
"Kenapa kamu terlihat sangat takut ketika aku menatap kamu dengan tatapan tajam, Mas Niko? Lucu sekali. Aku tidak memikirkan hal yang tidak-tidak saat kamu menyebut nama sahabatku. Karena aku cukup kenal dengan sangat baik bagaimana sifat sahabatku itu."
"Dia sahabat baik. Mana mungkin akan menjelekkan aku di depan orang lain. Mungkin, dia pernah kelepasan bicara bagaimana sifat ku pada kamu. Tapi, aku yakin, itu bukan hal yang tidak baik."
"Aku ... aku salut sama persahabatan sejati, seperti yang kalian jalani. Mm ... tapi ada hal yang harus aku katakan padamu. Aku juga sama seperti sahabat kamu itu. Bersahabat baik dengan Nathan."
"Yah, meskipun dia terkesan seperti orang yang tidak punya perasaan. Tapi, Nathan juga pria yang baik. Hatinya cukup tulus saat dia jatuh cinta. Mm ... kamu salah karena telah melukai hatinya malam itu, Nata."
Sontak, kata melukai itu membuat Nata memasang wajah serius. Dia tidak mengerti dengan apa maksud dari kata melukai yang baru saja Niko katakan.
"Me-- lukai? Aku? Melukai hati Nathan? Ah, yang benar saja kamu Niko. Aku tidak percaya kalau aku melukai hati Nathan tadi malam. Karena antara aku dengan Nathan itu tidak ada cinta sedikitpun, bukan? Aku yakin kamu tahu hal itu, Niko."
"Ya. Aku tahu kalau kalian menikah bukan karena cinta. Aku juga tahu kalau pernikahan ini adalah sandiwara saja. Karena sebagai seorang sahabat, Nathan juga sempat menyinggung hal ini denganku. Ya, meskipun itu bukan pembahasan yang terang-terangan seperti kamu dengan Nila. Karena Nathan itu agak sedikit tertutup, jadi dia hanya menyingung sedikit saja. Tapi sebagai sahabat yang peka. Aku cukup bisa memahami semuanya dengan baik, Nata.'
"Jadi ... kenapa kamu bilang kalau aku melukai hati Nathan tadi malam. Aku rasa, aku tidak melukai hatinya. Tapi, aku sudah mempermalukan dia di depan umum. Hanya itu saja, Niko."
Niko lalu melepas napas berat. "Kamu tidak cukup tahu bagaimana perasaan Nathan sebelumnya, Nata. Memang, dia merasa sangat malu tadi malam. Dia juga merasa sangat kesal karena kamu telah mengoyak harga diri yang dia miliki."
"Tapi, kamu harus tahu satu hal, Natalia. Apa yang kamu lakukan tadi malam itu telah membangkitkan luka lama yang ada dalam hati Nathan."
Niko bicara dengan nada sedih. Sedangkan Nata yang mendengarkan prihal luka lama yang dia bangkitkan, tentu dia merasa agak kaget sekaligus bingung dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Aku ... membangkitkan luka lama? Berarti, sebelumnya, Nathan sudah pernah merasakan luka? Begitu kah yang kamu maksudkan barusan, Niko?" Nata bertanya dengan nada cukup prihatin.
Sementara itu, Niko lagi-lagi melepas napas dengan berat. Dia pun langsung mengalihkan pandangan dari Nata. Kini, Niko menatap lurus ke depan. Lalu, dia pun bangun dari duduknya.
"Sebenarnya, Nathan punya gadis yang sangat ia cintai." Niko memberikan jeda setelah mengatakan kalimat itu. Dia pun menoleh ke arah Nata yang masih tetap bertahan dengan duduk manisnya di atas kursi sebelumnya.
"Lalu?" Nata bertanya karena dia sudah tidak sabar lagi. Entah kenapa, dia jadi begitu antusias saat ingin mendengar soal masa lalu Nathan.
"Dia .... " Niko pun melanjutkan ceritanya setelah memalingkan wajahnya kembali.
Waktu itu, Nathan jatuh hati pada gadis cantik anak dari penjaga kantin di sekolahnya. Cinta pada pandangan pertama, juga cinta pertama yang berlabuh pada seorang gadis dari kalangan sederhana itu ternyata cukup menyenangkan.
Ditambah, gadis itu anak yang baik. Berbakti pada orang tua juga selalu menjaga sopan santu dan etika saat bergaul. Senyumannya sangat manis sehingga Nathan tidak bisa untuk tidak jatuh cinta.
Lalu, dengan berani, Nathan mendekati gadis itu secara perlahan. Berusaha menunjukkan sikap yang terbaik agar bisa mendapatkan hati si gadis. Hingga beberapa bulan kemudian, Nathan berhasil menyatakan cinta.
Maklum, pangeran sekolah yang terkenal sangat tampan dengan nilai tinggi di atas semua siswa. Ditambah, dia anak orang paling kaya lagi. Siapapun akan luluh dengan hal itu. Mana Nathan lelaki baik lagi. Mana ada yang bisa nolak dia.
Cinta pertama pada pandangan pertama itupun berjalan dengan baik selama hampir enam bulan. Maklum, itu masih bisa dikatakan cinta monyet karena saat itu, Nathan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Tapi, Nathan tidak berpikir kalau itu adalah cinta monyet. Karena dia ingin serius menjalankan cinta itu. Bahkan, dia berniat untuk menjadikan gadis pujaan hati sebagai istri satu-satunya kelak.