
Tapi sayang, yang dibayangkan memang terkadang jauh dari kenyataan. Bukannya saling memahami, mereka berdua malah saling menyakitkan satu sama lain.
Cerita Nila berakhir. Niko yang mendengarkan dengan seksama, kini langsung memasang wajah prihatin yang cukup terlihat sangat jelas. Kini, dia juga merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan barusan. Dia sungguh tidak mengetahui tentang cerita masa lalu dibalik perempuan yang ia anggap cukup judes dan dingin ini.
"Maafkan aku, Nil. Aku sungguh merasa bersalah akan apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak tahu kalau Nata juga sama seperti Nathan. Punya masalah dengan hati dan kisah cinta yang berakhir tragis."
Nila lalu menoleh dengan cepat. Ucapan Niko barusan membuat hatinya merasa cukup kebingungan. " Kamu bilang apa barusan, Nik? Nata dan Nathan punya cerita yang sama? Maksud kamu?"
"Ya, mereka punya cerita cinta yang sama-sama menyakitkan. Jika Nata gagal satu kali, Nathan malah sudah gagal beberapa kali. Dan kali ini, dengan Nata. Perempuan yang ia anggap cukup berbeda dari perempuan yang lainnya. Eh, malah terluka juga."
"Tunggu deh. Aku malah semakin gak ngerti dengan apa yang kamu katakan barusan itu. Coba deh ceritakan dengan lengkap. Karena ... ya sama seperti kamu, aku juga gak bisa memahami cerita cinta dengan baik."
Niko tersenyum kecil. Dia pun tanpa menunggu lama lagi langsung menceritakan prihal cerita cinta yang buruk yang pernah Nathan alami selama ini. Nila yang menjadi pendengar, hanya bisa mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dengan apa yang Niko katakan.
"Jadi ... mereka berdua datang dengan masa lalu yang sama ternyata," ucap Nila setelah Niko selesai bercerita.
"Yap, bisa dikatakan begitu, Nil. Mereka sama-sama punya masa lalu yang rumit tentang cinta. Karena itu, mereka sama-sama tidak akan ada yang mau mengalah."
"Tunggu! Mm ... kamu mikir gak sih, kalau sebenarnya perjodohan ini gak ada undur bisnisnya sedikitpun. Apa mungkin, perjodohan itu dilakukan karena mereka sama-sama datang dengan masa lalu yang sama. Benarkah begitu?" Nila berucap dengan wajah yang berusaha memahami semuanya. Karena setelah mendengar cerita dari Niko, dia baru merasa kalau perjodohan itu sengaja dilakukan untuk menyatukan Nata dan Nathan.
Niko yang mendengar apa yang Nila katakan barusan pun melebarkan mata. Saat itu, Niko juga baru menyadari penyebab utama perjodohan itu tercipta.
"Benar. Mereka mungkin emang dijodohkan karena datang dari masa lalu yang sama. Nila, kalau begitu, kita juga harus ambil andil dalam perjalanan ini. Kita harus bantu mereka bersama. Karena sebagai sahabat baik, kita juga harus berperan dalam masalah menyatukan mereka berdua."
"Yah, aku juga berpikir begitu, Nik. Kita harus bantuin Nata dan Nathan buat baikan. Aku yakin, karena mereka datang dengan masa lalu yang sama, perlahan tapi pasti, mereka pasti bisa saling melengkapi."
Begitulah pada akhirnya, Niko dan Nila bertekad untuk membantu Nata dan Nathan. Mereka akan menyatukan keduanya. Karena mereka pikir, mereka juga perlu ambil andil dalam memperbaiki hubungan teman masing-masing.
....
Nata terdiam di kamar ketika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Setelah kembali dari restoran, ia langsung masuk ke kamar. Tidak bicara dengan siapapun. Karena hatinya cukup sedih dan kesal saat ini.
Ketukan semakin terdengar, Nata dengan malas bangun dari duduknya. Dia dekati pintu kamar itu dengan langkah lemas.
"Tunggu," ucap Nata pelan.
Pintu pun terbuka. Dari balik pintu muncul Nila dengan senyum kecil di bibirnya. "Sayang, maafkan aku yang baru tiba. Kamu bikin aku sangat cemas saja tadi," ucap Nila sambil terus mempertahankan senyum di bibirnya.
Ya, dia Nila. Dia dan Niko langsung datang ke rumah Nata setelah menghubungi mama Nata sebelumnya. Ketika tahu Nata sudah ada di rumah, Nila pun langsung memutuskan untuk datang.
Karena dia sudah biasa dengan rumah sahabatnya, maka dia langsung ke kamar. Tentunya, Nila sudah izin dulu buat masuk ke kamar si sahabat. Sedangkan Niko, dia memilih menunggu di ruang tamu ditemani mama Nata.
"Uh, kamu. Gak papa, Nil. Aku baik-baik aja sekarang. Gak perlu memikirkan aku. Karena sahabatmu ini tidaklah selemah yang kamu bayangkan."
"Mm ... kamu yakin, Nat? Kamu gak papa saat ini?" Nila berucap sambil mengikuti langkah Nata masuk lebih jauh ke dalam kamar.
"Iya. Aku gak papa. Kamu tenang aja."
Keduanya pun bicara beberapa saat. Setelah Nila berhasil memastikan kalau Nata beneran gak papa, dia pun langsung membahas tujuan kedatangannya yang utama ke kamar Nata.