
Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya memikirkan prihal yang tidak penting seperti barusan. Lalu, saat itu dia ingat dengan apa yang mamanya katakan.
"Ternyata benar, dia suka warna biru muda. Warna terang yang bagiku terasa sedikit norak. Uh, memang kesukaan seseorang itu sangat jauh berbeda," kata Nata lagi sambil terus berjalan lebih dalam ke halaman vila.
Ternyata, suasana vila semakin jauh semakin indah dan semakin membuat nyaman. Udaranya yang sejuk karena pepohonan yang di tata dengan rapi. Tamannya yang sangat terawat bikin hati tentram. Dan, sebuah kolam kecil yang sangat indah.
Itu baru dilihat dari kejauhan saja, Nata sudah bisa merasakan keindahan dari kolam yang ada di sisi kiri vila tersebut. Bagaimana jika ia berada di tepi kolam? Mungkin Nata akan menikmati suasana kolam itu selama beberapa jam.
Karena itu bukan hanya sekedar kolam renang pada umumnya. Melainkan, lebih mirip sebuah telaga yang sekelilingnya murni dari ciptaan alam. Alias, tidak ada batu yang di cor di sana. Hanya ada danau alami yang ditumbuhi rumput-rumput kecil dan beberapa macam bunga yang indah.
Karena melihat hal tersebut, Nata jadi terbuai. Ia seakan lupa dengan apa tujuan dia datang ke tempat tersebut. Sangking sibuknya dia dengan rasa kagum yang dia miliki akan keadaan sekeliling vila, Nata pun tidak menyadari kalau sejak beberapa saat terakhir, dia sudah diperhatikan oleh seseorang.
"Ehem! Permisi, anda siapa?"
Pertanyaan itu sontak langsung membuat Nata jadi kaget. Seketika dia langsung menoleh dengan cepat. Saat itulah, orang yang bertanya padanya barusan langsung mengenali siapa Nata.
"Nona ... nona Nathalia."
"Iy-- iya. Ini ... saya. Nathalia."
"Ya Tuhan. Maafkan saya barusan bicara dengan nada tinggi, Nona. Saya pikir anda siapa tadi. Oh iya, ayo masuk ke dalam nona. Tuan muda ada di dalam sana."
Nata tidak langsung menjawab. Karena bapak-bapak yang sedang mengajaknya bicara ini sangat membuat dia merasa bingung.
"Mm ... bapak ini siapa ya. Maaf, kalo boleh saya tahu, bapak ini siapanya, Nathan?" Karena tidak ingin merasa penasaran terlalu lama, Nata langsung saja melontarkan pertanyaan pada bapak-bapak tersebut.
Si bapak pun langsung menepuk dahinya dengan pelan. "Oh iya, saya lupa memperkenalkan diri saya pada nona. Maaf nona, maklum sudah berumur."
"Nona, kenalkan, saya pak Yahya. Kepala pelayan di vila ini."
Ya, dia adalah pak Yahya. Kepala pelayan yang sudah dianggap Nathan sebagai keluarga. Jadi, wajar jika dia kenal siapa Nata barusan. Karena Nathan sudah mengatakan dan memperlihatkan foto Nata sebelum dia menikah kemarin.
"Ah, ngomong apa sih, Nona. Bukankah nona ini istri dari tuan muda. Jadi, mana mungkin nona butuh izin untuk masuk ke dalam kediaman ini."
"Pak Yahya!" Belum sempat Nata menjawab apa yang pak Yahya katakan, suara seseorang yang memanggil nama pak Yahya langsung mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ngomong sama siapa bapak di sana?" tanya suara yang sama.
Ternyata, orang yang barusan bicara tidak bisa melihat wajah Nata. Karena orang itu datang dari arah belakang. Tapi, Nata cukup kenal dengan suara itu. Siapa lagi dia kalau bukan ... Niko.
"Ah, mas Niko. Bikin kaget aja, Mas. Ini, saya bicara dengan nona muda." Pak Yahya bicara dengan senyum di bibirnya.
Sementara itu, Niko yang mendengarkan kata nona muda yang pak Yahya sebutkan, sontak langsung memperbesar langkah kaki untuk sampai ke tempat Nata berada. Setelah sampai, sorot mata Niko yang tidak bersahabat pun langsung terlihat ketika melihat ke arah Nata.
"Pak Yahya bisa pergi sekarang. Urusan nona muda, biar saya yang ambil alih. Mm ... kebetulan, tuan muda kita masih belum bagun. Jadi, biar saya yang bicara empat mata dulu dengan nona muda kita ini."
Niko berucap dengan nada agak kesal. Penuh dengan ejekan juga ketika ia menyebutkan kata nona muda. Tentunya, tidak lupa dengan lirikan yang merendahkan Nata.
"Baiklah, Mas Niko. Saya permisi sekarang juga. Nona, saya pergi."
"Iya, pak Yahya."
Setelah pak Yahya pergi. Niko langsung mengajak Nata duduk di kursi yang ada tak jauh dari taman. Di bawah pohon yang rindang tentunya.
"Duduk!" Niko berucap dengan suara agak tinggi.
"Terima kasih." Nata berucap sambil melakukan apa yang Niko katakan. Dia sengaja tidak bicara banyak. Karena dia tahu, Niko pasti sedang marah padanya prihal apa yang telah terjadi tadi malam.
Sementara itu, Niko yang memang sedang marah. Tidak ingin berbasa-basi lagi. Langsung saja dia membuka mulut untuk menanyakan apa yang ingin dia ketahui dari Nata.
"Untuk apa kamu datang ke sini, No- na muda?" Ada penekanan dikata nona muda yang Niko ucapkan. Itu karena Niko tidak benar-benar berniat memanggil Nata dengan panggilan itu.