
Dia tarik tubuh Nata sehingga jatuh ke dalam pelukannya. Nata reflek ingin langsung melawan agar pelukan itu terlepas. Tapi, Nathan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dengan cepat dia bisikkan sesuatu ke telinga Nata.
"Jangan bersikap terlalu kaku, Nathalia. Kita saat ini sedang menjalankan sandiwara, bukan? Jangan buat orang lain curiga. Buatlah mereka percaya kalau kita adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya. Ingat, kesepakatan ini kamu yang buat, bukan? Bukan aku Nathalia."
Seakan sedang terhimpit oleh beratnya batu besar, Nata tidak bisa berucap sedikitpun. Karena apa yang Nathan katakan itu adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti sandiwara yang Nathan buat. Karena itu adalah kesepakatan bodoh yang dia sendiri ciptakan.
Sementara itu, apa yang sudah Nathan lakukan dianggap hal yang sangat romantis oleh para tamu undangan. Sekali lagi, mereka yang ada di bawah gempar. Dengan semangat bersorak keras karena ikut bahagia.
"Yuhu ... mempelai prianya romantis banget, so sweet banget."
"Cie ... main bisik-bisikan pula kedua mempelai ini. Bikin panas suasana aja. Uhui .... "
"Ah, jangan terlalu romantis, Nathan. Ingat yang jomblo. Kasihan lho," kata Niko yang ada di bawah dengan suara lantang. Dia juga ikut-ikutan bicara saat mendengar para tamu bicara atas apa yang telah Nathan lakukan.
Lalu, beberapa saat kemudian, pembawa acara langsung mengambil alih panggung tersebut. Bukannya membuat tenang, pembawa acara malah semakin memancing kehebohan dari para tamu yang hadir.
Dia malah mengatakan, kalau Nathan bukan berbisik barusan, tapi mencium mempelai perempuan. Hal tersebut lalu membuat Nata membulatkan mata. Ingin sekali ia rebut mic dari si pembawa acara dan dia perjelas apa yang sudah Nathan lakukan padanya.
Tapi sayang, itu tidak bisa Nata lakukan. Karena saat ini, sandiwara tidak bisa ia henti di tengah jalan. Apalagi yang memulainya adalah dia. Jadi, dia tidak bisa melepasnya begitu saja.
Nathan terus tersenyum. Sepertinya, dia sangat menikmati malam ini. Menikmati apa yang sudah terjadi pada Nata tentunya. Dia tahu, Nata pasti sangat tersiksa sekarang. Karena terlihat dengan sangat jelas, kalau Nata saat ini sedang berusaha sangat kerasa agar bisa mengukir senyum.
"Kenapa istriku? Apa kamu merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang?" Pertanyaan yang bernada ejekan itu rasanya membuat kuping Nata terasa cukup panas.
Ia tatap wajah Nathan dengan tatapan tajam. Lalu, dia pun langsung menyunggingkan bibir untuk mengukir senyum terpaksa.
"Coba saja jika kamu bisa, Nona. Jika kamu rusak acara ini, maka yang malu adalah kedua orang tuamu. Ingat! Opa mu mungkin tidak akan bisa terima semua ulah kamu begitu saja. Dia sudah tua tuh," kata Nathan malah mengancam Nata.
'Sialan! Kenapa aku yang harus terjebak dalam rencana ku sendiri sih? Jika aku balas Nathan sekarang, apa mungkin dia akan membuka kedok pernikahan yang ini di sini? Agh! Sial. Benar-benar sial kalau begitu.' Nata merutuk dalam hati.
Selanjutnya, satu demi satu acara malam telah mereka lakukan dengan romantis. Tentunya, hanya sebatas sandiwara saja. Bukan benar-benar romantis seperti yang irang lain bayangkan.
Mulai dari memotong kue, menukar cincin, mengucapkan kata-kata cinta, hingga melempar buket bunga ke para tamu yang hadir. Sekarang, tinggal satu acara lagi yang sebelumnya tidak pernah Nata pikirkan sama sekali. Yaitu ... pembawa acara meminta Nathan mencium bibir Nata dengan mesra.
"Apa!? Mencium bibir?" Sontak keduanya langsung berucap serentak.
Ternyata, kali ini bukan hanya Nata saja yang kaget dengan apa yang pembawa acara katakan. Tapi Nathan juga sama. Dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang si pembawa acara katakan.
Bagaimana tidak? Hal itu sungguh sulit bagi mereka. Sekalipun Nathan suka menggoda Nata, dia juga tidak terpikir untuk mencium Nata di depan umum. Apalagi, yang diminta itu mencium bibir. Mana bisa.
"Ini ... bagaimana mungkin?" Nathan berucap dengan tatapan tidak percaya ke arah Nata.
"Jangan main-main kamu ya. Sudah cukup apa yang kamu lakukan tadi, kali ini, langsung tolak saja." Nata dengan tegas bicara dengan tatapan kesal ke arah Nathan.
Tapi, para tamu undangan malah bersorak sama-sama. Mereka meneriaki satu kata dengan lantang. Yaitu, "Cium-cium ... cium-cium .... "
Kata itu mereka teriakan berulang kali. Nathan merasa tidak bisa menolak apa yang hadir katakan. Lalu, dengan cepat dia menarik tubuh Nata agar bisa ia cium dengan leluasa.
Tentu saja Nata menolak dengan cepat. Secepatnya dia dorong tubuh Nathan agar menjauh darinya. "Untuk hal ini, aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan bersikap terlalu gila, Nathan!"
Sontak, kata-kata itu membuat semua yang mendengar langsung terdiam. Mereka sungguh tidak mengerti kenapa Nata tiba-tiba berucap kata-kata itu dengan nada tinggi. Jikapun Nata malu, ekspresi yang harus dia perlihatkan bukan marah seperti saat ini.