
"Mm ... kamu tertarik sama Niko? Tapi ... apa kamu tahu, Sa. Niko ... Niko sudah punya pacar."
Sontak, ucapan itu membuat Salsa langsung terkejut. Dengan mata yang berlinangan karena sedih, dia menatap wajah Nata yang kini juga sedang menatap ke arahnya.
"Ap-- apa ... benar yang kak Nata katakan barusan? Kak ... kak Niko sudah punya pacar? Si-- siapa?" Dengan suara terbata-bata, Salsa berusaha tetap menguatkan hati.
"Seorang perempuan yang cukup tangguh. Namanya, Nila."
Saat itu, sebijik buliran bening langsung jatuh dari mata Salsa. Tapi, dia berusaha menyingkirkan buliran bening itu dengan cepat. "Maaf, kak Nata tahu dari mana? Apa ... apa kak Nata kenal dengan perempuan itu?"
"Yah, aku cukup kenal dengan dia. Karena dia adalah sahabat baikku. Maaf Salsa, aku sudah menyakiti kamu dengan kenyataan tentang Niko. Aku sudah menghancurkan hatimu barusan. Aku hanya ingin kamu tahu sebelum terlambat saja."
Saat itulah, Salsa langsung tergugu. "Aku sudah terlambat mengetahuinya, Kak Nata. Hati ini sangat berharap, tapi aku malah terlambat." Salsa bicara sambil menangis tersedu-sedu.
Nata yang ikut merasakan kesedihan Salsa, langsung membawa Salsa ke dalam pelukannya. "Menangis lah sesuka hati kamu sekarang, Sa. Tapi nanti, kamu tidak boleh menangis lagi. Karena dia mungkin bukan ditakdirkan untuk kamu miliki. Hanya untuk kamu kagumi saja. Jangan lupa, pria bukan hanya ada dia saja di dunia ini. Meski rasanya tidak sama, tapi itu lebih baik dari pada kami dikhianati karena cinta. Karena rasa dikhianati akan jauh lebih sakit dari pada kamu tidak mendapatkan cintanya karena dia tidak mencintai kamu saat ini. Itu masih belum terlambat."
Salsa tidak menjawab. Dia melakukan apa yang Nata katakan. Menangis sesuka hati saat ini. Melepaskan rasa sedih karena apa yang ia harapkan tidak bisa ia miliki.
Namun, karena tangisan itu membuat seseorang merasa sangat penasaran. Orang itupun tidak ingin tinggal diam. Dia langsung menghampiri Salsa dan Nata.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi? Apa ada yang bisa aku bantu?" Pria itu berucap dengan suara prihatin.
Tentu saja hal itu langsung mengalihkan perhatian Salsa juga Nata. Mereka berdua lalu menoleh ke arah asal suara itu berada. Yang ternyata, itu adalah Birin, anak penjaga taman.
Yah, Nata datang ke taman yang ada di pinggir kota. Tempat kesukaannya saat hati sedang galau.
"Birin. Kamu?"
"Ah, Non Nata. Eh, maksudku, Nata. Kamu ternyata ... aduh, maaf yah. Aku langsung datang dan ganguin kalian. Aku ... itu ... aku merasa agak prihatin karena tangisan teman kamu ini. Jadi, aku langsung datang deh."
Nata dan Birin terlibat obrolan yang cukup hangat. Hal tersebut membuat Salsa terdiam dari tangisannya. Dia pun ikut mendengarkan obrolan itu sambil memperhatikan wajah Birin yang terkesan cukup tampan.
"Ee ... kak Nata. Dia .... "
"Oh, maaf. Dia adalah anak kenalan ku. Namanya Birin. Birin, kenalin, ini Salsa. Temanku."
Sontak, Salsa dan Birin langsung sama-sama berjabat tangan. Salsa yang langsung terpaku akibat senyum manis dari Birin, terus menjabat tangan Birin meski sudah sama-sama menyebutkan nama masing-masing.
"Ehem! Mm ... Salsa. Udah kok. Kram itu tangan jika lama-lama bersalaman," ucap Nata yang tahu apa yang sedang terjadi.
Seketika, Salsa sadar dengan apa yang sudah dia perbuat. Dengan cepat, dia melepaskan tangan Birin yang dia genggam. Dengan senyum malu, dia langsung mengalihkan pandangan dari Birin.
"Maaf." Salsa berucap lirih.
"Gak papa." Birin berucap santai seperti tanpa beban.
Beberapa saat ngobrol, mereka pun dapat tawaran dari Birin untuk mampir ke rumahnya. Awalnya, Nata menolak. Tapi karena Salsa kelihatan ingin mampir, Nata pun terpaksa setuju.
Mereka meninggalkan taman menuju rumah Birin hanya dengan berjalan kaki saja. Karena rumah Birin berada tak jauh dari taman tersebut, maka jalan kaki tidak akan memakan waktu lama.
Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga Birin. Ternyata, Birin hanya punya satu adik perempuan yang juga cukup ramah. Dia memberikan sambutan hangat pada Salsa dan Nata.
Beberapa saat menghabiskan waktu di rumah sederhana milik keluarga Birin, akhirnya Nata dan Salsa pulang. Salsa terlihat sangat bahagia setelah meninggalkan rumah Birin. Entah kenapa, gadis yang baru saja bersedih sampai menangis tersedu-sedu itu kini malah terlihat bahagia. Bahkan, sangat bahagia sekarang.
Hal itu membuat Nata menebak, kalau Salsa baru saja jatuh hati. Mungkin, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Birin. Tapi, Nata tidak ingin bertanya banyak. Karena itu adalah hal pribadi Salsa yang tidak semuanya harus ia ikut campur di dalamnya.