Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 30



"Tapi, aku ingin melihat keseriusan mu, Nata. Kamu bilang tidak akan menyerah sebelumnya. Mm ... baru aja sekali kena amukan Nathan, kamu udah nyerah aja. Gimana sih kamu," ucap Niko dengan nada yang mengejek.


Tentu saja ucapan dengan nada ejekan itu langsung membuat Nata dan Nila menatap tajam ke arah Niko. Mereka terlihat sangat kesal dengan apa yang Niko katakan barusan.


"Apa? Aku bicara yang sebenarnya kok." Niko berucap lagi dengan wajah yang sepertinya tidak merasakan rasa bersalah sedikitpun.


"Kali ini aku setuju dengan apa yang kamu pikirkan, Nat. Pria itu memang semuanya gak punya perasaan. Taunya mau menang sendiri aja," kata Nila dengan tatapan tajam ke arah Niko.


Tentu saja Niko mulai merasa cemas saat ini. Tatapan itu seakan membuat dia tidak bisa bergerak. Namun, belum juga Niko angkat bicara. Nata yang kini kesal tidak bisa bertahan duduk diam di sini lagi. Dia pun bangun dari duduknya, lalu beranjak meninggalkan Nila dan Niko dengan langkah besar.


Nila yang melihat hal tersebut, langsung ikut bangun. Dengan wajah panik, dia berusaha memanggil si sahabat.


"Nat, tunggu! Jangan pergi gitu aja dong. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, Nata."


Niko yang melihat dengan mendengar apa yang Nila katakan. Sontak langsung menahan tangan Nila agar tidak pergi meninggalkannya.


"Ada apa sih ini? Kenapa Nata langsung ngambek gitu aja. Aku heran banget dengan sikap Nata yang sepertinya lebih mirip anak-anak dari pada wanita dewasa. Baru aja aku ngomong gitu udah ngambek aja. Terus, main pergi segala."


Masih dengan nada yang sama, nada tidak merasakan rasa bersalah sedikitpun, Niko berkata sesuka hati. Hal tersebut semakin membuat Nila merasa kesal dengan Niko. Dia tarik tangannya dari genggaman tangan Niko dengan kuat.


"Lepas! Kamu tidak tahu apa-apa. Tidak punya perasaan, kenapa harus bicara seperti itu pada Nata. Kamu tahu dia sedang sedih dan kecewa akibat ulah Nathan sahabat kamu itu, bukan? Lalu kenapa kamu malah terus mengejek dia? Kenapa tidak memberikan semangat saja padanya, hah!"


Nila melepaskan semua kekesalan dalam hatinya. Tidak ia hiraukan lagi di mana dia berada saat ini. Dan, ada banyak mata yang menatap mereka berdua karena ucapan Nila dengan nada tinggi barusan. Nila juga tidak menghiraukan hal tersebut. Karena sekarang, akal sehat sudah berhasil di kalahkan oleh rasa kesal.


"Lepaskan aku! Aku ingin nyusul, Nata." Nila berteriak keras sambil berusaha melepaskan genggaman Niko dari tangannya.


"Kita keluar sekarang. Kamu berhutang penjelasan padaku sekarang, Nila. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja sebelum menjelaskan semuanya padaku."


Mereka tiba di luar restoran. Niko langsung meminta Nila masuk ke dalan mobil. Nila yang sudah agak tenang karena ucapan Niko, langsung mengikuti apa yang Niko katakan.


"Sebelumnya aku minta maaf jika aku ada salah ngomong. Tapi, aku tidak berpikir kalau kata-kata itu bisa membuat Nata merasa sangat tersakiti. Karena aku pikir, itu hanya ucapan biasa yang tidak akan melukai hati siapapun." Niko bicara dengan nada lemah lembut juga penuh dengan kehati-hatian.


"Nata sedang terluka. Makanya, sedikit saja ucapan kasar akan merusak hatinya. Aku tahu siapa dia, bagaimana dia, dan siapa dia. Karena itu, aku bisa merasakan apa yang dua rasakan saat ini."


"Nathan sudah sangat menyakiti hati Nata sekarang. Meskipun awalnya Nata yang bersalah, tapi bukankah ini sedikit keterlaluan. Nata sudah pernah terluka. Dan, karena masa lalu yang membuat hatinya terluka, dia sampai sekarang mengunci hatinya rapat-rapat. Maka dari itu, dia cukup sensitif dengan pria. Apalagi jika masalahnya adalah hati."


Niko terdiam. Saat itu dia masih kurang memahami apa yang Nila katakan. Dengan tatapan yang masih bingung, Niko menatap Nila yang ada di sampingnya saat ini.


"Aku masih tidak memahami apa yang kamu katakan barusan, Nila. Bisakah kamu bercerita yang lebih lengkap. Maklum, aku bukan pria yang mudah memahami sebuah cerita. Apalagi jika cerita itu soal asmara."


Nila pun langsung menatap Niko dengan tatapan lekat. Dia mendengus pelan, melepas napas berat yang kini serasa memenuhi dadanya.


"Nata .... "


Nila pun lalu menceritakan prihal cerita asmara yang Nata alami. Itu ketika pakaian putih abu-abu masih melekat di tubuh mereka berdua. Ya, mereka sejak duduk di bangku sekolah dasar sudah berteman baik. Nila yang datang dari keluarga sederhana, tidak pernah merasa rendah ketika berteman dengan Nata yang datang dari kalangan atas. Karena sifat Nata yang sangat baik. Dan, keluarganya juga sama.