
"Iya, Non. Mampir ke rumah kami aja. Ini udah cukup siang lho. Ibu pasti udah masak. Ya ... meskipun tidak seenak dan semewah masakan yang pernah non Nata makan. Tapi, masakan ibu ku juga sangat enak lho, Non." Birin yang sejak awal berniat untuk mengajak Nata mampir, tentu langsung menyambut ucapan ayahnya dengan cepat.
"Mm ... pak Amit, mas Birin. Untuk hari ini, kayaknya gak bisa deh. Temanku udah beberapa kami menghubungi aku. Aku ada janji buat bertemu dengannya siang ini. Dan ... lagian aku punya rapat penting nanti sore. Maaf ya," ucap Nata dengan nada penuh sesal.
"Oh, ya udah deh, Non. Kalau gitu harus bagaimana lagi? Gak bisa dipaksakan juga, bukan?" Pak Amit berucap dengan nada sedikit kecewa.
Tapi, yang paling kecewa tak lain adalah Birin. Karena pertama melihat, dia sudah cukup tertarik dengan Nata. Apalagi setelah bicara panjang lebar dengan Nata barusan.
"Yah, sepertinya bukan hari yang pas ternyata. Mm ... semoga lain kali kita bisa bertemu lagi ya, Non Nata." Birin berucap sambil mengeluh kuat.
Nata tersenyum lebar. "Iya, mudahan lain kali aku bisa bertamu ke rumah kamu yah, Mas. Oh, tapi jangan panggil aku nona. Karena agak tidak nyaman. Kamu tidak bekerja denganku, jadi tidak baik memanggil aku nona. Terlalu tidak enak di dengar menurut aku."
"Oh, baiklah. Aku panggil kamu dengan sebutan nama aja yah." Birin berucap dengan penuh semangat.
"Itu lebih baik," kata Nata sambil tersenyum lebar.
Dan, Nata pun pamit duluan meninggalkan pak Amit juga Birin. Maklum, Nila sudah beberapa kali menghubungi Nata. Mana suaranya jempreng karena kesal lagi. Hal tersebut membuat Nata tidak bisa tetap di sana. Karena jika dia tidak juga kembali, maka Nila pasti akan datang buat menyusul Nata secepatnya.
Setelah Nata hilang dari pandangan, Birin masih tidak beranjak. Dia masih tetap berdiri mematung menatap ke arah jalan yang sebelumnya Nata lalui.
Pak Amit yang melihat tingkah si anak tentu langsung mendengus kesal. Dia pun angkat bicara karena tidak ingin anaknya tetap bertahan dengan apa yang si anak lakukan sekarang.
"Pulang sekarang, Birin! Hari sudah siang. Ngapain harus tetap membeku di sini? Gak lapar apa kamu?"
"Ayah, aku beneran gak lapar deh saat ini. Aku udah kenyang saat melihat perempuan tadi. Dia ... cantik sekali. Iya kan, ayah?"
Sontak, ucapan itu langsung membuat Birin menoleh ke arah ayahnya dengan wajah sedih juga kesal. "Kenapa aku tidak bisa memiliki dia, ayah? Apakah ada yang salah jika aku mencintai dia?"
"Ya Tuhan, Birin. Apa kamu gak mikir, kita ini dengan dia itu jauh berbeda. Dia itu anak orang kaya. Lah kamu, kamu anak orang sederhana yang tidak akan bisa bersanding dengannya. Lagian, dia itu tidak mudah untuk jatuh cinta. Mungkin, dia juga tidak akan jatuh cinta lagi sekarang."
Lagi-lagi, ungkapan si ayah membuat buat Birin langsung menatap dengan tatapan bingung seketika. "Ayah tahu banyak tentang, Nata? Sejak kapan ayah kenal dengannya? Kenapa ayah tidak pernah bercerita padaku soal dia ayah?"
"Untuk apa aku bercerita sama kamu, Birin? Gak ada untungnya. Aku kenal dia sudah cukup lama. Entah beberapa tahun yang lalu. Saat itu, dia masih remaja. Dia datang ke taman ini saat dia patah hati."
Lalu ... pak Amit menceritakan semua yang ia ketahui tentang Nata. Dan, bagaimana dia bisa dekat dengan Nata hingga sampai saat ini. Semuanya ia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Sementara itu, Birin mendengarkan cerita ayahnya dengan penuh perhatian. Sungguh, hal itu semakin menambah rasa suka terhadap Nata yang ada dalam hatinya. Entah suka, entah itu rasa simpati. Yang jelas, Birin merasakan hatinya sangat tertarik dengan perempuan yang baru saja dia temui untuk yang pertama kali.
"Untuk itu, ayah sarankan padamu, Birin. Jangan dekati dia karena kamu suka dia. Jangan juga dekati dia jika kamu ingin memilikinya. Karena itu akan membuat hati kamu terluka saja. Dia tidak akan menerima kamu, Nak. Ingat apa yang ayah katakan. Kita bukan orang kaya. Kita dengan dia jauh berbeda. Akan ada banyak sekali rintangan yang akan kamu temui jika kamu bersikeras
melanjutkan niatmu itu. Mengerti, Birin?"
"Tapi ayah .... "
"Sudah. Gak ada kata tapi-tapinya. Sekarang, ayo pulang. Ayah lapar."
Birin langsung menundukkan kepala dengan wajah lesu dia menjawab. "Baiklah."
Di sisi lain, Nathan masih diam di kamarnya. Entah kenapa, pikiran akan Nata masih terus terbayang di kepala Nathan. Dan, ucapan Nata terakhir sebelum pergi dari kamarnya tadi pagi juga membuat Nathan terus memikirkannya.