Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 43



"Nathan! Sebenarnya, apa yang Nata katakan itu mungkin benar."


Makin memerah mata Nathan akibat pembenaran Niko atas kata-kata yang Nata ucapkan barusan. Sungguh, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja kupingnya dengar.


"A-- apa!? Kamu bilang apa barusan, Niko? Apa yang dia katakan itu benar? Kata-kata yang sangat menyakitkan itu kamu bilang benar? Apa kau sudah gila! Sekarang, kau tidak lagi berada di pihak ku hanya karena hubungan kamu dengan temannya yang begitu dekat, Niko."


"Semua ini tidak ada hubungannya dengan aku dan Nila, Nathan!" Kini, Niko tidak tahan lagi bertahan dengan nada pelan. Dia pun langsung memakai nada tinggi untuk menyamai nada bicara Nathan padanya.


"Kau tahu, dirimu memang pantas Nata perlakukan seperti itu. Aku berada di pihaknya, bukan karena hubungan antara aku dengan sahabat Nata. Tapi, karena memang keadaan yang meminta aku untuk berada di pihak Nata."


"Kau sudah sangat keterlaluan. Ada perempuan yang datang minta maaf padamu, kamu malah semakin meninggikan ego. Apa salahnya kamu membuka pintu maaf buat dia Dan, tidak terus-terusan mempersulit Nata di rumah ini."


"Yang terluka di sini bukan hanya kamu saja, Nathan. Tapi Nata juga. Kau hanya peduli dengan perasaanmu. Bagaimana dengan perasaan Nata?"


"Jika untuk cerita masa lalu, kau tidak pernah tahu apa yang sudah Nata alami di kehidupan masa lalunya. Asal kamu tahu, dia juga punya cerita cinta kelam di masa lalu. Bahkan, dia hanya satu kali jatuh cinta, dia tidak pernah membuka hatinya hingga detik ini."


Lalu, secara brutal Niko terus bicara tanpa henti. Hatinya yang tidak bisa menahan amarah, membuat dia tidak memberikan kesempatan pada Nathan buat bicara.


Niko pun menceritakan semua yang Nata alami di masa lalu. Hal itu perlahan membuka mata hati Nathan yang telah tertutup. Perlahan tapi pasti, Nathan merasakan rasa tidak nyaman akibat rasa bersalah yang ada dalam hatinya. Yah, meskipun dia tidak mengakui kalau dia saat ini merasa bersalah pada Nata. Tapi hatinya tidak bisa berbohong.


"Dan, kesalahan malam itu bukan karena keinginan Nata. Tapi, itu karena hatinya yang sangat tidak bisa bertahan lagi malam itu. Makanya dia kabur."


"Tapi ... dia juga salah, Niko."


"Yah, dia memang salah. Tapi kamu lebih salah. Dia sudah datang dengan sendirinya untuk minta maaf. Tapi kamu malah menyia-nyiakan niat baiknya itu. Awas saja, Nathan. Penyesalan datang hanya saat semua sudah terjadi dan tidak akan pernah bisa kamu ulangi lagi nantinya."


Setelah merasa puas, Niko pun pergi. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, tapi saat ini, keadaan sudah sangat terbalik. Seharusnya, Nathan yang marah. Tapi sekarang, malah Niko yang marah-marah. Bahkan, Niko begitu berani meninggalkan Nathan sendirian tanpa izin.


Malam semakin larut, Nata tidak kembali ke vila melainkan pulang ke rumah Nila. Dia masih belum siap untuk berhadapan dengan Nathan karena hal yang sudah dia katakan tadi siang.


Nata masih butuh banyak waktu untuk memperbaiki diri sebelum berhadapan dengan Nathan kembali.


Sementara Nathan yang tinggal sendirian saat ini, merasa sangat kesepian. Tidak ada sahabat, tidak ada orang yang sudah melayaninya selama satu minggu terakhir dengan sangat baik.


Yah, baru satu minggu di layani Nata, saat Nata tidak ada, tiba-tiba ia merasa ada yang kurang. Entah karena cinta sudah mulai tumbuh, atau karena rasa bersalah yang kuat. Tapi yang jelas, dia berharap kalau Nata pulang ke rumah malam ini.


.....


Setelah malam panjang yang sulit, Nathan akhirnya bisa memejamkan mata karena kelelahan. Tapi, baru juga ingin terlelap, suara sayup adzan subuh sudah terdengar. Nathan pun memilih bangun dan mandi saja.


Pagi ini, dia berniat untuk bicara empat mata dengan Nata. Jika Nata pulang ke vila tentunya. Tapi jika tidak pulang, maka dia akan datang untuk menemui Nata di manapun Nata berada.


"Aku harus meluruskan masalah yang sedang terjadi. Tidak boleh terap dilanjutkan begini saja." Nathan bicara sambil menatap dirinya di depan cermin.


.....


Selesai sarapan pagi, Nathan duduk di ruang tamu. Niko yang semalaman tidak pulang, akhirnya menampakkan batang hidungnya pagi ini.


"Kamu tahu rumah juga," kata Nathan menyambut kepulangan Niko.


Ucapan itu terlontar karena hatinya sedikit kecewa akan kemunculan Niko. Karena yang ia harapkan muncul bukan Niko, melainkan, Nata.