
"Tapi, aku kok merasa ada yang aneh ya dengan Nathan malam ini. Dia itu ... kalo dipikir-pikir, udah gak asing lagi dengan yang namanya minuman. Tapi, kok malam ini bisa mabuk berat dengan durasi waktu yang cukup singkat. Apa ... karena terlalu berat masalahnya? Atau, ada hal lain yang menjadi pemicu dia mabuk berat sampai tidak sadarkan diri seperti sekarang?"
"Namun, kalau soal masalah berat yang Nathan alami, aku yakin bukan itu masalahnya. Karena waktu itu, di rumahnya, Nathan juga minum banyak. Karena masalah hati yang dia alami."
Begitulah Niko masih terus bicara sendiri sambil tetap menyetir mobil dengan baik. Dia memikirkan banyak hal yang membuat dia sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga pada akhirnya, dia tiba di vila di mana Nathan tinggal di sana.
"Nah, aku yakin kalau ini adalah tempat yang paling cocok buat kamu sekarang, Than. Vila kamu. Maaf jika aku tidak mengantarkan aku ke rumah mertuamu yang di mana ada istrimu di sana. Karena aku yakin, kamu pasti tidak ingin ke sana dalam waktu dekat ini."
Dia pun langsung menurunkan Nathan dari mobil. Sementara itu, kepala pelayan juga beberapa pelayan lainnya langsung mendekat ketika melihat Nathan yang Niko papah.
Dengan wajah cemas, mereka langsung menghampiri Nathan. "Ada apa, Mas Niko? Kenapa dengan tuan muda? Apa yang sudah terjadi? Kenapa tuan muda anda bawa ke sini, Mas Niko."
"Ceritanya panjang, Pak Yahya. Maaf jika aku tidak bisa menjawab pertanyaan bapak yang terlalu banyak barusan. Karena yang terpenting saat ini adalah, kita urus Nathan terlebih dahulu."
"Sekarang, dia sedang mabuk berat. Tolong siapkan sup atau minuman yang bisa ia minum supaya mabuknya bisa mendingan," kata Niko pada salah satu pelayan.
"Baik, Mas Niko. Akan saya buat secepatnya," ucap pelayan itu dengan cepat.
Sementara itu, di rumah Nata, kedua keluarga masih ada di sana. Mereka sama-sama memarahi Nata atas apa yang sudah Nata lakukan di atas panggung tadi.
Nata tidak bisa menjawab apa yang mereka katakan. Karena memang, dia telah menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan. Yang bisa Nata lakukan hanyalah menundukkan kepala dengan wajah sedih.
Sejak awal, mama Nathan adalah orang yang paling acuh dengan perjodohan antara anaknya dengan Nata. Dia merasa, kalau anaknya dan Nata ini tidak terlalu cocok. Pertama, itu karena mereka tidak saling kenal apalagi saling cinta. Karena alasan itu, mama Nathan tidak ingin anaknya menerima perjodohan yang kedua tetua keluarga buat. Tapi, ternyata si anak cukup antusias dengan perjodohan kali ini. Maka dari itu, dia terpaksa setuju meski hatinya cukup berat.
Sementara yang kedua, sebenarnya, mama Nathan sudah punya pilihan lain untuk dia jadikan pendamping sang anak. Tapi, karena Nathan tidak suka dengan gadis ini, maka dari itu dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Karena yang menjalankan hidup berumah tangga itu adalah sang anak. Maka dia tidak ingin ikut campur.
Tapi, apa yang sudah terjadi malam ini membuat hati mama Nathan sangat kesal. Saat itulah dia berpikir, mungkin gadis yang ia pilih adalah perempuan terbaik untuk anaknya. Dan, mulai dari malam ini juga, dia bertekad untuk mendekatkan si anak dengan perempuan yang dia pilih.
Mama Nathan tidak memikirkan lagi kalau sekarang, anaknya sudah menjadi suami orang. Karena status itu, tidak ada artinya bagi mama Nathan setelah apa yang Nata lakukan tadi. Dia juga langsung tidak menganggap Nata sebagai menantunya mulai dari malam ini juga.
"Ayo pulang, Pa! Tidak ada gunanya kita tetap di sini. Lagipula, soal Nathan yang sudah pergi, kita tidak tahu dia di mana sekarang? Niko masih belum memberikan kabar pada kita."
"Tenang dulu, Ma. Ini semua hanya kesalahpahaman aja kok. Kita akan selesaikan secara baik-baik ya." Papa Nathan angkat bicara untuk menenangkan sang istri yang sepertinya tidak bisa menahan amarah lagi.
"Mana bisa mama tenang, Pah. Malam ini, mama sudah tidak ada rasa sabar lagi. Stok sabar mama sudah habis karena ulah cucu menantu yang papa kamu pilihkan."
"Easy. Cukup! Keadaan sudah rumit, jadi kamu jangan menambah rumit suasana lagi. Jika kamu tidak bisa diam, maka kamu pulang saja duluan." Opa Nathan selaku tetua keluarga angkat bicara.
Seketika, Easy pun langsung diam. Walau bagaimanapun, dia juga masih takut dengan papa dari suaminya ini. Karena sekali keputusan orang tua itu buat, maka tidak akana ada yang bisa merubahnya lagi. Kecuali ... Nathan. Cucu kesayangan satu-satunya dari orang tua tersebut.