Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 8



Nathan yang diingatkan pun langsung tersenyum. "Nona bisa saja. Mm ... bukankah nona ini adalah calon istri saya. Jadi, apa yang saya lakukan sebelumnya tidaklah salah. Saya menatap apa yang seharusnya saya tatap, bukan?"


Wajah Nata terasa agak panas akibat pertanyaan itu. Dia yang kesal, kini sepertinya sudah hilang kendali. Pria yang ia anggap bisa ia ajak kerja sama sebelumnya, eh malah tidak sama dengan apa yang ia bayangkan. Hal yang sungguh sangat mengesalkan buat hati Nata.


"Jika anda pikir begitu, maka tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Siap-siap saja hidup anda akan saya buat hancur setelah kita bersama. Karena saya ... sangat tidak tertarik untuk menikah dengan anda secara sungguh-sungguh. Jadi .... "


"Ups, tunggu dulu, Nona. Siapa bilang saja tertarik untuk menikah dengan anda secara sungguh-sungguh. Tapi ... mendengar apa yang nona katakan, saya jadi ingin lihat bagaimana nona bisa membuat hidup saya hancur."


Beberapa saat lamanya mereka saling berjawab kata satu sama lain. Hingga pada akhirnya, kesepakatan untuk bekerja sama pun tercipta. Nathan menerima tawaran Nata untuk menikah secara bohong-bohongan setelah banyak kata yang mereka ucapkan.


"Setuju! Kita hanya menikah sebagai pasangan bohongan saja," ucap Nata dengan perasaan lega saat keputusan akhir sudah sama-sama mereka sepakati.


"Iyap. Setuju. Hanya menikah sebatas status di depan umum saja. Semoga anda tidak menyesal di kemudian hati, Nona." Nathan berucap dengan nada yang penuh godaan.


Keduanya berucap sambil berjabat tangan. Baik Natha dan Natali terlihat cukup kompak sekarang. Tapi pada dasarnya, mereka masih saja saling sengat satu sama lain.


"Aku tidak akan menyesal, tuan muda Murad. Kamu tenang saja." Nata berucap dengan senyum menyeringai nya.


"Uh, baguslah. Aku sangat tidak sabar untuk bermain peran dengan kamu, Nona. Semoga saja kamu tidak mengecewakan harapanku yah."


"Tenang, aku tidak akan mengecewakan anda, tuan muda. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, anda tenang saja."


Begitulah yang terjadi sekarang. Mereka tidak layak disebut sebagai partner. Melainkan, mereka layaknya disebut sebagai musuh bebuyutan yang saling menghancurkan satu dengan yang lainnya.


....


Pada akhirnya, pembicaraan itu berakhir juga. Nata pun meninggalkan kantor Murad grup dengan perasaan yang sedikit lega. Meskipun apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi setidaknya, itu lebih baik dari sebelumnya.


"Sudah. Tapi sayangnya, tuan muda itu tidak mudah untuk diajak kerja sama. Meskipun aku berhasil, tapi tetap saja, sedikit membuat aku kesal dengan apa yang dia ucapkan."


"Yah, mungkin kalian sama-sama punya ego yang tinggi kali. Maklum, pertemuan pertama yang tidak direncakan. Pasti hasilnya sedikit berantakan, Nat."


"Iya kali. Aku juga berharap begitu. Semoga lain kali dia tidak akan membuat aku kesal saat berhadapan dengannya."


"Kesal itu tergantung hati kamu, Nata. Coba aja kamu menerima dengan baik, aku yakin kamu tidak akan merasa kesal. Lah aku tahu kamu kok. Kamu itu suka begitu jika kamu tidak suka dengan seseorang."


Nata lalu melepaskan napas berat. "Ya udahlah. Gak perlu dibahas lagi soal ini. Yang penting sekarang, aku udah menyelesaikan beban berat hidupku walau hanya secuil saja. Yang selebihnya, aku pasrahkan pada keadaan saja. Semoga keadaan selalu memihak padaku."


"Yah, semoga saja."


Setelah hari itu, pertemuan pribadi antara Nathali dengan Nathan pun berjalan dengan baik. Keduanya seperti menjalankan peran satu sama lain dengan cukup profesional.


Kencan pertama mulus tanpa ada hambatan. Meskipun terlihat sekali wajah terpaksa dari Nata, tapi tetap, semua sesuai yang diinginkan.


Karena kencan berjalan dengan baik, keluarga kedua belah pihak malah langsung memutuskan pernikahan secepatnya. Dari perhitungan dua bulan lagi, jadi dua minggu lagi. Hal tersebut bikin Nata melongo akibat tak percaya dengan keputusan yang keluarga buat.


"Apa!? Kalian mengatakan pernikahan akan dipercepat? Bagaimana bisa?" Nata sungguh kaget sampai dia tidak bisa menahan nada bicaranya di depan opanya lagi.


"Kok malah kaget, Nak? Keputusan ini diambil karena melihat hubungan antara kamu dengan Nathan sungguh sangat baik. Kalian terlihat cocok setelah kami pertemukan. Jadi, untuk apa waktu dua bulan. Karena waktu itu terlalu lama."


Ucapan itu langsung membuat Nata merasa menyesal karena telah bermain peran dengan baik. Terbersit pikiran untuk bersikap buruk agar hubungan antara dia dengan Nathan harus diperhitungkan kembali oleh kedua belah pihak keluarga. Tapi sayang, apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Nata terpaksa menerima takdir dengan apa yang sudah keluarganya sepakati.