
"Nat, mungkin kalian memang menikah hanya sebatas sandiwara saja. Tapi apa yang sudah kamu lakukan malam ini itu sungguh sangat membuat Nathan malu. Sebagai pria ternama yang dikerumuni para perempuan, dia tidak pernah sedikitpun kekurangan kasih sayang."
"Tapi, ulah kamu yang menolak ciuman darinya secara mentah, lalu kamu tinggalkan dia sendirian di atas panggung dengan wajahmu yang sangat terlihat sekali kalau kamu sedang marah, itu pasti sangat membuat Nathan malu. Harga diri Nathan pasti terasa dirobek habis karena ulah kamu tadi. Jadi, kamu harus minta maaf yang tulus padanya. Lakukan segala cara agar kamu bisa mendapatkan maaf dari Nathan, Nathali."
Karena ucapan Nila yang panjang kali lebar tanpa bosan menjelaskan duduk permasalahan yang sudah terjadi, Nata kini semakin merasa bersalah. Dia pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sebenarnya, Nata bukan perempuan yang lemah dan bodoh. Tapi karena dia tidak suka dengan Nathan, maka dia terlihat cukup bodoh saat ini.
Sementara itu, Niko sedang berusaha mengejar Nathan dengan mobil yang lain. Yah, sekarang, Nathan sudah pergi meninggalkan rumah Nata dengan mobil yang ia rampas kuncinya dari tangan Niko.
Karena masalah yang sudah membuat wajahnya malu, dan harga dirinya sebagai pria terkenal terkoyak habis, Nathan tidak ingin lagi tinggal di tempat tersebut. Tujuan Nathan saat ini adalah, bar. Tempat favorit anak muda kalangan atas untuk melepas lelah. Karena dengan begitu, dia akan bisa melepas semua kegundahan hati dengan di temani oleh para gadis cantik yang siap melayaninya dengan sepenuh hati.
Mobil Nathan melaju dengan kencang, sampai Niko tidak bisa mengejarnya lagi. Karena itu, Niko pun langsung kehilangan jejak dari mobil yang ia ikuti. Hal tersebut membuat Niko mendadak merasa kesal. Dia pukul stir mobil beberapa kali dengan keras.
"Agh! Sial! Sial-sial sial! Ke mana perginya mobil Nathan itu menghilang. Aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Ini semua gara-gara truk sialan yang tiba-tiba menghadang. Agh!" Niko terus berkata dengan nada kesal. Tak lupa, ia acak-acak rambutnya sebagai pelampiasan apa yang hatinya rasakan saat ini.
Kemudian, setelah beberapa saat terdiam di pinggir jalan. Niko ingat akan tempat favorit Nathan. Apalagi ketika Nathan sedang banyak masalah, dia pasti akan mendatangi tempat tersebut.
"Tunggu! Aku tahu ke mana Nathan pergi. Tempat yang paling ia sukai saat pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Aku harus datangi tempat itu sekarang juga," kata Niko dengan perasaan bahagia.
Tapi, beberapa saat kemudian, dia baru ingat kalau ada banyak bar di kota ini. Dia yang tidak tahu di bar mana Nathan singgah, maka hal itu kembali membuat pikiran Niko jadi kusut akibat kesal.
Namun, itu tidak lama. Karena dia ingat akan bar yang ada di dekat jalan yang ia lewati. Otaknya dengan cepat menarik kesimpulan kalau Nathan pasti akan memasuki bar yang pertama dia temui di jalan tersebut.
"Huh, semoga saja dia ada di sana. Sehingga aku tidak perlu mencarinya ke bar yang lain lagi. Aku kan gak tahu banyak tentang bar yang ada di kota ini. Benar deh nasib ini," kata Niko sambil menghidupkan mesin mobil untuk segera menuju bar tersebut.
Sementara itu, Nathan yang sudah tiba di dalam bar, langsung meminta beberapa botol minuman. Setelah minuman itu datang, tanpa banyak bicara juga tanpa aba-aba, Nathan langsung meneguk minuman itu dengan cepat.
Gelas demi gelas, masuk ke dalam perut Nathan dengan sempurna. Sehingga tanpa menunggu waktu yang lama, satu botol minuman pun habis tanpa sisa.
Selanjutnya, tanpa pikir panjang lagi, Nathan langsung membuka botol yang kedua. Saat itulah, seorang perempuan datang mendekat. Dengan manjanya, perempuan itu menawarkan diri untuk menemani Nathan minum bersama.
"Hai, kok sendiri aja? Aku temani yah, kaka tampan."
Nathan tidak menjawab apa yang perempuan itu katakan. Dia malah sibuk dengan botol minuman yang kedua untuk segera ia buka. Tapi, sikap acuh dari Nathan membuat si perempuan makin berani saja. Dia rampas botol minuman itu dengan manja. Lalu, dia yang membukanya dengan penuh perasaan. Selanjutnya, perempuan itu langsung menuangkan air dalam botol tersebut ke gelas Nathan.
"Ini, kak. Silahkan minum," kata si perempuan dengan manja.
Nathan melirik perempuan tersebut. Tidak ada sedikitpun rasa ketertarikan yang muncul dari dalam hatinya saat melihat si perempuan. Tapi malahan, saat ini dia merasa jijik dengan kehadiran perempuan malam yang sangat norak ini.
"Kaka mau lagi? Jika iya, Sely bisa tuangkan lagi buat kaka ganteng. Oh, tidak hanya itu, Sely juga bisa menghibur kaka ganteng malam ini. Agar kaka ganteng merasa bahagia."