
Sebenarnya, bukan Nata saya yang terkejut akan kata-kata Nathan barusan. Tapi Niko dan yang lainnya juga. Mereka tak percaya jika Nathan bisa berkata dengan kata-kata yang sangat kasar di luar logika. Mana bicara dengan lawan jenis lagi. Hal yang tidak seharusnya Nathan lalukan. Mengingat, Nata datang dengan niat yang tulus untuk minta maaf juga berniat memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.
"Aku akan tetap tinggal di sini walaupun kamu tidak mengizinkannya. Aku memang bukan nona muda di rumah ini. Tapi, aku bisa menjadi pelayan pribadi kamu selama beberapa bulan agar aku bisa menebus kesalahan yang sudah aku perbuat padamu." Nata bicara setelah sebelumnya menarik napas dalam-dalam.
"Heh! Aku tidak butuh pelayan pribadi. Karena aku sudah punya segalanya di sini. Aku tidak bisa melihat kamu tinggal di rumahku. Karena wajahmu bikin aku merasa tidak nyaman. Perempuan itu sama saja. Sama-sama tidak punya malu. Datang hanya karena butuh saja."
"Hei, aku nggak datang karena aku butuh kamu, Nathan. Aku datang karena aku merasa bersalah. Aku berhutang maaf pada opa kamu. Karena itu, aku ingin memperbaiki kesalahan yang telah aku perbuat."
"Berhutang maaf? Kamu pikir aku percaya dengan apa yang kamu katakan? Cih, sialan! Tidak akan pernah bisa aku percaya sedikitpun."
"Nathan! Kamu .... "
"Apa!? Mau marah? Mau ngamuk-ngamuk lagi seperti yang tadi pagi? Silahkan! Aku tidak akan keberatan. Karena itu akan lebih bagus lagi."
Kata-kata itu menyadarkan Nata akan niat kedatangannya. Nata pun kembali berusaha menenangkan diri. Sungguh, ucapan Nathan memang luar biasa pedasnya. Sangking pedasnya ucapan itu, dia sampai ingin meledak sekarang juga.
"Tidak. Aku tidak akan marah. Tapi ... Nathan, mari bikin perjanjian lagi sekarang. Beri aku waktu tiga bulan untuk memperbaiki semuanya. Izinkan aku tinggal di sini selama tiga bulan, jika aku tidak berhasil membuat kamu memaafkan aku, maka hubungan kita berakhir. Hutang maaf ku pun selesai. Bagaimana?"
"Tidak! Aku tidak tertarik dengan kesepakatan yang kamu buat. Aku muak dengan melihat wajahmu saja. Bagaimana aku harus bertahan dengan waktu tiga bulan, hah!"
"Nathan. Ini adalah kesempatan baik buat kalian berdua. Lagian, kamu juga tidak bisa bercerai dengan Nata sekarang, bukan? Kamu juga membutuhkan waktu tiga bulan setelah kalian menikah, baru bisa bercerai." Niko kini angkat bicara. Dia yang sudah sangat kasihan pada Nata, tidak bisa terus diam tanpa membantu Nata bicara.
Nathan terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Niko katakan barusan. Lalu, sebuah ide jahat muncul dalam benak Nathan saat ini. Dia akan membiarkan Nata tinggal di vila nya sekarang. Tapi, bukan sebagai istrinya. Melainkan, sebagai pelayan yang akan mengurus semua yang ia butuhkan.
Tiga bulan waktu yang cukup lama. Tapi, jika dia bisa menyiksa Nata dalam waktu tiga bulan, maka itu akan sangat menyenangkan.
Setelah beberapa saat membulatkan tekad, Nathan akhirnya angkat bicara.
"Baik. Aku akan terima kamu tinggal di vila ku. Tapi, bukan sebagai nona muda alias bukan sebagai istri dari Nathan Murad. Tapi melainkan, sebagai pelayan yang akan mengerjakan semua yang pelayan lain kerjakan. Kamu juga akan aku berikan seragam pelayan yang sama persis dengan pelayan di vila ini pakai. Bagaimana?"
"Nathan. Jangan lakukan hal itu. Itu sungguh sangat keterlaluan. Bagaimana jika keluarga tahu tentang ini?" Niko yang kaget langung berucap.
Sementara Nata yang sudah bertekad, dia tidak akan mundur selangkah pun. Begitu juga ketika syarat itu ia dengar. Dia akan laksanakan syarat itu dengan senang hati. Meskipun dia tidak tahu sampai seperti apa dia harus bertahan.
"Niko, jangan cemas. Aku akan terima syarat yang dia berikan. Karena aku sudah berniat untuk minta maaf, dan mengembalikan keadaan sebisa aku, maka ini adalah jalan yang harus aku ambil."
"Nathan, aku terima."
Dan, itulah hal yang bikin semua mata membulat karena tidak percaya. Mulai dari sore itu pula, Nata diangkat sebagai pelayan di vila. Dia langsung di beri kamar yang sama dengan pelayan lainnya. Juga, di berikan pakaian yang sama persis dengan pelayan yang lain.
Bukan hanya itu saja, dia juga langsung diberi tugas oleh Nathan untuk menyiapkan makan malam untuk semua orang. Hal yang tidak pernah Nata lakukan sekalipun selama ini. Tapi, bukan Nata namanya jika ia menyerah. Dia pun menyanggupi apa yang Nathan katakan.
"Kau cocok dengan pakaian itu, Perempuan." Pujian yang penuh dengan ejekan itu Nathan berikan setelah tugas ia berikan pada Nata.
"Tapi ingat! Jangan pernah membuat aku kesal dengan hasil dari pekerjaan yang kamu buat. Kau harus membuat aku senang jika ingin dapat maaf dari aku juga opa ku."
"Kita lihat saja nanti," kata Nata dengan nada mantap.