
Seketika, mereka semua langsung mengubah ekspresi mereka masing-masing. Tentu saja mereka langsung merasa tidak enak hati juga takut. Karena mereka baru aja bicara tentang Nathan sesuka hati.
"Ee ... pak Yahya. Maaf ya, tolong jangan katakan dengan tuan muda apa yang sudah kami bicarakan barusan."
"Iy-- iya, pak Yahya. Tolong jangan ngomong sama tuan muda yah. Kami ngomongin tuan muda juga hal yang sesungguhnya. Lagian, kami kasihan dengan nona muda yang barusan itu lho. Sepertinya, tuan muda sudah memarahinya dengan keras."
Pak Yahya tidak langsung menjawab apa yang beberapa pelayan itu katakan. Dia hanya memberikan tatapan tajam ke arah para pelayan satu persatu. Hal itu tentu saja membuat para pelayan jadi sangat ketakutan. Mereka langsung menundukkan kepala mereka dengan cepat.
Melihat hal itu, pak Yahya malah tersenyum geli. Ternyata, mereka cukup takut dengan dirinya. Karena itu, niat usil untuk mengerjai para pelayan langsung muncul secara tiba-tiba di hati pak Yahya.
"Kalian berani sekali bicara soal tuan muda di belakangnya. Aku tidak akan tinggal diam. Akan aku .... "
"Jangan pak! Tolong jangan adukan pada tuan muda," kata salah satu pelayan dengan cepat memotong perkataan pak Yahya.
"Iya, pak jangan. Kami hanya merasa simpati terhadap sesama perempuan. Mana itu nona muda lagi."
"Kalian simpati? Apa kalian tahu apa yang sudah dia lakukan? Lalu, dari mana kalian tahu kalau itu adalah nona muda kalian? Bukankah tuan muda belum pernah mengenalkan nona muda pada kalian?"
"Iya, kami memang tidak tahu apa yang sudah nona muda lakukan. Tapi kami hanya kasihan. Mm ... untuk nona muda, kami tahu dari mas Niko. Dia sudah memperkenalkan pada kami saat membawa nona muda masuk ke vila tadi."
"Oo .... " Pak Yahya kini baru mengerti kenapa para pelayan itu bisa tau kalau perempuan yang masuk ke vila adalah nona muda. Ternyata Niko yang sudah memperkenalkan nona muda pada para pelayan.
"Mm ... kalian tidak akan aku adukan. Tapi, tolong jangan ikut campur urusan orang lain. Karena kita tidak tahu apa yang telah mereka alami sebelumnya. Untuk itu, kita tidak bisa menghakimi mereka secara pribadi. Apalagi, orang itu adalah tuan muda kita."
Para pelayan kembali menundukkan kepala mereka masing-masing. Ucapan pak Yahya itu masuk ke dalam hati mereka. Dan, telah dibenarkan oleh benak mereka masing-masing.
"Apa kalian paham dengan apa yang aku katakan barusan?" Pak Yahya berucap kembali.
....
Nata tiba di taman indah yang selalu ia datangi jika hatinya merasa sangat gundah. Taman itu cukup sepi karena jauh dari keramaian kota. Ditambah, ini bukan hari libur, jadi tidak ada yang datang untuk berkunjung karena hampir semua orang sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Nata masuk ke taman dengan langkah pelan. Semua hal yang sudah ia lalui selama beberapa hari terakhir terus saja bermain di dalam benaknya tanpa henti. Hal itu membuat Nata merasa cukup lelah.
Sampai di tempat favorit kesayangannya, Nata langsung mendudukkan bokongnya dengan kasar. Itu adalah tempat istimewa buat Nata. Kursi kayu yang ada di bawah pohon besar di depan telaga.
Namun kali ini, ketika dia menikmati pemandangan telaga tersebut, seketika, ia langsung terbayangkan telaga yang ada di vila Nathan. Hal itu membuat hatinya merasa sangat kesal.
"Agh! Jauh-jauh aku datang ke taman ini. Bukannya bikin tenang, eh malah semakin merasa resah akibat ingat dengan pria itu. Dasar, semua pria itu sama saja. Pendusta, bajingan, dan tidak punya perasaan." Nata ngomel dengan nada cukup keras karena ia pikir, dirinya sedang sendirian. Tidak akan ada orang yang mendengarkan apa yang baru saja dia ucap.
Tapi, apa yang dia pikirkan ternyata salah besar. Saat ini, di taman itu ternyata ada orang lain. Dan yang tidak enaknya, orang itu langsung menjawab apa yang Nata katakan tanpa memikirkan kalau mereka tidak kenal sedikitpun sebelumnya.
"Nggak kok, Nona. Pria itu gak bajingan. Mm ... setidaknya, nggak semuanya pria itu bajingan. Gitu maksudku."
Sontak, kata-kata itu langsung membuat Nata menoleh ke arah asal suara. Itu datang dari samping Nata. Dan, pria itu muncul dari balik tanaman hias yang ada tak jauh dari tempat Nata duduk.
"Kamu! Siapa?" Nata bertanya dengan nada agak tinggi. Selain karena kesal, dia juga agak kaget sih dengan kemunculan pria itu.
Si pria malah tersenyum lebar. Senyuman yang cukup manis untuk dilihat. Tapi tidak bagi Nata. Karena hanya dengan sebuah senyum saja tidak akan mampu membuka hati Nata yang tertutup rapat.
"Maaf nona. Saya sudah membuat anda kaget. Bahkan, saya juga mungkin membuat nona merasa sangat kesal. Mm ... nama saya Birin, Nona. Anak .... "