatapan kesal. Sungguh, Niko itu terkadang menyenangkan, tapi terkadang bikin kesal juga.


"Iya iyalah gak sabaran banget. Tinggal tungguin dia bangun di kamar ini kok gak mau. Bagaimana Nathan tahu keseriusan kamu buat minta maaf jika nungguin dia bangun di sini aja kamu gak mau, Nata."


"Hei, bukan aku gak mau nungguin dia bangun. Tapi, nungguin dia di kamar ini. Ya ... ngg-- nggak bisa aku. Terlebih, se-- sekarang." Nata bicara dengan nada gelagapan karena terlalu gugup.


"Kenapa gak bisa? Orang dia itu suami kamu. Kamu tenang aja. Gak akan ada yang marah jika kamu tinggal satu kamar dengan dia. Yah, meskipun kalian nikah hanya karena perjanjian, tapi tetap aja, dia itu suami sah kamu lho, Nata."